Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Dua Bentuk Keburukan yang Sering Tak Disadari dalam Perjalanan Takwa

Ali Mustofa • Rabu, 1 April 2026 | 16:09 WIB
Ilustrasi air mata taubat (interest)
Ilustrasi air mata taubat (interest)

RADAR KUDUS – Perjalanan menuju ketakwaan tidak hanya menuntut seseorang melakukan kebaikan, tetapi juga menuntut kemampuan menjauhi keburukan.

Para ulama menjelaskan bahwa keburukan yang harus dihindari manusia tidak hanya satu jenis.

Ada keburukan yang jelas-jelas haram, dan ada pula keburukan yang bersifat etis.

Yakni sikap berlebihan terhadap sesuatu yang sebenarnya halal.

Memahami perbedaan keduanya menjadi kunci untuk menapaki tangga takwa secara utuh.

Keburukan Murni: Maksiat yang Wajib Ditinggalkan

Jenis keburukan pertama adalah keburukan yang bersifat asli atau murni.

Ini mencakup segala hal yang secara tegas dilarang dalam syariat, seperti perbuatan maksiat dan pelanggaran yang jelas hukumnya haram.

Menjauhi keburukan jenis ini merupakan kewajiban mutlak bagi setiap muslim.

Allah SWT berfirman: “Dan janganlah kamu mendekati perbuatan keji, baik yang tampak maupun yang tersembunyi.” (QS. Al-An’am: 151)

Menjauhi dosa-dosa yang nyata merupakan bentuk takwa pada tingkat dasar yang bersifat fardhu.

Siapa pun yang mengabaikannya akan berhadapan dengan ancaman siksa.

Karena itu, meninggalkan maksiat adalah fondasi pertama bagi seseorang untuk disebut sebagai hamba yang istiqamah dalam ketaatan.

Keburukan Etis: Berlebihan dalam Hal yang Halal

Jenis keburukan kedua lebih halus dan sering kali tidak disadari, yakni sikap berlebihan dalam menikmati hal-hal yang sebenarnya halal.

Contohnya adalah kerakusan terhadap harta, makanan, atau kesenangan dunia.

Secara hukum, hal-hal tersebut diperbolehkan, namun sikap berlebihan dapat menyeret hati pada kelalaian.

Allah SWT mengingatkan: “Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan.” (QS. Al-A’raf: 31)

Menjauhi sikap berlebihan merupakan tingkat takwa yang lebih tinggi.

Jika menjauhi maksiat menjadikan seseorang berada di derajat istiqamah, maka meninggalkan sikap berlebih-lebihan mengantarkannya pada derajat keluhuran.

Ketika keduanya berhasil dijaga, seorang hamba telah menyempurnakan makna takwa yang melahirkan sifat warak.

Yaitu kehati-hatian dalam menjaga diri dari segala yang meragukan.

Menyempurnakan Takwa dengan Warak

Para ulama menegaskan bahwa gabungan antara menjauhi maksiat dan meninggalkan sikap berlebihan akan melahirkan kesempurnaan takwa.

Inilah tingkat kehati-hatian yang menjadikan seorang hamba sangat menjaga hubungannya dengan Allah, bahkan dari perkara yang tampak sepele.

Nabi Muhammad SAW bersabda: “Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas, dan di antara keduanya ada perkara yang samar.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menegaskan pentingnya sikap berhati-hati agar tidak terjerumus ke dalam hal yang dilarang.

Lima Anggota Tubuh yang Wajib Dijaga

Takwa tidak hanya berada dalam hati. Ia harus tercermin dalam perilaku sehari-hari melalui penjagaan anggota tubuh.

Para ulama menyebutkan lima anggota utama yang wajib dijaga oleh orang yang ingin menyempurnakan ketakwaannya.

Pertama, menjaga mata. Mata harus dijauhkan dari pandangan yang diharamkan.

Allah SWT berfirman: “Katakanlah kepada orang-orang beriman agar mereka menundukkan pandangannya.” (QS. An-Nur: 30)

Kedua, menjaga telinga. Telinga dijaga dari mendengar hal-hal yang membawa pada dosa, seperti ghibah dan fitnah.

Baca Juga: Tiga Tangga Menuju Takwa yang Hakiki: Dari Taubat hingga Menjauhi Maksiat

Ketiga, menjaga lisan. Ucapan menjadi cermin hati. Lisan yang terjaga akan menjauhkan dari dusta, celaan, dan perkataan sia-sia.

Allah SWT berfirman: “Tidaklah suatu kata diucapkan melainkan ada malaikat yang mencatat.” (QS. Qaf: 18)

Keempat, menjaga perut. Perut dijaga dari makanan haram dan dari sikap berlebihan dalam mengonsumsi yang halal.

Kelima, menjaga hati. Hati harus dibersihkan dari riya, dengki, dan kesombongan, adalah penyakit batin yang merusak amal.

Dengan demikian, ketika seorang hamba mampu menjaga dirinya dari maksiat, menahan diri dari sikap berlebihan, serta memelihara anggota tubuhnya dari dosa, maka ia telah menapaki jalan takwa secara menyeluruh.

Takwa bukan sekadar konsep spiritual, melainkan disiplin hidup yang melibatkan hati, pikiran, dan seluruh anggota badan.

Perjalanan ini memang panjang, namun setiap langkahnya membawa manusia semakin dekat kepada ridha Allah dan keselamatan yang hakiki. (top)

Top of Form

Bottom of Form

 

Editor : Ali Mustofa
#etis #maksiat #keburukan #takwa #manusia