Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Kenapa Islam Sangat Melarang Hasad? Ternyata Dampaknya Mengerikan

Ali Mustofa • Sabtu, 14 Maret 2026 | 09:41 WIB
Ilustrasi hasad (Foto: Getty Images/Aang Permana)
Ilustrasi hasad (Foto: Getty Images/Aang Permana)

RADAR KUDUS – Dalam kehidupan sosial, manusia sering kali dihadapkan pada berbagai perasaan ketika melihat keberhasilan, kebahagiaan, atau nikmat yang dimiliki orang lain.

Ada yang merasa termotivasi untuk berusaha lebih baik, namun tidak sedikit pula yang justru diliputi rasa iri dan tidak senang atas nikmat tersebut.

Dalam ajaran Islam, perasaan iri yang disertai keinginan agar nikmat orang lain hilang disebut sebagai hasad.

Sifat ini termasuk penyakit hati yang sangat berbahaya karena dapat merusak ketenangan batin sekaligus menghancurkan hubungan antarsesama.

Hasad bukan sekadar perasaan tidak suka terhadap keberhasilan orang lain.

Ia merupakan penyakit batin yang membuat seseorang tidak rela melihat orang lain memperoleh kebaikan.

Bahkan dalam kondisi tertentu, orang yang hasad berharap agar nikmat tersebut hilang dari pemiliknya.

Padahal dalam Islam, nikmat yang dimiliki setiap manusia merupakan ketentuan Allah SWT yang diberikan sesuai dengan hikmah dan kehendak-Nya.

Memahami Hakikat Hasad

Para ulama menjelaskan bahwa hasad adalah sikap iri hati yang disertai keinginan agar nikmat orang lain lenyap.

Sifat ini berbeda dengan ghibthah, yaitu rasa ingin memiliki kebaikan seperti yang dimiliki orang lain tanpa berharap nikmat tersebut hilang dari pemiliknya.

Ghibthah justru dianggap sebagai bentuk motivasi positif.

Misalnya ketika seseorang melihat orang lain rajin beribadah, berilmu, atau dermawan, lalu ia terdorong untuk meniru kebaikan tersebut.

Sebaliknya, hasad muncul dari hati yang tidak puas terhadap ketentuan Allah.

Orang yang memiliki sifat ini akan sulit merasakan kebahagiaan karena hidupnya selalu dipenuhi perbandingan dengan orang lain.

Al-Qur’an sendiri mengingatkan umat manusia agar berhati-hati terhadap penyakit ini.

Allah SWT berfirman: "Ataukah mereka dengki kepada manusia karena karunia yang telah Allah berikan kepadanya?" (QS. An-Nisa: 54)

Ayat tersebut menunjukkan bahwa rasa dengki telah ada sejak dahulu dan menjadi salah satu sumber kerusakan dalam kehidupan manusia.

Bahaya Hasad bagi Kehidupan

Penyakit hasad tidak hanya berdampak pada hubungan sosial, tetapi juga dapat merusak kondisi spiritual seseorang.

Salah satu bahaya terbesar dari hasad adalah kegelisahan yang terus-menerus.

Orang yang memiliki sifat iri akan selalu merasa tidak puas dengan apa yang dimilikinya.

Ia sibuk memikirkan kelebihan orang lain sehingga lupa mensyukuri nikmat yang telah diberikan kepadanya.

Selain itu, hasad juga dapat merusak hubungan persaudaraan.

Ketika rasa iri dibiarkan tumbuh, seseorang bisa terdorong untuk membenci, menjatuhkan, bahkan menyakiti orang lain.

Dalam banyak kasus, konflik sosial sering kali berawal dari rasa iri yang tidak terkendali.

Hubungan yang awalnya baik dapat berubah menjadi permusuhan hanya karena perasaan dengki.

Lebih jauh lagi, hasad juga dapat menghapus pahala amal kebaikan.

