Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Rahasia Tasbih Alam: Mengapa Manusia Tak Mampu Mendengarnya?

Ali Mustofa • 2026-03-19 13:11:17
Ilustrasi galaksi andromeda (Foto: NASA)
Ilustrasi galaksi andromeda (Foto: NASA)

RADAR KUDUS – Hamparan alam semesta yang demikian luas sejatinya bukan sekadar ruang tanpa makna.

Di balik langit yang menjulang dan bumi yang terbentang, tersimpan jejak-jejak keagungan Allah SWT, Dzat Yang Maha Mengetahui segala yang tampak maupun tersembunyi.

Setiap unsur kehidupan, baik yang terlihat oleh mata maupun yang luput dari jangkauan indra, bergerak dalam keteraturan yang memuji dan mengagungkan-Nya.

Manusia mungkin hanya mampu menangkap sebagian kecil dari fenomena itu.

Namun hakikatnya, seluruh ciptaan berada dalam satu kesatuan harmoni yang senantiasa bertasbih kepada Sang Pencipta, meski bahasa tasbih tersebut tidak dapat dipahami oleh manusia.

Sebagaimana firman Allah SWT: “Tujuh langit, bumi, dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tidak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Isra’ [17]: 44).

Simfoni Semesta dalam Dzikir yang Tak Terlihat

Jika ditelusuri lebih dalam, alam ini bukanlah sekadar kumpulan materi yang diam. Ia ibarat simfoni besar yang terus bergema dalam dzikir kepada Allah.

Setiap gerak, setiap perubahan, hingga setiap getaran di jagat raya adalah bagian dari irama pujian kepada-Nya.

Langit yang tampak kokoh pun digambarkan hampir terbelah karena keagungan Allah.

Di sisi lain, para malaikat tidak pernah berhenti memuji-Nya, seraya memohonkan ampun bagi manusia yang hidup di bumi.

Hal ini ditegaskan dalam firman-Nya: “Hampir saja langit itu pecah dari sebelah atasnya (karena kebesaran Allah), dan para malaikat bertasbih memuji Tuhannya serta memohonkan ampun bagi orang-orang yang ada di bumi.” (QS. Asy-Syuura [42]: 5).

Fenomena Alam sebagai Bentuk Tasbih

Apa yang selama ini dipahami sebagai fenomena alam, sejatinya memiliki dimensi spiritual yang mendalam.

Suara guruh yang menggelegar di langit, misalnya, bukan sekadar peristiwa fisika, melainkan bagian dari tasbih kepada Allah SWT.

Demikian pula para malaikat, yang dengan penuh rasa takut dan tunduk, ikut mengagungkan-Nya tanpa henti.

Allah SWT berfirman: “Dan guruh itu bertasbih dengan memuji Allah, demikian pula para malaikat karena takut kepada-Nya.” (QS. Ar-Ra’d [13]: 13).

Keterbatasan Manusia Memahami Bahasa Alam

Di sinilah letak keterbatasan manusia. Meski hidup di tengah-tengah tanda-tanda kebesaran Allah, manusia tidak selalu mampu memahami pesan yang tersirat di baliknya.

Tasbih yang dilakukan oleh langit, bumi, dan seluruh isinya berlangsung terus-menerus, tetapi tidak terdengar oleh telinga manusia.

Padahal, jika direnungkan dengan hati yang jernih dan akal yang terbuka, setiap fenomena alam sejatinya adalah panggilan untuk mengenal lebih dekat Sang Pencipta.

Kesadaran inilah yang seharusnya menumbuhkan rasa tunduk, kagum, sekaligus syukur dalam diri manusia.

Sebab di balik segala keteraturan alam, terdapat kehendak dan kebijaksanaan Allah yang Maha Agung, yang mengatur segala sesuatu dengan sempurna tanpa cela. (top)

Editor : Ali Mustofa
#alam #tasbih #dzikir #semesta #Allah SWT #manusia