Sebagian menganggapnya sebagai bentuk disiplin yang wajar, sementara yang lain menilainya sebagai tindakan yang berlebihan.
Dalam perspektif Islam, persoalan ini perlu dilihat secara utuh: dari sisi syariat, ilmu kesehatan, hingga pendekatan kasih sayang dalam mendidik anak.
Tulisan ini tidak bermaksud membenarkan kekerasan.
Melainkan meluruskan pemahaman bahwa setiap tindakan dalam pendidikan anak harus dilandasi kasih sayang, hikmah, dan tujuan kebaikan.
Telinga dalam Syariat Wudhu
Dalam tata cara wudhu, telinga memiliki kedudukan yang unik.
Setelah mengusap kepala dari depan hingga tengkuk, Rasulullah SAW mencontohkan untuk melanjutkan dengan mengusap telinga.
Cara yang diajarkan adalah memasukkan jari telunjuk ke bagian dalam telinga, sementara ibu jari mengusap bagian luar telinga dari bawah ke atas.
Menariknya, gerakan ini dilakukan hanya satu kali.
Hal ini menunjukkan bahwa telinga bukan sekadar organ pendengaran, tetapi juga bagian tubuh yang mendapat perhatian khusus dalam syariat.
Setiap gerakan wudhu bukan hanya ibadah, tetapi juga memiliki hikmah kesehatan.
Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah itu Maha Lembut dan menyukai kelembutan dalam segala perkara.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menjadi pengingat bahwa segala tindakan, termasuk dalam mendidik anak, harus dilakukan dengan kelembutan.
Perspektif Ilmu Kesehatan: Telinga sebagai Miniatur Tubuh
Dalam ilmu akupunktur, telinga dikenal sebagai representasi tubuh manusia.
Bentuk telinga menyerupai janin yang sedang meringkuk di dalam rahim.
Bagian atas telinga diibaratkan kepala, sedangkan bagian bawah menggambarkan area tubuh lainnya.
Stimulasi ringan pada telinga diyakini mampu memengaruhi fungsi organ dalam.
Tidak heran jika gerakan mengusap telinga saat wudhu memiliki manfaat kesehatan yang tidak disadari banyak orang.
Artinya, sentuhan lembut pada telinga dapat menjadi stimulasi positif bagi tubuh, asalkan dilakukan dengan cara yang benar dan tidak menyakitkan.
Brain Gym dan Stimulasi Konsentrasi Anak
Ilmu Brain Gym juga mengenal latihan yang disebut “ear activation” atau stimulasi telinga.
Metodenya sederhana: telinga digosok perlahan hingga terasa hangat dan kemerahan.
Tujuannya adalah meningkatkan fokus, konsentrasi, serta kemampuan belajar anak.
Beberapa praktisi pendidikan menggunakan teknik ini sebelum proses belajar dimulai.
Hasilnya, anak menjadi lebih siap menerima pelajaran dan daya serapnya meningkat.
Dari sini dapat dipahami bahwa sentuhan ringan pada telinga sebenarnya memiliki manfaat edukatif, bukan untuk melampiaskan emosi.
Batasan dalam Islam: Mendidik Tanpa Kekerasan
Islam menegaskan bahwa pendidikan anak harus dilandasi kasih sayang. Rasulullah SAW tidak pernah mendidik dengan kemarahan yang meluap-luap.
Allah SWT berfirman: “Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kasih sayang.” (QS. Al-Isra: 24)
Ayat ini menegaskan bahwa hubungan orang tua dan anak harus dibangun dengan cinta, bukan dengan amarah.
Jika pun ada bentuk teguran fisik ringan dalam pendidikan, Islam memberikan batasan yang sangat ketat:
Tidak dilakukan dalam keadaan marah. Tidak menimbulkan rasa sakit.
Tidak melukai atau merendahkan anak. Dan bertujuan mendidik, bukan melampiaskan emosi.
Menjewer dengan keras hingga menyakitkan jelas bertentangan dengan prinsip kasih sayang dalam Islam.
Menjewer yang Edukatif vs Menjewer karena Emosi
Perlu dibedakan antara sentuhan edukatif dan tindakan yang lahir dari kemarahan.
Sentuhan ringan yang bertujuan mengingatkan, dilakukan dengan lembut, dan penuh kasih sayang tentu berbeda dengan jeweran keras yang menyakitkan.
Jika dilakukan dengan emosi, dampaknya justru kontraproduktif: Anak merasa takut, bukan belajar.
Hubungan emosional menjadi renggang. Anak menyimpan trauma
Sebaliknya, pendekatan lembut membuat anak merasa dihargai dan lebih mudah menerima nasihat.
Rasulullah SAW bersabda: “Bukanlah kelembutan itu ada pada sesuatu kecuali akan menghiasinya.” (HR. Muslim)
Pada akhirnya, mendidik anak adalah amanah besar dari Allah SWT. Setiap tindakan orang tua akan menjadi jejak dalam kehidupan anak di masa depan.
Sentuhan pada telinga yang dilakukan dengan lembut dapat menjadi stimulasi positif.
Namun, tindakan keras yang lahir dari amarah justru bertentangan dengan ajaran Islam.
Islam mengajarkan bahwa pendidikan terbaik bukanlah yang paling keras, tetapi yang paling penuh kasih sayang.
Dengan kelembutan, anak tumbuh dengan rasa aman, percaya diri, dan siap menghadapi masa depan.
Karena itu, pertanyaan “bolehkah menjewer telinga anak?” seharusnya dijawab dengan bijak:
Bukan soal boleh atau tidak, tetapi bagaimana cara mendidik anak dengan kasih sayang, hikmah, dan kelembutan sesuai tuntunan Islam. (top)
Editor : Ali Mustofa