RADAR KUDUS - Dalam perjalanan hidup manusia, dua perasaan kerap menjadi sumber kegelisahan, yaitu: rasa takut dan rasa sedih.
Hampir seluruh kegundahan, kecemasan, hingga kegalauan berakar dari dua hal tersebut.
Namun Al-Qur’an menghadirkan kabar yang menenangkan, bahwa ada golongan manusia yang dijamin bebas dari rasa takut dan kesedihan.
Mereka adalah orang-orang yang mengikuti petunjuk Allah.
Allah SWT berfirman: “Barang siapa mengikuti petunjuk-Ku, tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.” (QS. Al-Baqarah: 38)
Ayat ini bukan sekadar janji, melainkan jaminan ilahi bagi siapa pun yang menjadikan petunjuk Allah sebagai kompas hidupnya.
Kekasih Allah Hidup Tanpa Cemas
Janji tersebut ditegaskan kembali dalam firman-Nya: “Ingatlah, wali-wali Allah itu tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.” (QS. Yunus: 62)
Para kekasih Allah memiliki ketenangan batin yang tidak mudah goyah.
Jika hati masih dipenuhi kecemasan dan kesedihan berlebihan, itu menjadi tanda bahwa perjalanan menuju kedekatan dengan Allah masih perlu diperbaiki.
Sesungguhnya, semua emosi negatif, mulai cemas, putus asa, khawatir, kecewa, galau, bermuara pada dua akar utama, yaitu takut dan sedih.
Ketika dua akar ini tercabut, maka cabang-cabang kegelisahan pun ikut menghilang.
Sedih di Masa Lalu, Takut pada Masa Depan
Kesedihan sering muncul karena masa lalu. Kenangan pahit, kegagalan, pengkhianatan, atau kesulitan ekonomi yang pernah dialami bisa kembali menyayat hati ketika diingat.
Sementara itu, rasa takut muncul dari bayangan masa depan.
Pikiran manusia kerap dipenuhi pertanyaan yang belum tentu terjadi.
Bagaimana rezeki esok hari, biaya pendidikan anak, kesehatan keluarga, dan berbagai kemungkinan buruk lainnya.
Padahal hidup yang nyata hanya ada pada saat ini.
Jika pikiran terus berayun antara masa lalu dan masa depan, kapan manusia merasakan kebahagiaan?
Hati akan terus berpindah dari kesedihan menuju ketakutan tanpa pernah singgah pada ketenangan.
Fokus pada Hari Ini, Kunci Ketenteraman
Belajar menikmati hari ini adalah salah satu bentuk mengikuti petunjuk Allah. Masa lalu telah pergi dan tidak bisa kembali.
Masa depan belum terjadi dan tidak bisa dipastikan. Yang benar-benar dimiliki manusia hanyalah hari ini.
Ketika seseorang menjalankan tugas hari ini dengan sungguh-sungguh, ia sedang menyiapkan masa depan yang lebih baik tanpa harus dihantui kecemasan berlebihan.
Allah mengingatkan: “Tidak ada seorang pun yang mengetahui apa yang akan dikerjakannya besok.” (QS. Luqman: 34)
Ayat ini mengajarkan bahwa masa depan sepenuhnya berada dalam pengetahuan Allah. Maka, kekhawatiran berlebihan hanyalah beban yang tidak perlu.
Merasa Sendiri adalah Akar Ketakutan
Rasa takut sering muncul ketika manusia merasa sendirian.
Dalam situasi gelap atau mencekam, kehadiran orang lain sering membuat hati lebih tenang.
Namun ketenangan itu sebenarnya hanya bersifat sementara.
Ketenangan sejati muncul ketika seseorang menyadari bahwa ia tidak pernah benar-benar sendiri.
Allah menegaskan kedekatan-Nya: “Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.” (QS. Qaf: 16)
Kedekatan ini bukan sekadar simbolik, melainkan penegasan bahwa Allah selalu hadir dalam setiap detik kehidupan manusia.
Allah juga berfirman: “Tidak ada pembicaraan rahasia antara tiga orang melainkan Dia yang keempatnya.” (QS. Al-Mujadilah: 7)
Artinya, di mana pun manusia berada, Allah selalu menyertai. Kesadaran inilah yang mampu menghapus rasa takut hingga ke akarnya.
Hidup dalam Bimbingan Ilahi
Mengikuti petunjuk Allah berarti menjalankan syariat-Nya dalam seluruh aspek kehidupan.
Ketika seseorang hidup dalam bimbingan ilahi, ia memiliki pegangan yang kokoh.
Ia tidak lagi mudah dilanda kecemasan karena menyadari bahwa segala sesuatu berada dalam pengaturan Allah.
Ketenangan hati bukanlah hasil dari banyaknya harta, kuatnya jabatan, atau ramainya teman.
Ketenangan sejati lahir dari keyakinan bahwa Allah selalu bersama.
Inilah makna ittiba’ul-hudâ: hidup dalam tuntunan Allah sehingga hati terbebas dari rasa takut dan kesedihan. (top)
Editor : Ali Mustofa