Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Hidup Itu Mudah, Gengsi yang Membuatnya Jadi Sulit

Ali Mustofa • 2026-03-24 15:51:05
Ilustrasi gaya hidup. (FREPIK)
Ilustrasi gaya hidup. (FREPIK)

RADAR KUDUS – Kehidupan modern sering kali menampilkan wajah yang serba indah dan memikat.

Kemajuan teknologi, kemudahan akses informasi, serta gaya hidup yang dipertontonkan di berbagai platform membuat banyak orang terpesona.

Namun di balik itu semua, terselip satu penyakit hati yang kerap tidak disadari: gengsi.

Gengsi perlahan mengubah cara pandang manusia terhadap hidup. Apa yang awalnya sederhana, menjadi terasa rumit.

Apa yang seharusnya cukup, menjadi terasa kurang. Semua karena dorongan untuk terlihat lebih dari kenyataan.

Gengsi sering kali membuat seseorang memaksakan diri untuk memiliki sesuatu di luar kemampuannya.

Demi menjaga citra, tidak sedikit orang rela berutang, menipu diri sendiri, bahkan melanggar batas syariat.

Padahal, hidup sejatinya tidak serumit itu. Justru gengsilah yang membuatnya menjadi berat.

Ketika seseorang terus membandingkan diri dengan orang lain, maka hatinya tidak akan pernah merasa tenang.

Seorang ulama, Ubay bin Ka’ab rahimahullah, pernah mengingatkan bahwa orang yang selalu melihat apa yang dimiliki orang lain akan hidup dalam kesedihan.

Sebab, ia tidak pernah merasa cukup dengan apa yang telah Allah berikan.

Ambisi dan Gengsi: Dua Hal yang Berbeda

Islam mengajarkan bahwa kebahagiaan tidak terletak pada kemewahan, tetapi pada ketenangan hati dan keberkahan hidup.

Allah SWT berfirman: “Barang siapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik...” (QS. An-Nahl: 97)

Ayat ini menegaskan bahwa kehidupan yang baik tidak selalu identik dengan kekayaan.

Bahkan orang yang sederhana bisa merasakan kebahagiaan sejati jika hatinya dipenuhi iman dan rasa syukur.

Sebaliknya, mereka yang hidup dalam ambisi tanpa batas justru sering diliputi kegelisahan, meskipun memiliki banyak harta.

Tidak sedikit orang keliru memahami antara semangat hidup dan ambisi yang berlebihan.

Semangat bekerja adalah hal yang dianjurkan, tetapi ambisi yang didorong oleh gengsi justru bisa menjerumuskan.

Allah SWT mengingatkan: “Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia...” (QS. Al-Qasas: 77)

Ayat ini mengajarkan keseimbangan. Dunia boleh dikejar, tetapi tidak boleh menjadi tujuan utama hingga melupakan akhirat.

Gengsi sering kali membuat seseorang melampaui batas, bahkan menghalalkan segala cara demi terlihat berhasil.

Gengsi Bukan Harga Diri

Banyak orang mengira bahwa gengsi adalah simbol kehormatan. Padahal, gengsi dan harga diri adalah dua hal yang sangat berbeda.

Gengsi lahir dari keinginan untuk diakui oleh manusia. Sementara harga diri tumbuh dari kesadaran diri dan kejujuran terhadap keadaan.

Orang yang mengejar gengsi cenderung sibuk membangun citra. Ia ingin terlihat kaya, sukses, atau bahagia, meski kenyataannya tidak demikian.

Inilah yang sering melahirkan kehidupan semu, yaitu tampak indah di luar, namun rapuh di dalam.

Gengsi tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga bisa merusak kehidupan sosial dan keluarga.

Banyak kasus menunjukkan bagaimana gengsi mendorong seseorang menjadi hidup boros demi gaya.

Memaksakan pembelian barang mewah, mengabaikan kebutuhan pokok, bahkan terjerumus pada utang dan konflik keluarga

Lebih jauh lagi, gengsi bisa mengikis rasa syukur. Padahal, syukur adalah kunci kebahagiaan dalam hidup.

Belajar Hidup Apa Adanya

Hidup tanpa gengsi bukan berarti hidup tanpa tujuan. Justru, itu adalah bentuk kejujuran terhadap diri sendiri.

Ketika seseorang mampu menerima keadaannya, ia akan lebih fokus memperbaiki diri daripada sibuk membandingkan diri dengan orang lain.

Ia juga lebih mudah bersyukur dan menikmati setiap proses kehidupan.

Hidup sederhana bukan tanda kegagalan, melainkan bentuk kebijaksanaan dalam menyikapi dunia.

Pada akhirnya, hidup ini tidak ditentukan oleh seberapa tinggi gengsi seseorang, tetapi seberapa dekat ia dengan Allah SWT.

Gengsi hanya akan menambah beban, sementara kesederhanaan justru membawa ketenangan.

Apa yang terlihat “wah” di mata manusia belum tentu bernilai di sisi Allah.

Maka, sudah saatnya kita bertanya pada diri sendiri: apakah kita hidup untuk terlihat hebat di mata manusia, atau untuk meraih ridha Allah SWT?

Karena sejatinya, hidup itu sederhana. Yang membuatnya rumit adalah gengsi yang tidak pernah selesai. (top)

Editor : Ali Mustofa
#hidup boros #Gengsi #Allah SWT #manusia