Rasulullah SAW bersabda: "Jauhilah hasad, karena hasad itu memakan kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar." (HR. Abu Dawud)

Hadis tersebut memberikan gambaran betapa berbahayanya sifat iri dengki.

Amal baik yang telah dikumpulkan seseorang bisa hilang sia-sia jika ia memelihara hasad dalam hatinya.

Tidak hanya itu, hasad juga menunjukkan ketidakrelaan seseorang terhadap pembagian rezeki yang telah ditetapkan oleh Allah.

Sikap ini dapat mengundang murka Allah karena berarti seseorang tidak menerima takdir yang telah diberikan.

Mengapa Hasad Membuat Hati Gelisah

Salah satu dampak paling nyata dari hasad adalah kegelisahan batin. Orang yang dipenuhi rasa iri biasanya sulit merasakan ketenangan hidup.

Setiap kali melihat orang lain memperoleh keberhasilan, hatinya dipenuhi perasaan tidak senang.

Ia merasa tersaingi dan terus membandingkan hidupnya dengan orang lain.

Akibatnya, kebahagiaan yang seharusnya bisa dirasakan justru tertutup oleh perasaan iri. Hati menjadi sempit dan penuh prasangka.

Padahal Allah SWT mengingatkan bahwa setiap nikmat yang diberikan kepada manusia memiliki hikmah masing-masing.

Tidak semua orang diberikan rezeki dengan bentuk yang sama.

Allah SWT berfirman: "Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagian kamu lebih banyak dari sebagian yang lain." (QS. An-Nisa: 32)

Ayat ini menjadi pengingat bahwa setiap orang memiliki bagian rezekinya sendiri. Oleh karena itu, tidak ada alasan untuk merasa iri terhadap nikmat yang dimiliki orang lain.

Cara Mengobati Penyakit Hasad

Meskipun berbahaya, penyakit hasad bukanlah sesuatu yang tidak bisa diobati. Islam memberikan beberapa cara untuk membersihkan hati dari sifat iri dengki.

Pertama, memperkuat iman dan belajar menerima ketentuan Allah.

Seorang Muslim harus meyakini bahwa semua nikmat yang diberikan Allah memiliki hikmah yang tidak selalu dapat dipahami manusia.

Kedua, melatih diri untuk mendoakan kebaikan bagi orang lain.

Ketika melihat seseorang memperoleh nikmat, hendaknya kita mendoakan agar nikmat tersebut menjadi berkah baginya.

Ketiga, memperbanyak rasa syukur. Dengan mensyukuri nikmat yang telah dimiliki, hati akan menjadi lebih tenang dan tidak mudah tergoda oleh rasa iri.

Allah SWT berfirman: "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah nikmat kepadamu." (QS. Ibrahim: 7)

Keempat, bergaul dengan orang-orang yang saleh dan memiliki akhlak baik.

Lingkungan yang positif dapat membantu seseorang menjaga hati agar tetap bersih dari sifat iri dan dengki.

Menjaga Hati agar Tetap Bersih

Penyakit hasad sering kali tidak terlihat secara fisik, tetapi dampaknya bisa sangat besar.

Ia dapat merusak ketenangan jiwa, menghancurkan persaudaraan, bahkan menghapus pahala amal kebaikan.

Karena itu, menjaga hati merupakan salah satu tugas penting bagi setiap Muslim.

Hati yang bersih akan melahirkan sikap yang penuh kasih, syukur, dan keikhlasan.

Pada akhirnya, kebahagiaan sejati tidak datang dari membandingkan diri dengan orang lain, tetapi dari kemampuan menerima dan mensyukuri apa yang telah Allah berikan.

Dengan menjauhkan diri dari hasad dan membiasakan hati untuk bersyukur, kehidupan akan terasa lebih tenang, hubungan sosial menjadi lebih harmonis, dan iman pun semakin kuat. (top)

Editor : Ali Mustofa
#Kebaikan #hati #rasa iri #Allah SWT #hasad #manusia