Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Ini Alasan Mengapa I’tidal Harus Dilakukan dengan Tenang, Jangan Sampai Salah!

Ali Mustofa • Selasa, 3 Maret 2026 | 12:41 WIB

Ilustrasi sholat.
Ilustrasi sholat.

RADAR KUDUS - Dalam rangkaian gerakan shalat, i’tidal merupakan fase penting setelah rukuk, yakni kembali berdiri tegak dengan penuh ketenangan sebagai bentuk penghambaan kepada Allah SWT.

Gerakan ini tidak sekadar perpindahan posisi tubuh, tetapi mengandung nilai spiritual, kesempurnaan gerak, serta manfaat bagi keseimbangan fisik manusia.

I’tidal dilakukan dengan bangkit dari rukuk sambil membaca tasmi’, kemudian berdiri tegak dengan penuh kekhusyukan hingga seluruh anggota tubuh kembali pada posisi normal sebelum rukuk.

Dalam ajaran Islam, gerakan ini menegaskan pentingnya ketenangan dan kesempurnaan setiap rukun shalat.

Bangun dari rukuk dilakukan seraya mengucapkan “Sami’allahu liman hamidah” (Allah mendengar orang yang memuji-Nya).

Pada saat bangkit, disunahkan mengangkat kedua tangan sebagaimana ketika takbiratul ihram, lalu berdiri hingga tubuh benar-benar tegak.

Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam hadis riwayat Muhammad al-Bukhari dan Muslim ibn al-Hajjaj yang menerangkan bahwa seseorang hendaknya berdiri lurus terlebih dahulu sebelum melanjutkan gerakan berikutnya.

Selain itu, terdapat pula peringatan tegas mengenai pentingnya menyempurnakan i’tidal.

Rasulullah SAW bersabda: “Allah tidak akan melihat shalat seseorang yang tidak menegakkan tulang punggungnya di antara rukuk dan sujudnya.” (HR. Ahmad ibn Hanbal, dengan sanad sahih)

Setelah berdiri sempurna, dianjurkan membaca doa i’tidal, yaitu “Rabbanaa wa lakal hamdu”, sebagai ungkapan pujian dan syukur kepada Allah SWT.

Tata Cara dan Kesempurnaan Gerakan

Gerakan i’tidal dilakukan dengan mengangkat kepala secara perlahan dan penuh ketenangan hingga kembali pada posisi berdiri tegak.

Kedua tangan kemudian diletakkan santai di sisi tubuh, sementara seluruh anggota badan kembali pada posisi semula sebelum rukuk.

Dalam keadaan ini, setiap tulang kembali pada tempatnya dengan seimbang.

Ketegakan tubuh menjadi simbol kesempurnaan gerakan, sekaligus menunjukkan sikap tunduk dan khusyuk di hadapan Allah SWT.

Ketenangan dalam i’tidal menjadi bagian penting dari kesempurnaan shalat.

Tidak tergesa-gesa, tidak terburu-buru, dan memberi jeda yang cukup agar tubuh benar-benar stabil sebelum melanjutkan sujud.

Hikmah Kesehatan dan Manfaat Fisiologis

Selain bernilai ibadah, gerakan i’tidal juga memiliki manfaat bagi kesehatan tubuh manusia.

Saat bangkit dari rukuk, tubuh melakukan proses pernapasan yang lebih dalam.

Diafragma kembali pada posisi lebih tinggi, rongga perut mengalami tekanan, dan dada berada dalam posisi terbuka sehingga aliran udara menjadi lebih lancar.

Kondisi ini membantu memperlancar peredaran darah, khususnya dari bagian kaki menuju rongga perut dan selanjutnya ke jantung.

Proses tersebut berlangsung melalui dua tahap:

Pertama, saat menghembuskan napas dengan kuat, darah dari pembuluh kaki mengalir lebih cepat menuju pembuluh di rongga perut karena terbukanya jalur aliran ke bagian tubuh yang lebih tinggi.

Kedua, ketika menarik napas dalam, darah yang terkumpul di rongga perut mengalir lebih mudah menuju jantung, khususnya bagian kanan jantung, sehingga sirkulasi darah berlangsung lebih stabil.

Gerakan rukuk sebelumnya berfungsi menekan darah dari rongga perut, sedangkan i’tidal membantu menarik kembali aliran darah tersebut menuju jantung.

Koordinasi ini menunjukkan keseimbangan sistem tubuh yang selaras dengan gerakan ibadah.

Makna Spiritual di Balik I’tidal

Mengangkat tangan dan berdiri tegak saat i’tidal juga menyebabkan darah dari kepala mengalir ke bagian tubuh bawah.

Kondisi ini membuat tekanan darah pada pangkal otak, yang berfungsi mengatur keseimbangan tubuh, menjadi lebih stabil.

Akibatnya, saraf keseimbangan tubuh tetap terjaga dan membantu mencegah terjadinya pusing atau pingsan secara tiba-tiba.

Dengan demikian, gerakan i’tidal tidak hanya menyempurnakan ibadah secara spiritual, tetapi juga memberi manfaat bagi kesehatan dan kestabilan tubuh manusia.

Lebih dari sekadar gerakan fisik, i’tidal mengajarkan keseimbangan hidup.

Setelah merunduk dalam rukuk sebagai simbol kerendahan diri, seorang hamba kembali berdiri tegak sebagai tanda kesiapan memuji dan bersyukur kepada Allah SWT.

Gerakan ini mencerminkan harmoni antara jasmani dan rohani, antara kepatuhan dan ketenangan, serta antara penghambaan dan kesadaran akan nikmat Allah.

Kesempurnaan i’tidal menjadi bagian dari kesempurnaan shalat, yang pada akhirnya membawa ketenangan jiwa dan keberkahan hidup bagi setiap muslim. (top)

 

Editor : Ali Mustofa
#kesehatan #rukuk #Allah SWT #tubuh #shalat #Gerakan