Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Sulit Bahagia Lihat Orang Lain Sukses? Waspadai Penyakit Hati Ini

Ali Mustofa • Kamis, 2 April 2026 | 10:47 WIB
Ilustrasi Dengki dan Iri Hati. (Foto: Getty Images/iStockphoto/Prostock-Studio)
Ilustrasi Dengki dan Iri Hati. (Foto: Getty Images/iStockphoto/Prostock-Studio)

RADAR KUDUS – Perjuangan terbesar seorang hamba sejatinya bukan hanya memperbanyak amal.

Melainkan menjaga hati agar setiap amal tetap hidup dan bernilai di hadapan Allah. 

Hati yang bersih akan melahirkan ibadah yang khusyuk dan tulus.

Sedangkan hati yang sakit mampu menghapus pahala secara perlahan tanpa disadari.

Karena itulah para ulama menyebut jihad melawan penyakit hati sebagai jihad terbesar dalam perjalanan spiritual manusia.

Dengan memendekkan angan-angan, bersikap hati-hati dalam setiap langkah, menasihati sesama, serta menumbuhkan tawadhu’, seorang hamba sedang menempuh jalan panjang menuju hati yang selamat.

Salah satu penyakit hati yang paling berbahaya dalam perjalanan ini adalah dengki.

Dengki: Musuh Nikmat yang Menggerogoti Jiwa

Hasad atau dengki merupakan penyakit batin yang sangat merusak.

Bahayanya tidak hanya menimpa orang yang didengki, tetapi justru menghancurkan pelakunya sendiri. 

Dengki membuat hati selalu gelisah, tidak tenang, dan sulit merasakan kebahagiaan.

Dengki adalah keinginan agar nikmat yang diberikan Allah kepada orang lain hilang atau berkurang.

Sikap ini pada hakikatnya menunjukkan ketidakridhaan terhadap ketentuan Allah dalam membagi rezeki, kedudukan, maupun keberkahan.

Allah SWT mengingatkan dalam Al-Qur’an: “Apakah mereka dengki kepada manusia atas karunia yang telah Allah berikan kepadanya?” (QS. An-Nisa: 54)

Ayat ini menjadi peringatan bahwa dengki bukan sekadar persoalan perasaan, melainkan sikap yang bertentangan dengan keimanan dan keridhaan terhadap takdir Allah.

Para ulama menggambarkan dengki sebagai api yang membakar amal kebaikan.

Hati yang dipenuhi hasad sulit merasakan syukur, sulit menerima keberhasilan orang lain, dan selalu dipenuhi perasaan tidak puas.

Akibatnya, pelaku dengki hidup dalam kegelisahan yang tidak berujung.

Ia terus membandingkan diri dengan orang lain, merasa tertinggal, dan sulit menikmati nikmat yang sebenarnya telah Allah berikan kepadanya.

Dengki tidak memberikan manfaat apa pun. Ia hanya menambah beban dosa sekaligus mengikis pahala.

Dampak Dengki dalam Kehidupan

Penyakit hati berupa dengki atau hasad menimbulkan konsekuensi yang sangat merugikan bagi pelakunya.

Orang yang terus memelihara rasa dengki akan merasakan kegelisahan yang tiada henti dan hati yang sulit menemukan ketenangan.

Dalam kondisi seperti ini, rasa syukur terhadap nikmat Allah pun semakin menipis, bahkan bisa hilang sama sekali.

Tidak hanya berdampak pada diri sendiri, dengki juga merusak hubungan dengan sesama.

Persahabatan dan ikatan sosial menjadi renggang karena hati selalu menaruh iri terhadap keberhasilan atau nikmat yang dimiliki orang lain.

Lebih dari itu, amal-amal kebaikan yang dilakukan pun bisa kehilangan keberkahan.

Karena hati yang gelisah dan penuh hasad tidak mampu menyalurkan ibadah dengan tulus.

Semakin lama seseorang membiarkan dengki bertengger di hatinya, semakin sempit pula ruang bagi kebaikan untuk masuk.

Hati menjadi tertutup, tidak mampu menerima nikmat yang diberikan Allah, bahkan untuk dirinya sendiri.

Sebaliknya, obat dari penyakit ini adalah menumbuhkan keinginan untuk menasihati dan mendoakan kebaikan bagi sesama.

Saat seseorang mampu mendoakan agar nikmat dan keberkahan senantiasa ada pada orang lain, hatinya akan terbuka, lapang, dan merasakan kedamaian yang sejati.

Mencintai kebaikan bagi saudara seiman bukan sekadar membersihkan hati dari hasad, tetapi juga menumbuhkan rasa syukur atas segala nikmat yang Allah berikan.

Dengan demikian, hati yang bebas dari dengki menjadi tempat lahirnya ketenangan, amal kembali bernilai, dan perjalanan spiritual menjadi lebih mulus.

Belajar Ridha terhadap Ketentuan Allah

Pada akhirnya, melawan dengki berarti belajar ridha terhadap ketetapan Allah.

Setiap manusia memiliki jalan hidup, rezeki, dan ujian yang berbeda. 

Ketika seseorang menerima hal ini dengan lapang dada, hatinya akan terbebas dari beban perbandingan.

Dari sinilah lahir ketenangan yang sesungguhnya.

Hati menjadi lebih bersih, amal menjadi lebih tulus, dan perjalanan menuju Allah terasa lebih ringan.

Menjaga hati dari dengki berarti menjaga amal tetap bernilai.

Dan di situlah seorang hamba mulai menapaki jalan menuju hati yang selamat dan diridhai Allah. (top)

Editor : Ali Mustofa
#Kehidupan #dengki #hasad #manusia #ibadah