Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Hikmah di Balik Emosi Manusia, Marah dan Iri dalam Tuntunan Islam

Ali Mustofa • Senin, 23 Februari 2026 | 21:36 WIB

Ilustrasi seseorang sedang marah dan iri hati
Ilustrasi seseorang sedang marah dan iri hati
RADAR KUDUS – Dalam kehidupan manusia, Allah SWT menganugerahkan berbagai potensi batin yang memiliki fungsi penting bagi keberlangsungan hidup.

Di antara potensi tersebut adalah sifat marah dan rasa iri yang kerap dipandang sebagai sesuatu yang negatif.

Padahal, keduanya merupakan bagian dari fitrah manusia yang diciptakan dengan tujuan tertentu serta mengandung hikmah besar apabila dikelola secara benar.

Sifat marah dan rasa iri bukanlah sekadar dorongan emosional tanpa makna, melainkan mekanisme pertahanan dan pendorong usaha yang diberikan Allah SWT kepada manusia.

Namun, keduanya harus dikendalikan dengan sikap moderat agar tidak berubah menjadi sumber keburukan yang merusak diri sendiri maupun orang lain.

Hakikat Marah sebagai Benteng Diri

Marah merupakan salah satu emosi dasar yang berfungsi sebagai benteng pertahanan diri dari berbagai ancaman dan bahaya.

Dengan adanya rasa marah, manusia terdorong untuk melindungi diri, menjaga kehormatan, serta menolak segala sesuatu yang dapat merugikan dirinya.

Tanpa adanya sifat marah, manusia akan kehilangan kemampuan untuk membela diri dari kezaliman dan ketidakadilan.

Namun, ketika kemarahan tidak dikendalikan, ia dapat berubah menjadi sumber kerusakan, menimbulkan permusuhan, bahkan mendorong seseorang melakukan tindakan yang melampaui batas.

Islam mengajarkan agar manusia mampu menahan dan mengendalikan amarah, bukan menuruti dorongan emosi secara berlebihan.

Rasulullah SAW bersabda: “Orang yang kuat bukanlah yang pandai bergulat, tetapi orang yang kuat adalah yang mampu menahan dirinya ketika marah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Al-Qur’an juga memuji orang yang mampu mengendalikan amarahnya: “(yaitu) orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Ali Imran: 134)

Ayat dan hadis tersebut menegaskan bahwa kemarahan harus ditempatkan secara proporsional, yaitu sebagai sarana menolak bahaya, bukan sebagai alasan untuk melampiaskan kebencian.

Iri sebagai Pendorong Perbaikan Diri

Selain marah, Allah SWT juga menanamkan rasa iri dalam diri manusia.

Pada dasarnya, perasaan ini berfungsi sebagai dorongan agar manusia berusaha memperoleh kebaikan dan kemanfaatan yang dimiliki orang lain.

Dengan adanya keinginan untuk mencapai sesuatu yang lebih baik, manusia terdorong untuk bekerja keras, belajar, dan meningkatkan kualitas dirinya.

Namun, Islam membedakan antara iri yang terpuji dan iri yang tercela.

Iri yang dibenarkan adalah keinginan untuk memperoleh kebaikan tanpa berharap hilangnya nikmat orang lain.

Sedangkan iri yang tercela adalah dengki yang menginginkan orang lain kehilangan nikmat tersebut.

Rasulullah SAW bersabda: “Tidak boleh iri kecuali pada dua perkara: kepada seseorang yang diberi harta oleh Allah lalu ia menginfakkannya di jalan kebenaran, dan kepada seseorang yang diberi hikmah lalu ia mengamalkannya dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menunjukkan bahwa rasa ingin seperti orang lain dalam hal kebaikan dapat menjadi motivasi untuk meningkatkan kualitas diri, selama tidak disertai kebencian atau keinginan mencelakakan.

Prinsip Moderasi dalam Mengelola Emosi

Islam mengajarkan keseimbangan dalam menyikapi seluruh potensi manusia, termasuk marah dan iri. Kedua sifat ini harus dikendalikan agar tetap berada dalam batas yang wajar.

Ketika seseorang melampaui batas dalam kemarahan, ia dapat terjerumus pada tindakan yang merusak.

Begitu pula jika rasa iri tidak dikendalikan, ia dapat berkembang menjadi dengki yang menimbulkan permusuhan dan kebencian.

Allah SWT berfirman: “Dan demikian pula Kami jadikan kamu umat yang pertengahan (moderat)…” (QS. Al-Baqarah: 143)

Ayat ini menegaskan pentingnya sikap pertengahan dalam seluruh aspek kehidupan, termasuk dalam mengelola dorongan emosional.

Seseorang yang marah harus membatasi dirinya hanya pada upaya menolak bahaya, bukan melampiaskan kebencian.

Demikian pula ketika muncul rasa iri, ia harus mengarahkannya sebagai motivasi untuk memperbaiki diri, bukan untuk menjatuhkan orang lain.

Bahaya Melampaui Batas dan Hikmah Pengendalian Diri

Ketika marah dan iri tidak terkendali, keduanya dapat menjerumuskan manusia pada perilaku yang menyerupai sifat setan.

Yaitu melampaui batas, menimbulkan kerusakan, dan memicu permusuhan.

Dalam kondisi demikian, manusia tidak lagi dikendalikan oleh akal dan iman, melainkan oleh hawa nafsu yang merusak.

Perasaan marah yang berlebihan dapat melahirkan kekerasan dan kebencian, sedangkan iri yang tidak terkendali dapat menumbuhkan dengki dan permusuhan.

Kedua sifat tersebut pada akhirnya merusak hubungan sosial dan menjauhkan manusia dari nilai-nilai kebaikan.

Kemampuan mengendalikan marah dan iri merupakan tanda kematangan iman dan kejernihan akal.

Dengan pengendalian diri, manusia dapat menjaga kehormatan, memperbaiki hubungan dengan sesama, serta meningkatkan kualitas spiritualnya.

Pengendalian ini menuntut kesadaran bahwa setiap potensi yang Allah SWT ciptakan memiliki fungsi dan batasannya.

Marah dan iri bukan untuk dihapuskan sepenuhnya, tetapi untuk diarahkan sesuai tuntunan agama.

Pada akhirnya, manusia yang mampu mengelola kedua sifat tersebut secara seimbang akan memperoleh ketenangan hati, terhindar dari kerusakan, serta mampu menjalani kehidupan dengan penuh kebijaksanaan.

Inilah hikmah besar di balik penciptaan potensi marah dan iri dalam diri manusia, sebagai sarana ujian sekaligus jalan menuju kesempurnaan akhlak. (top)

Editor : Ali Mustofa
#pengendalian diri #islam #emosi #hawa nafsu #Allah SWT #IRI #marah #manusia