Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Nisfu Sya’ban, Malam Doa Bersama dan Pembacaan Surat Yasin

Ali Mustofa • Senin, 2 Februari 2026 | 15:22 WIB
Photo
Photo

RADAR KUDUS - Bulan Sya’ban dikenal sebagai salah satu bulan mulia dalam kalender Islam.

Kehadirannya selalu dinantikan umat Muslim karena menjadi pengantar datangnya bulan suci Ramadhan.

Pada bulan ini, kaum Muslimin diajak menata kembali ibadah dan mempersiapkan diri secara lahir maupun batin sebelum memasuki Ramadhan.

Keistimewaan bulan Sya’ban tercermin dari kebiasaan Rasulullah SAW yang memperbanyak ibadah puasa sunnah.

Bahkan, dibandingkan bulan-bulan lain selain Ramadhan, Sya’ban menjadi bulan yang paling sering diisi Rasulullah saw dengan puasa.

Hal tersebut sebagaimana diriwayatkan dalam sebuah hadis yang dituturkan oleh Ummul Mukminin Aisyah ra.

Ia menjelaskan bahwa Rasulullah saw berpuasa di bulan Sya’ban dalam jumlah yang sangat banyak, hingga para sahabat menduga beliau tidak akan berbuka, dan terkadang berbuka hingga dikira tidak berpuasa.

Aisyah ra menegaskan bahwa Rasulullah saw tidak pernah menyempurnakan puasa sebulan penuh kecuali di bulan Ramadhan, namun puasa terbanyak beliau lakukan pada bulan Sya’ban.

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Muslim, dan menjadi dasar keutamaan memperbanyak puasa sunnah di bulan tersebut.

Malam Diangkatnya Amal Perbuatan

Selain keutamaan puasanya, bulan Sya’ban juga memiliki satu malam istimewa yang diyakini sebagai waktu diangkatnya amal perbuatan kaum Muslimin kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Pada malam tersebut, umat Islam dianjurkan memperbanyak doa dan istighfar, memohon ampunan atas segala dosa dan kekhilafan.

Hal ini sejalan dengan sabda Rasulullah saw: “Itulah bulan yang sering dilalaikan manusia, antara Rajab dan Ramadhan. Pada bulan itu amal-amal diangkat kepada Rabb semesta alam, dan aku senang ketika amalku diangkat aku dalam keadaan berpuasa.” (HR. An-Nasa’i)

Malam ini kerap dihidupkan dengan ibadah, baik secara pribadi maupun berjamaah di masjid, sebagai bentuk pendekatan diri kepada Allah SWT.

Di Indonesia, malam Nisfu Sya’ban biasanya diperingati secara bersama-sama. Salah satu tradisi yang berkembang adalah membaca Surat Yasin sebanyak tiga kali, disertai doa khusus Nisfu Sya’ban.

Pembacaan Yasin pertama diniatkan untuk memohon umur panjang dalam ketaatan kepada Allah SWT. Yasin kedua dibaca dengan niat agar diberikan rezeki yang halal dan berkah.

Sementara Yasin ketiga diniatkan untuk memohon keteguhan iman serta berharap diwafatkan dalam keadaan beriman. Seluruh rangkaian tersebut kemudian ditutup dengan doa Nisfu Sya’ban.

Malam Ampunan dan Penghapusan Dosa

Keutamaan malam Nisfu Sya’ban ditegaskan dalam sabda Rasulullah saw.

Beliau menyampaikan bahwa pada malam pertengahan bulan Sya’ban, Allah SWT memperhatikan hamba-hamba-Nya dan mengampuni seluruh kaum Muslimin, kecuali mereka yang melakukan kesyirikan dan orang-orang yang masih menyimpan permusuhan.

Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya Allah melihat makhluk-Nya pada malam Nisfu Sya’ban, lalu Dia mengampuni seluruh hamba-Nya kecuali orang yang menyekutukan Allah dan orang yang bermusuhan.” (HR. Ibnu Majah)

Hadis ini diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan menjadi pengingat bahwa kebersihan tauhid serta kejernihan hati dari kebencian merupakan syarat penting untuk meraih ampunan Allah SWT.

Nisfu Sya’ban dan Spirit Kebersamaan

Menghidupkan malam Nisfu Sya’ban tidak hanya berkaitan dengan amal ibadah pribadi, tetapi juga menyangkut nilai kebersamaan dan kepedulian sosial.

Tradisi doa bersama, salat malam berjamaah, membaca Al-Qur’an, wirid, dan zikir mampu mempererat tali persaudaraan antarumat Islam.

Melalui kebersamaan tersebut, tercipta suasana solidaritas yang memperkuat hubungan sosial dan keagamaan di tengah masyarakat.

Nilai kebersamaan ini sejalan dengan firman Allah SWT: “Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan.” (QS. Al-Ma’idah: 2)

Menjelang malam Nisfu Sya’ban, masyarakat kerap terlibat dalam kegiatan gotong royong.

Membersihkan masjid, merapikan lingkungan, serta menyiapkan keperluan ibadah bersama menjadi bagian dari semangat kolektif yang tumbuh di tengah umat.

Nilai ini sejalan dengan ajaran Rasulullah saw yang menganjurkan umat Islam untuk saling tolong-menolong dalam kebaikan dan ketakwaan, serta menjauhi kerja sama dalam dosa dan permusuhan, sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim.

Selain memperbanyak ibadah dan doa, umat Islam juga dianjurkan meningkatkan sedekah di bulan Sya’ban.

Dalam kitab Madza fi Sya’ban, diriwayatkan dari Anas bin Malik bahwa ketika memasuki bulan Sya’ban, kaum Muslimin lebih giat membaca Al-Qur’an dan membagikan sebagian harta mereka kepada fakir miskin dan kaum lemah.

Amalan ini mencerminkan keseimbangan antara ibadah spiritual dan kepedulian sosial yang menjadi ruh ajaran Islam.

Seiring datangnya malam Nisfu Sya’ban, umat Islam diajak menjadikannya sebagai momentum untuk meningkatkan kualitas iman dan takwa.

Malam ini menjadi kesempatan berharga untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, memperbaiki hubungan dengan sesama, serta menata hati dalam menyambut bulan suci Ramadhan.

Dengan hati yang bersih, iman yang lebih kokoh, dan kepedulian sosial yang kuat, semoga kita mampu mengisi Ramadhan dengan amal terbaik dan keberkahan yang berlimpah. (top)

Editor : Ali Mustofa
#ramadhan #ampunan #Nisfu Sya'ban #indonesia #perbuatan #Allah SWT #yasin #ibadah