RADAR KUDUS – Fenomena pengangguran di tengah masyarakat sering kali tidak semata-mata karena kurangnya lapangan pekerjaan.
Di balik itu, ada faktor lain yang kerap luput disadari, yaitu gengsi.
Tidak sedikit, khususnya kalangan terdidik, enggan mengambil pekerjaan yang dianggap “tidak selevel”, meski pekerjaan tersebut halal dan mampu mencukupi kebutuhan hidup.
Sikap ini perlahan membentuk pola pikir yang keliru.
Lebih memilih menunggu pekerjaan “ideal” daripada bergerak, bahkan jika itu berarti bergantung pada orang lain.
Padahal, dalam pandangan Islam, bekerja adalah bentuk kemuliaan, bukan sekadar aktivitas mencari penghasilan.
Kemuliaan Bekerja dalam Pandangan Islam
Dalam ajaran Islam, setiap usaha yang halal memiliki nilai tinggi di sisi Allah SWT.
Tidak ada pekerjaan yang hina selama dilakukan dengan cara yang benar dan penuh tanggung jawab.
Kisah seorang sahabat yang merasa malu karena tangannya kasar akibat bekerja keras menjadi pelajaran berharga.
Ketika Rasulullah SAW mengetahui hal itu, beliau justru mengambil tangan tersebut dan menciumnya, seraya bersabda bahwa tangan seperti itu tidak akan disentuh api neraka.
Peristiwa ini menunjukkan bahwa Islam sangat menghargai kerja keras dan kemandirian.
Bahkan Rasulullah SAW menegaskan: “Tidaklah seseorang makan makanan yang lebih baik daripada hasil kerja tangannya sendiri.” (HR. Bukhari)
Bekerja bukan sekadar mencari nafkah, tetapi juga bagian dari ibadah yang mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Bahaya Gengsi: Menganggur karena Pilihan
Sikap gengsi sering kali membuat seseorang menolak pekerjaan yang sebenarnya layak.
Ia merasa tidak pantas melakukan pekerjaan tertentu karena latar belakang pendidikan atau status sosial.
Padahal, menganggur bukanlah pilihan yang dianjurkan dalam Islam.
Rasulullah SAW mengingatkan: “Yang paling aku khawatirkan atas umatku adalah banyak makan, banyak tidur, dan malas bekerja.” (HR. At-Tirmidzi)
Kemalasan dan pengangguran dapat mengeraskan hati serta menjauhkan seseorang dari keberkahan hidup.
Bahkan para sahabat pun memandang rendah sikap berpangku tangan tanpa usaha.
Diriwayatkan dari Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu, bahwa beliau tidak menyukai orang yang tidak memiliki pekerjaan.
Hal ini menunjukkan bahwa bekerja adalah bagian dari kehormatan seorang manusia.
Dampak Buruk Pengangguran
Jika menengok sejarah, para nabi dan rasul adalah sosok pekerja keras.
Mereka tidak hidup dalam kemewahan tanpa usaha, melainkan menjalani profesi dengan penuh kesungguhan.
Nabi Adam AS dikenal sebagai petani, Nabi Nuh AS sebagai pembuat kapal, Nabi Musa AS sebagai penggembala, dan Nabi Muhammad SAW sebagai pedagang sekaligus penggembala.
Semua menunjukkan bahwa bekerja adalah bagian dari sunnah para nabi.
Ini menjadi pelajaran penting bahwa tidak ada alasan untuk merasa gengsi terhadap pekerjaan halal.
Menganggur bukan hanya berdampak pada ekonomi, tetapi juga kesehatan mental dan sosial.
Seseorang yang tidak memiliki aktivitas produktif cenderung mengalami tekanan batin, kehilangan rasa percaya diri, hingga terjerumus pada perilaku negatif.
Dalam lingkup keluarga, pengangguran bisa memicu konflik, bahkan mengabaikan tanggung jawab memberi nafkah.
Rasulullah SAW bersabda: “Seseorang cukup dikatakan berdosa jika ia menyia-nyiakan orang yang menjadi tanggungannya.” (HR. Abu Dawud)
Hadis ini menjadi peringatan bahwa menafkahi keluarga bukan pilihan, melainkan kewajiban yang tidak boleh diabaikan.
Perintah Berusaha dan Memberi Nafkah
Islam menegaskan bahwa setiap manusia harus berusaha sesuai kemampuannya.
Tidak ada tuntutan untuk menjadi kaya, tetapi ada kewajiban untuk berikhtiar.
Allah SWT berfirman: “Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya...” (QS. Ath-Thalaq: 7)
Ayat ini menegaskan bahwa ukuran nafkah bukan pada jumlahnya, melainkan pada usaha maksimal yang dilakukan.
Selain itu, Allah juga memerintahkan manusia untuk bekerja.
Artinya: “Dan katakanlah: Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu...” (QS. At-Taubah: 105)
Perintah ini menunjukkan bahwa kerja adalah bagian dari tanggung jawab manusia sebagai makhluk yang diberi potensi oleh Allah SWT.
Mengalahkan Gengsi, Menjemput Rezeki
Dengan demikian, gengsi hanyalah ilusi yang bisa menjerat seseorang dalam kemalasan.
Sementara kerja keras, sekecil apa pun, adalah jalan menuju kemuliaan.
Hidup tidak menuntut seseorang untuk selalu berada di posisi tinggi, tetapi menuntut kesungguhan dalam menjalani peran.
Tidak ada pekerjaan hina, yang ada hanyalah sikap yang menghinakan diri sendiri karena enggan berusaha.
Maka, daripada menunggu kesempatan yang belum tentu datang, lebih baik melangkah dengan apa yang ada.
Sebab rezeki tidak datang kepada mereka yang hanya menunggu, tetapi kepada mereka yang berani berusaha.
Dengan niat yang lurus, kerja yang halal, dan hati yang ikhlas, setiap langkah mencari nafkah akan bernilai ibadah di sisi Allah SWT. (top)
Editor : Ali Mustofa