RADAR KUDUS - Menjelang berakhirnya bulan Ramadan, umat Islam memasuki fase paling emosional dalam perjalanan spiritual tahunan.
Bukan sekadar perpisahan dengan bulan penuh berkah, tetapi juga momen refleksi: apakah ibadah selama sebulan diterima, dan apakah masih diberi kesempatan bertemu Ramadan berikutnya.
Dalam tradisi Islam, hari terakhir Ramadan bukan hanya penutup, melainkan momentum memperbanyak doa. Hal ini didasarkan pada berbagai riwayat hadis dan praktik para ulama yang menekankan pentingnya memohon ampunan sekaligus harapan umur panjang dalam kebaikan.
Doa di Hari Terakhir Ramadan yang Bersumber dari Hadis
Salah satu doa yang populer dan memiliki dasar riwayat adalah doa yang diriwayatkan dari sahabat Nabi, Jabir bin Abdullah. Dalam hadis tersebut disebutkan bahwa siapa yang membaca doa di akhir Ramadan akan memperoleh dua kemungkinan besar: mendapatkan ampunan atau dipertemukan kembali dengan Ramadan berikutnya.
Berikut bacaan doanya:
Arab: اللَّهُمَّ لاَ تَجْعَلْهُ آخِرَ الْعَهْدِ مِنْ صِيَامِنَا إِيَّاهُ، فَإِنْ جَعَلْتَهُ فَاجْعَلْنِيْ مَرْحُوْمًا وَ لاَ تَجْعَلْنِيْ مَحْرُوْمًا
Latin: Allahumma laa taj’alhu aakhiril ‘ahdi min shiyaaminaa iyyaahu, fa in ja’altahu faj’alnii marhuuman wa laa taj’alnii mahruuman.
Artinya: “Ya Allah, jangan Engkau jadikan ini sebagai Ramadan terakhir dalam hidupku. Jika Engkau menentukannya, maka jadikan aku termasuk orang yang Engkau rahmati dan jangan jadikan aku orang yang terhalang dari rahmat-Mu.”
Doa ini mencerminkan dua hal penting: rasa takut kehilangan kesempatan beribadah dan harapan besar akan umur yang penuh keberkahan.
Makna Spiritual: Antara Harap dan Cemas
Secara teologis, doa di penghujung Ramadan mengandung konsep khauf (takut) dan raja’ (harap). Umat Islam tidak hanya berharap pahala, tetapi juga khawatir amalnya belum maksimal.
Rasulullah SAW sendiri diketahui semakin meningkatkan ibadah di 10 hari terakhir Ramadan, bahkan melebihi hari-hari sebelumnya. Ini menjadi indikator bahwa akhir Ramadan adalah fase krusial untuk “mengunci” kualitas ibadah.
Doa Penutup Ramadan Lain yang Dianjurkan Ulama
Selain doa di atas, terdapat doa lain yang biasa dibaca setelah Ashar di hari terakhir Ramadan:
Arab: اللهم اختم رمضان لنا ولكم بالقبول...
Artinya (ringkas): “Ya Allah, tutuplah Ramadan ini dengan penerimaan amal, jadikan puasa sebagai penyuci, dan ibadah kami sebagai penghapus dosa.”
Doa ini menekankan aspek penerimaan amal (maqbul), yang menjadi tujuan utama setiap ibadah.
Doa Agar Dipertemukan dengan Ramadan Berikutnya
Harapan untuk kembali bertemu Ramadan juga diajarkan dalam doa yang sering dibaca sejak bulan Rajab dan Sya’ban:
Arab: اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَجَبَ وَ شَعْبَانَ وَ بَلِّغْنَا رَمَضَانَ
Artinya: “Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban, dan sampaikanlah kami kepada bulan Ramadan.”
Doa ini menunjukkan bahwa bertemu Ramadan adalah nikmat besar yang tidak semua orang dapatkan.
Kenapa Doa di Akhir Ramadan Sangat Penting?
Ada beberapa alasan berbasis dalil dan praktik ulama:
-
Waktu Mustajab Doa
Ramadan adalah bulan penuh rahmat, dan penghujungnya termasuk waktu terbaik untuk berdoa. -
Momentum Evaluasi Ibadah
Umat Islam dianjurkan mengevaluasi diri dan memohon agar amal diterima. -
Harapan Umur dalam Ketaatan
Meminta dipertemukan kembali dengan Ramadan berarti berharap hidup dalam iman. -
Mengikuti Sunnah Nabi
Rasulullah memperbanyak doa dan ibadah di akhir Ramadan sebagai bentuk kesungguhan.
Amalan Pendukung Selain Doa
Selain berdoa, umat Islam juga dianjurkan melakukan amalan lain di akhir Ramadan, seperti:
- I’tikaf di masjid
- Memperbanyak membaca Al-Qur’an
- Qiyamul lail (salat malam)
- Sedekah
Amalan ini memperkuat peluang diterimanya doa dan ibadah secara keseluruhan.
Hari terakhir Ramadan bukan akhir dari segalanya. Justru, di situlah awal harapan baru dimulai—harap agar amal diterima, dosa diampuni, dan umur dipanjangkan dalam ketaatan.
Doa menjadi jembatan antara Ramadan yang berlalu dan Ramadan yang akan datang. Sebab bagi seorang mukmin, keberhasilan bukan hanya menyelesaikan puasa, tetapi juga dipertemukan kembali dengan kesempatan yang sama di tahun berikutnya.
Editor : Mahendra Aditya