Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Banyak Orang Tak Menyadari, Ini Penghancur Amal Paling Berbahaya

Ali Mustofa • Rabu, 1 April 2026 | 16:29 WIB
Ilustrasi iri hati (istock)
Ilustrasi iri hati (istock)

RADAR KUDUS – Perjalanan menuju ketakwaan tidak hanya diwarnai oleh ibadah dan amal kebaikan.

Lebih dari itu, seorang hamba dituntut membersihkan hatinya dari penyakit batin yang dapat merusak amal tanpa disadari.

Di antara penyakit hati yang paling berbahaya adalah dengki dan kesombongan.

Keduanya ibarat racun yang pelan namun pasti menghancurkan pahala serta menggelapkan jiwa.

Takwa sejatinya bukan sekadar rutinitas ibadah, tetapi perjalanan panjang menata hati, menjaga amal.

Serta mengendalikan diri dari penyakit jiwa yang merusak hubungan seorang hamba dengan Tuhannya.

Dengki: Api yang Membakar Amal

Dengki adalah keinginan agar nikmat yang dimiliki orang lain hilang.

Penyakit ini sering tumbuh diam-diam di dalam hati, namun dampaknya sangat besar. 

Ia mengikis pahala, memicu kebencian, serta menjauhkan seseorang dari ketenangan batin.

Orang yang dipenuhi dengki sulit merasakan kebahagiaan, karena hatinya selalu sibuk membandingkan diri dengan orang lain.

Padahal, lawan dari dengki adalah sikap memberi nasihat, mendoakan kebaikan, serta ikut bergembira atas nikmat yang diberikan Allah kepada sesama.

Para ulama menasihatkan bahwa cara meredam dengki adalah dengan mengingat kebesaran Allah dan keluasan takdir-Nya.

Segala nikmat yang diberikan kepada manusia merupakan ketetapan yang penuh hikmah.

Mengingat kemuliaan pahala di akhirat serta manfaat kebaikan di dunia akan membantu hati menumbuhkan rasa syukur dan ridha.

Sombong: Penyakit yang Menjatuhkan Iblis

Jika dengki merusak hubungan antar manusia, maka kesombongan merusak hubungan seorang hamba dengan Tuhannya.

Kesombongan adalah sikap meninggikan diri dan menolak kebenaran.

Allah SWT mengingatkan dalam firman-Nya: “Iblis membangkang dan menyombongkan diri, dan ia termasuk golongan kafir.” (QS. Al-Baqarah: 34)

Ayat ini menjadi peringatan bahwa kesombongan adalah sebab kehancuran makhluk yang dahulu dikenal sebagai ahli ibadah.

Kesombongan membuat seseorang menolak kebenaran, merasa diri lebih baik, serta meremehkan orang lain.

Tawadhu: Penawar Kesombongan

Lawan dari kesombongan adalah tawadhu, yaitu kerendahan hati.

Tawadhu bukan berarti merendahkan diri secara berlebihan.

Melainkan menyadari hakikat manusia sebagai makhluk lemah yang berasal dari tanah dan akan kembali menjadi tanah.

Bagi orang awam, tawadhu tampak dalam kesederhanaan hidup dan sikap merasa cukup.

Sedangkan bagi kalangan yang lebih mendalam ilmunya, tawadhu berarti kesiapan menerima kebenaran dari siapa pun, tanpa memandang status atau kedudukan.

Cara menjaga tawadhu adalah dengan mengingat asal-usul manusia, tujuan akhir kehidupannya, serta beratnya pertanggungjawaban di hadapan Allah.

Kesadaran ini akan menundukkan ego dan melembutkan hati.

Menjaga Hati, Menjaga Keselamatan

Dengki dan kesombongan adalah dua penyakit hati yang dapat merusak amal meski seseorang tampak taat secara lahir.

Karena itu, menjaga hati menjadi bagian penting dalam perjalanan takwa.

Ketika seorang hamba mampu membersihkan hatinya, menjaga amalnya, serta mengendalikan diri dari penyakit jiwa, maka ia telah melangkah di jalan keselamatan yang hakiki.

Pada akhirnya, takwa bukan sekadar konsep spiritual, melainkan jalan hidup yang mengantarkan manusia menuju ridha Allah dan kebahagiaan yang abadi. (top)Top of Form

Bottom of Form

Editor : Ali Mustofa
#tawadhu #sombong #dengki #hati #kesombongan