Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Dari Lapar ke Empati, Inilah Hikmah Puasa yang Mengubah Cara Pandang Manusia

Ali Mustofa • Sabtu, 28 Februari 2026 | 13:25 WIB

Suasana buka puasa bersama di Masjid Istiqlal, (Foto Salman Toyibi/Jawa Pos)
Suasana buka puasa bersama di Masjid Istiqlal, (Foto Salman Toyibi/Jawa Pos)

RADAR KUDUS – Ibadah puasa Ramadan tidak hanya menjadi sarana menahan lapar dan dahaga, tetapi juga memiliki hikmah besar dalam menumbuhkan kepedulian sosial terhadap sesama.

Melalui pengalaman merasakan kekurangan, manusia diajak memahami penderitaan orang lain, khususnya mereka yang hidup dalam keterbatasan.

Puasa menjadi sarana pembinaan jiwa yang membentuk rasa empati, kasih sayang, serta kepekaan terhadap kondisi kaum fakir miskin.

Nilai-nilai tersebut menjadi bagian penting dalam membangun kehidupan masyarakat yang penuh kepedulian dan kebersamaan.

Puasa sebagai Latihan Empati terhadap Sesama

Salah satu hikmah utama puasa adalah menumbuhkan rasa belas kasih kepada orang-orang yang hidup dalam kekurangan.

Dengan menahan makan dan minum dalam jangka waktu tertentu, seseorang dapat merasakan bagaimana kondisi orang yang tidak memiliki kecukupan dalam kehidupan sehari-hari.

Pengalaman merasakan lapar dan dahaga tersebut membangkitkan kesadaran bahwa tidak semua orang memiliki kemudahan dalam memenuhi kebutuhan hidup.

Kesadaran inilah yang menumbuhkan sikap peduli serta dorongan untuk membantu sesama.

Puasa mengajarkan bahwa setiap nikmat yang dimiliki harus disyukuri dengan cara berbagi dan memperhatikan kondisi orang lain.

Dari sinilah tumbuh semangat solidaritas sosial serta keinginan untuk meringankan beban mereka yang membutuhkan.

Teladan Kepedulian dari Nabi Yusuf AS

Nilai kepedulian sosial melalui pengalaman merasakan kesulitan orang lain juga dicontohkan oleh para nabi.

Dikisahkan bahwa Nabi Yusuf AS tidak makan sebelum merasakan lapar yang sangat.

Sikap tersebut dilakukan agar beliau senantiasa mengingat penderitaan orang-orang miskin dan tidak melupakan kesulitan yang dialami masyarakat.

Keteladanan ini menunjukkan bahwa merasakan kesulitan secara langsung dapat menumbuhkan empati yang mendalam.

Dengan memahami penderitaan orang lain, seseorang akan lebih terdorong untuk bersikap adil, peduli, dan penuh kasih sayang dalam kehidupan sosial.

Ajaran Islam menegaskan pentingnya memperhatikan kaum yang membutuhkan.

Allah SWT berfirman: “Tahukah kamu orang yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim dan tidak mendorong memberi makan orang miskin.” (QS. Al-Ma’un: 1–3)

Ayat tersebut menegaskan bahwa kepedulian terhadap fakir miskin merupakan bagian dari wujud keimanan.

Puasa menjadi sarana yang menumbuhkan kesadaran tersebut melalui pengalaman langsung merasakan lapar dan dahaga.

Membangun Solidaritas dan Keharmonisan Sosial

Puasa tidak hanya berdampak pada hubungan manusia dengan Allah SWT, tetapi juga memperbaiki hubungan antarsuggest manusia.

Seseorang yang terbiasa merasakan kesulitan saat berpuasa akan lebih peka terhadap kebutuhan orang lain serta terdorong untuk membantu mereka yang kekurangan.

Nilai empati yang lahir dari puasa melahirkan sikap dermawan, kepedulian sosial, serta semangat berbagi.

Hal ini menjadi fondasi penting dalam menciptakan kehidupan masyarakat yang harmonis, penuh kasih sayang, dan saling menolong.

Pada akhirnya, puasa Ramadan bukan sekadar ibadah yang bersifat ritual, tetapi juga sarana pembinaan diri yang menyeluruh.

Ibadah ini melatih kesabaran, kejujuran, pengendalian diri, serta menumbuhkan kepedulian terhadap sesama.

Dengan memahami hikmah puasa secara mendalam, diharapkan ibadah yang dijalankan tidak hanya menjadi rutinitas tahunan.

Melainkan mampu membentuk pribadi yang bertakwa, berakhlak mulia, dan memiliki kepedulian sosial yang tinggi terhadap sesama manusia. (top)

Editor : Ali Mustofa
#masyarakat #empati #puasa #kebersamaan #nabi yusuf #Allah SWT #kepedulian