RADAR KUDUS – Dalam kehidupan sosial, manusia tidak pernah lepas dari interaksi dengan berbagai karakter.
Ada yang bijak, ada yang rendah hati, ada pula yang keras kepala hingga menolak kebenaran.
Dalam khazanah bahasa Indonesia, sifat tersebut sering disebut dungu,.
Yakni kondisi ketika seseorang bukan sekadar kurang pengetahuan, tetapi enggan menerima kebenaran karena kesombongan yang menguasai hati.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, dungu diartikan sebagai sangat tumpul pikirannya, tidak cerdas, bebal, hingga sok tahu. Dalam bahasa Jawa dikenal dengan istilah kumprung.
Namun dalam pandangan agama, makna dungu jauh lebih dalam.
Bukan sekadar persoalan kecerdasan, melainkan penyakit hati yang menolak kebenaran karena merasa diri paling benar.
Dungu sebagai Penyakit Hati (Ujub)
Dalam perspektif spiritual, kedunguan erat kaitannya dengan penyakit hati bernama ujub.
Ujub berarti rasa kagum berlebihan terhadap diri sendiri.
Seseorang merasa dirinya paling hebat, paling benar, dan tidak membutuhkan nasihat dari siapa pun.
Ciri-ciri orang yang terjangkit ujub antara lain: Selalu merasa benar dan sulit mengakui kesalahan
Anti kritik dan mudah tersinggung saat dinasihati. Meremehkan orang lain dan gemar menjelekkan sesama. Merasa lebih pintar dari siapa pun
Ironisnya, ketika diberi nasihat, ia justru marah. Ia menolak kebenaran bukan karena tidak tahu, tetapi karena tidak mau merendahkan ego.
Inilah bentuk kebodohan yang paling berbahaya: merasa pintar padahal tidak memahami hakikat kebenaran.
Jangan Berdebat dengan Orang Dungu
Kedunguan bisa diibaratkan seperti orang sakit yang memanggil dokter.
Ketika dokter datang membawa obat, ia justru sibuk meragukan khasiat obat tersebut, mempertanyakan semuanya tanpa henti, hingga akhirnya tidak pernah meminum obat itu.
Padahal ia tahu dirinya sakit. Ia tahu dokter ahli. Ia tahu obat itu solusi. Tetapi kesombongan membuatnya menolak pertolongan.
Begitulah orang dungu: tahu keburukan, namun tetap mempertahankannya.
Ulama besar Imam Syafi’i pernah menyampaikan pesan mendalam:
“Aku selalu menang saat berdebat dengan orang berilmu. Tetapi anehnya, saat berdebat dengan orang bodoh, aku selalu kalah.”
Makna ucapan ini sangat dalam. Orang berilmu mencari kebenaran, sedangkan orang dungu hanya ingin menang.
Perdebatan dengan orang dungu tidak pernah menghasilkan kebaikan karena tujuannya bukan mencari kebenaran, melainkan mempertahankan ego.
Al-Qur’an menggambarkan karakter orang dungu sebagai mereka yang merasa melakukan kebaikan padahal sebenarnya membuat kerusakan.
Allah SWT berfirman: “Dan apabila dikatakan kepada mereka: ‘Janganlah kalian membuat kerusakan di muka bumi’, mereka menjawab: ‘Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang mengadakan perbaikan.’” (QS. Al-Baqarah: 11)
Ayat ini menggambarkan betapa berbahayanya kedunguan: seseorang bisa merasa benar meskipun jelas-jelas salah.
Sikap Terbaik Menghadapi Orang Dungu
Lalu bagaimana seharusnya sikap kita? Jawabannya sederhana namun berat: diam dan menjauh.
Bukan karena kita membenci, tetapi karena menjaga diri dari perdebatan yang tidak membawa manfaat.
Energi hidup terlalu berharga untuk dihabiskan dalam konflik yang tidak menghasilkan kebaikan.
Dalam banyak ajaran hikmah disebutkan, meninggalkan perdebatan sia-sia adalah tanda kedewasaan dan kebijaksanaan. (top)
Editor : Ali Mustofa