Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Ketenteraman Jiwa Dimulai dari Kedekatan dengan Allah SWT

Ali Mustofa • Sabtu, 31 Januari 2026 | 09:22 WIB
Ilustrasi berdoa
Ilustrasi berdoa

RADAR KUDUS - Dalam perjalanan hidup yang penuh dinamika, manusia kerap dihadapkan pada naik-turunnya keadaan.

Kebahagiaan datang silih berganti dengan cobaan, kelapangan berganti kesempitan, dan keberuntungan kadang berubah musibah.

Pergantian ini sering membuat hati lelah, pikiran sesak, dan jiwa gelisah.

Sebaliknya, nikmat yang datang tak jarang membuat manusia lalai bersyukur atau menjadi kikir, sesuai tabiat dasar manusia yang mudah berkeluh kesah dan terpancing oleh keadaan, seperti ditegaskan dalam Al-Qur’an.

Islam menawarkan jalan keluar melalui shalat. Ibadah ini menjadi benteng jiwa, penyeimbang batin, dan sarana menata hati agar tidak terombang-ambing oleh keadaan.

Melalui shalat, manusia belajar menenangkan diri, menyadari keterbatasan, dan menempatkan harapannya hanya kepada Allah SWT.

Shalat bukan sekadar ritual formal, tetapi pengingat bahwa dunia bukan ukuran segalanya, musibah bukan tanda kemurkaan, dan nikmat bukan alasan untuk sombong.

Dengan shalat, manusia membangun ketenangan batin, menumbuhkan kesabaran dan rasa syukur, serta memperoleh kekuatan spiritual untuk menghadapi hidup dengan seimbang.

Dari sanalah shalat menjadi penjaga jiwa, meredam ketakutan, menepis keluh kesah, dan menumbuhkan keteguhan dalam menjalani perjalanan hidup.

Shalat sebagai Penjaga Jiwa dari Rasa Takut dan Keluh Kesah

Dalam lintasan kehidupan, manusia tidak pernah lepas dari perubahan keadaan. Hari ini bisa berada dalam kelapangan, esok mungkin diuji dengan kesempitan.

Pergantian situasi itu kerap menguras energi batin.

Rutinitas yang padat, tuntutan hidup yang terus meningkat, serta persoalan yang datang silih berganti sering membuat hati mudah lelah dan pikiran terasa sempit.

Tidak jarang, kegelisahan dan rasa jenuh perlahan tumbuh, bahkan berkembang menjadi keputusasaan.

Ketika cobaan hadir dalam bentuk kekurangan harta, sakit yang berkepanjangan, atau rasa takut yang menekan, sebagian manusia cenderung larut dalam keluh kesah.

Ucapan penyesalan, keluhan, dan perasaan tidak puas sering kali menguasai diri.

Sebaliknya, saat keberuntungan dan kelapangan rezeki menghampiri, tidak sedikit pula yang terlena.

Nikmat yang diterima justru menjauhkan manusia dari rasa syukur, bahkan mendorongnya bersikap kikir dan terlalu mencintai apa yang dimiliki.

Al-Qur’an menggambarkan kondisi tersebut sebagai bagian dari tabiat dasar manusia.

Ketidaksabaran dalam menghadapi ujian serta kelalaian ketika berada dalam kelimpahan merupakan sifat yang kerap muncul dalam keseharian.

Manusia cenderung mencintai hal-hal yang menyenangkan dan menghindari segala sesuatu yang dirasa menyakitkan.

Namun, Islam tidak membiarkan manusia terjebak selamanya dalam kecenderungan itu.

Di sinilah shalat menempati peran yang sangat penting.

Shalat hadir sebagai penopang jiwa sekaligus pengendali batin agar manusia tidak terombang-ambing oleh perubahan keadaan.

Melalui shalat, manusia diajak untuk menenangkan diri, menyadari keterbatasannya, dan menyerahkan segala urusan kepada Allah SWT.

Ibadah ini menjadi ruang bagi hati untuk kembali seimbang, sehingga rasa takut dan keluh kesah tidak berkembang menjadi sikap putus asa.

Shalat menanamkan kesadaran bahwa kehidupan dunia bukanlah ukuran segalanya. Kesulitan dan kenikmatan hanyalah bagian dari ujian yang silih berganti.

Dengan menjaga shalat, manusia dilatih untuk bersikap lebih tenang saat menghadapi cobaan dan tetap rendah hati ketika berada dalam kelapangan.

Dari sinilah shalat berfungsi sebagai penjaga jiwa, yang membentengi manusia dari kegelisahan berlebihan sekaligus menumbuhkan keteguhan dalam menjalani kehidupan.

Gambaran Tabiat Manusia dalam Al-Qur’an

Al-Qur’an memberikan gambaran yang sangat jujur dan realistis tentang tabiat manusia.

Dalam Surah Al-Ma’arij ayat 19–23, Allah SWT menjelaskan bahwa manusia pada dasarnya diciptakan dengan kecenderungan mudah berkeluh kesah dan bersikap kikir.

Ketika diuji dengan kesempitan hidup, rasa tidak nyaman, atau kesulitan yang menekan, manusia sering kali bereaksi dengan keluhan dan kegelisahan.

Hatinya mudah goncang, pikirannya dipenuhi rasa takut, dan lisannya tak jarang mengungkapkan ketidakpuasan atas keadaan yang dialami.

Sebaliknya, saat keadaan berbalik menjadi lapang dan kebaikan mengalir dalam bentuk kesehatan, kelimpahan rezeki, maupun kenyamanan hidup, sebagian manusia justru terjebak pada sikap menahan nikmat tersebut untuk dirinya sendiri.

Rasa syukur melemah, kepedulian terhadap sesama berkurang, dan kecintaan kepada dunia semakin menguat.

Allah SWT berfirman: ”Sesungguhnya manusia diciptakan (dengan tabiat) suka berkeluh kesah serta kikir. Jika ditimpa kesusahan, ia berkeluh kesah. Dan jika ia mendapat kebaikan ia amat kikir. Kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat, dan tetap mengerjakan shalatnya”.

Baca Juga: Wudhu dan Shalat, Perawatan Alami Tubuh dalam Ajaran Islam

Gambaran ini menunjukkan bahwa tanpa tuntunan yang benar, manusia mudah terombang-ambing oleh perubahan situasi yang dihadapinya.

Meski demikian, Al-Qur’an tidak berhenti pada penjelasan tentang kelemahan manusia semata.

Allah SWT memberikan pengecualian yang sangat tegas dan bermakna, yakni bagi orang-orang yang senantiasa menegakkan shalat.

Mereka yang menjaga shalatnya tidak larut dalam keluh kesah ketika tertimpa kesulitan, dan tidak pula tenggelam dalam kelalaian saat menikmati kelapangan.

Shalat menjadi penopang batin yang menumbuhkan kesabaran, sekaligus pengingat agar nikmat yang diterima tidak melahirkan sikap kikir.

Dengan shalat, seseorang belajar mengendalikan dirinya, bukan dikendalikan oleh keadaan.

Ibadah ini membentuk kesadaran bahwa segala sesuatu di dunia bersifat sementara dan berada dalam ketentuan Allah SWT.

Oleh karena itu, shalat tampil sebagai pembeda yang jelas antara manusia yang mudah dikuasai oleh situasi hidup dan manusia yang mampu menjaga keseimbangan jiwa, bersikap bijak dalam kesusahan, serta tetap rendah hati dalam kelapangan. (top)

Editor : Ali Mustofa
#jiwa #Allah SWT #kikir #keluh kesah #manusia #shalat