Dalam diri manusia terdapat berbagai kekuatan, naluri, dan kemampuan yang saling bekerja sama untuk menjaga keseimbangan kehidupan.
Semua itu tidak terjadi secara kebetulan, melainkan merupakan bagian dari sistem Ilahi yang tersusun rapi dan memiliki tujuan yang jelas.
Jika manusia mau merenungkan dirinya, ia akan menemukan bahwa tubuh dan seluruh kemampuan yang dimilikinya ibarat sebuah sistem yang teratur, di mana setiap unsur memiliki tugas dan fungsi masing-masing.
Kesempurnaan pengaturan tersebut menjadi tanda kebesaran Allah SWT sebagai Sang Pencipta.
Tubuh Manusia sebagai Sistem Kehidupan yang Teratur
Allah SWT menciptakan manusia dengan berbagai tabiat dan dorongan alami yang mendorongnya memperoleh manfaat serta menjaga kelangsungan hidup.
Setiap bagian tubuh bekerja sesuai tugasnya, saling melengkapi dan menopang satu sama lain.
Tubuh manusia dapat diibaratkan seperti sebuah bangunan besar yang teratur. Di dalamnya terdapat berbagai unsur yang menjalankan fungsi tertentu.
Ada bagian tubuh yang bertugas menyerap dan menyimpan nutrisi sebagai sumber energi, ada pula yang membersihkan dan membuang kotoran, serta ada yang memperbaiki kerusakan agar tubuh tetap berfungsi dengan baik.
Seluruh sistem tersebut menunjukkan bahwa kehidupan manusia berjalan dalam pengaturan yang sangat rapi dan penuh ketelitian.
Semua bagian bekerja tanpa disadari oleh manusia, namun memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan tubuh.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an: “Dan pada dirimu sendiri, maka apakah kamu tidak memperhatikan?” (QS. Adz-Dzariyat: 21)
Ayat ini mengajak manusia untuk merenungkan dirinya sebagai bukti nyata kekuasaan dan kebesaran Allah SWT.
Peran Akal, Ingatan, dan Kemampuan Batiniah
Selain organ tubuh, Allah SWT juga menganugerahkan berbagai kemampuan batiniah seperti akal, pikiran, ingatan, perasaan, dan emosi.
Semua kemampuan tersebut berfungsi mengatur kehidupan manusia serta membantunya memahami lingkungan di sekitarnya.
Ingatan, misalnya, memungkinkan manusia mengingat pengalaman, ilmu pengetahuan, serta berbagai peristiwa yang telah dialami.
Dengan kemampuan ini manusia dapat membedakan antara yang bermanfaat dan yang berbahaya, mengenali orang lain, serta mengambil pelajaran dari masa lalu.
Bayangkan apabila manusia kehilangan kemampuan mengingat.
Ia tidak akan mampu mengenali apa yang dimilikinya, tidak dapat memahami pengalaman yang pernah dialami, serta tidak mampu membedakan antara kebaikan dan keburukan.
Ia juga tidak akan mampu memahami ilmu yang telah dipelajari ataupun mengenali jalan yang pernah dilaluinya.
Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan berpikir dan mengingat merupakan nikmat besar yang sangat menentukan kualitas kehidupan manusia.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an: “Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati agar kamu bersyukur.” (QS. An-Nahl: 78)
Ayat ini menegaskan bahwa kemampuan memahami, berpikir, dan mengingat merupakan karunia Allah SWT yang patut disyukuri.
Hikmah Nikmat Lupa dalam Kehidupan Manusia
Menariknya, selain memberikan kemampuan mengingat, Allah SWT juga menganugerahkan manusia kemampuan untuk melupakan.
Kedua hal ini tampak berlawanan, namun justru saling melengkapi dan memiliki hikmah besar.
Kemampuan lupa menjadi sarana bagi manusia untuk terbebas dari kesedihan berkepanjangan.
Jika manusia terus mengingat setiap musibah dan penderitaan tanpa kemampuan untuk melupakannya, hidupnya akan dipenuhi kesedihan dan penyesalan yang tiada henti.
Dengan adanya sifat lupa, manusia dapat bangkit dari kesulitan, melanjutkan kehidupan, serta menemukan kembali harapan.
Hal ini menunjukkan bahwa setiap kemampuan yang diberikan Allah SWT memiliki fungsi dan kemaslahatan tersendiri bagi manusia.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an: “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al-Baqarah: 286)
Ayat ini menunjukkan bahwa segala ketetapan Allah SWT, termasuk kemampuan ingat dan lupa, merupakan bagian dari kasih sayang-Nya agar manusia mampu menjalani kehidupan dengan seimbang.
Kesempurnaan Pengaturan Allah dalam Diri Manusia
Seluruh kemampuan dalam diri manusia, baik fisik maupun batiniah, menunjukkan adanya sistem kehidupan yang sangat sempurna.
Tubuh, akal, ingatan, perasaan, dan berbagai naluri bekerja secara terpadu untuk menjaga kehidupan manusia.
Keselarasan tersebut menegaskan bahwa manusia tidak diciptakan secara sia-sia. Setiap kemampuan memiliki peran penting dan saling melengkapi dalam menjaga keseimbangan hidup.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an: “Dialah yang menciptakan segala sesuatu lalu menyempurnakan penciptaan-Nya.” (QS. As-Sajdah: 7)
Ayat ini menegaskan bahwa seluruh ciptaan Allah SWT disusun dengan kesempurnaan dan penuh hikmah.
Dengan merenungkan berbagai kemampuan yang ada dalam diri manusia, seharusnya manusia semakin menyadari betapa besar nikmat yang telah diberikan Allah SWT.
Bahkan kehilangan satu kemampuan saja dapat menimbulkan kesulitan besar dalam kehidupan, apalagi jika seluruh kemampuan tersebut tidak ada.
Kesadaran ini hendaknya menumbuhkan rasa syukur dan keimanan yang lebih kuat kepada Allah SWT.
Manusia diharapkan tidak hanya menikmati nikmat tersebut, tetapi juga menggunakan seluruh kemampuan yang dimilikinya untuk kebaikan serta mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.
Dengan demikian, kehidupan manusia tidak hanya menjadi perjalanan biologis semata, tetapi juga menjadi sarana untuk mengenal kebesaran Allah SWT dan menghayati hikmah di balik setiap ciptaan-Nya. (top)
Editor : Ali Mustofa