RADAR KUDUS – Mengeluh adalah hal yang manusiawi. Setiap orang pernah merasa lelah, kecewa, atau tidak puas terhadap keadaan.
Namun, kebiasaan mengeluh secara berlebihan dapat menjadi tanda masalah dalam cara pandang hidup.
Jika keluhan hadir dalam setiap situasi, maka hal itu tidak lagi wajar.
Melainkan menjadi kebiasaan negatif yang dapat memengaruhi orang di sekitarnya.
Orang yang gemar mengeluh cenderung sulit merasa puas. Apa pun keadaannya, selalu ada hal yang dipermasalahkan.
Ketika makanan kurang enak, ia mengeluh. Saat makanan enak, tempatnya dianggap tidak nyaman.
Ketika tempatnya nyaman, pelayanan dianggap kurang ramah.
Bahkan jika semua sudah baik, jarak lokasi pun bisa menjadi bahan keluhan.
Kebiasaan ini menunjukkan pola pikir yang selalu mencari celah kekurangan.
Alih-alih mencari solusi dari masalah, mereka justru mencari masalah dalam setiap solusi.
Energi Negatif yang Menular
Kebiasaan mengeluh berlebihan sering berkaitan dengan kurangnya rasa syukur.
Orang yang terus mengeluh biasanya merasa hidupnya selalu kurang.
Padahal Allah SWT telah mengingatkan dalam Al-Qur’an: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu.” (QS. Ibrahim: 7)
Ayat ini menegaskan bahwa syukur adalah kunci bertambahnya nikmat.
Sebaliknya, kebiasaan mengeluh hanya akan membuat hati semakin sempit dan sulit merasakan kebahagiaan.
Bertemu dengan orang yang selalu mengeluh dapat memengaruhi suasana hati.
Percakapan yang awalnya menyenangkan bisa berubah menjadi penuh keluhan dan pesimisme.
Lingkungan pertemanan seharusnya menjadi tempat untuk saling menguatkan, memberi motivasi, dan membangkitkan semangat.
Namun jika setiap pertemuan dipenuhi keluhan, energi positif perlahan akan terkuras.
Dalam sebuah hadis disebutkan: “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini mengingatkan pentingnya menjaga ucapan agar tidak menebarkan energi negatif.
Menjaga Diri dari Lingkaran Negatif
Menjaga jarak dari orang yang gemar mengeluh bukan berarti membenci.
Hal ini lebih kepada upaya menjaga kesehatan mental dan semangat hidup.
Setiap orang membutuhkan lingkungan yang positif agar tetap optimis dan bersemangat menjalani kehidupan.
Jika terus berada dalam lingkaran keluhan, cara pandang terhadap dunia bisa ikut berubah menjadi negatif.
Dengan demikian, persahabatan yang sehat adalah hubungan yang saling mendukung, saling mendengar, dan saling memberi energi positif.
Waktu yang dimiliki terlalu berharga jika dihabiskan bersama orang yang selalu melihat sisi buruk dari kehidupan.
Karena itu, penting untuk memilih lingkungan yang mampu menumbuhkan rasa syukur.
Serta optimisme, dan semangat dalam menjalani hari-hari. (top)
Editor : Ali Mustofa