RADAR KUDUS – Akal merupakan karunia agung yang dianugerahkan Allah SWT kepada manusia sebagai penuntun dalam berpikir, memahami, dan menentukan sikap hidup.
Dengan akal, manusia mampu menelaah berbagai fenomena kehidupan, mengenali tanda-tanda kebesaran Allah di alam semesta, serta membedakan antara kebenaran dan kesalahan.
Namun, di balik keistimewaannya, akal tetap memiliki batas yang tidak dapat dilampaui, terutama dalam memahami hakikat Allah SWT yang bersifat mutlak dan tak terbatas.
Segala sesuatu yang tidak berbatas, seperti zat dan esensi Tuhan, berada di luar jangkauan nalar manusia yang terbatas dan fana.
Karena itu, Islam mengajarkan bahwa jalan untuk mengenal Allah bukanlah dengan menelusuri hakikat zat-Nya.
Melainkan dengan memahami sifat-sifat-Nya yang agung, seperti Maha Mendengar, Maha Melihat, Maha Penyayang, dan Maha Kuasa.
Keterbatasan Akal dalam Memahami Ketuhanan
Ajaran Islam menegaskan bahwa tidak ada sesuatu pun yang menyerupai Allah SWT.
Hal ini sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur'an Surah Asy-Syura ayat 11, yang menegaskan bahwa Allah tidak dapat disamakan dengan apa pun yang dapat dijangkau oleh akal manusia.
Allah SWT berfirman: “Tidak ada sesuatu pun yang menyerupai Allah.”
Ayat tersebut menjadi pengingat bahwa keimanan tidak semata-mata dibangun atas dasar logika atau analisis rasional, tetapi lahir dari kesadaran spiritual, penghambaan, dan keyakinan akan kebesaran-Nya.
Segala sesuatu yang bagi manusia tampak mustahil, bagi Allah bukanlah perkara yang sulit.
Oleh sebab itu, menjadikan akal sebagai satu-satunya ukuran dalam menilai keimanan sering kali tidak sejalan dengan hakikat iman itu sendiri.
Iman menuntut kerendahan hati untuk menerima keterbatasan manusia di hadapan keagungan Sang Pencipta.
Daripada terjebak dalam perdebatan panjang mengenai hakikat zat Tuhan yang tidak terjangkau, manusia dianjurkan untuk lebih banyak bersyukur atas nikmat yang diberikan-Nya.
Kemampuan untuk hidup, bernapas, makan, dan merasakan berbagai karunia merupakan bukti nyata kekuasaan Allah dalam kehidupan sehari-hari.
Melalui nikmat tersebut, manusia dapat mengenal kebesaran-Nya tanpa harus menembus rahasia zat-Nya.
Tujuan Penciptaan Manusia
Islam juga menjelaskan bahwa keberadaan manusia di dunia memiliki tujuan yang jelas.
Allah SWT menciptakan manusia dan jin semata-mata untuk beribadah kepada-Nya, sebagaimana disebutkan dalam Surah Az-Zariyat ayat 56.
Firman-Nya: “Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”
Tujuan penciptaan ini bukan karena Allah membutuhkan hamba-Nya, melainkan agar manusia menyadari kedudukannya sebagai makhluk yang bergantung sepenuhnya kepada Sang Pencipta.
Seluruh aturan kehidupan, kewajiban, serta berbagai ujian yang dihadapi manusia merupakan bagian dari amanah yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab.
Kehidupan dunia menjadi ruang bagi manusia untuk menunjukkan ketaatan dan kesungguhan dalam menjalankan perintah-Nya.
Fitrah Ketuhanan dalam Diri Manusia
Bahkan sebelum manusia dilahirkan ke dunia, Allah telah menanamkan fitrah untuk mengenal dan mengakui keesaan-Nya.
Dalam Surah Al-A’raf ayat 172 dijelaskan bahwa seluruh keturunan Nabi Adam pernah bersaksi atas ketuhanan Allah.
Allah SWT berfirman: “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” dan manusia menjawab, “Betul, Engkau Tuhan kami.”
Kesaksian tersebut menjadi dasar kesadaran spiritual manusia sejak awal penciptaannya.
Perjanjian sejak awal penciptaan tersebut menegaskan bahwa dalam diri setiap manusia telah tertanam fitrah atau dorongan alami untuk mengenal dan mengakui Tuhannya.
Kehidupan di dunia menjadi ujian untuk membuktikan apakah manusia tetap setia pada fitrah tersebut atau justru melupakannya.
Penghambaan sebagai Jalan Kehidupan
Gambaran sederhana dapat diambil dari kehidupan sehari-hari. Seorang pekerja menerima upah, namun ia tetap berkewajiban melaksanakan tugas sesuai aturan yang ditetapkan.
Tidak mungkin seseorang memperoleh hak tanpa menjalankan kewajibannya.
Demikian pula manusia, yang telah dianugerahi kehidupan dan berbagai nikmat, memiliki tanggung jawab untuk menjalankan amanah terbesar, yaitu mengabdi kepada Allah SWT.
Setiap langkah kehidupan seharusnya diarahkan pada penghambaan dan kesadaran akan tujuan penciptaan.
Akal digunakan untuk merenungkan tanda-tanda kebesaran Allah dan memahami ajaran-Nya, bukan untuk mencoba menembus hakikat zat-Nya yang berada di luar jangkauan manusia.
Pada akhirnya, keimanan yang kokoh lahir dari perpaduan antara kesadaran, kepatuhan, dan rasa syukur, bukan semata-mata dari kemampuan berpikir.
Dengan menyadari keterbatasan diri serta menguatkan fitrah ketuhanan yang telah tertanam sejak awal, manusia dapat menapaki kehidupan dengan penuh hikmah, keberkahan, dan arah yang jelas menuju ridha Allah SWT. (top)
Editor : Ali Mustofa