RADAR KUDUS - Di tengah kehidupan sosial yang kian bising oleh komentar, penilaian, dan standar yang terus berubah, manusia sering kali dihadapkan pada kegelisahan dalam menentukan sikap.
Setiap langkah seolah tak pernah lepas dari sorotan, sementara upaya untuk menyenangkan semua pihak nyaris mustahil dilakukan.
Dalam situasi seperti inilah, kisah-kisah hikmah dari Al-Qur’an kembali menemukan relevansinya.
Salah satunya adalah kisah Luqman Al Hakim, sosok bijak yang nasihatnya melintasi zaman dan tetap menjadi cermin bagi manusia modern.
Melalui rangkaian petuah dan peristiwa sederhana namun sarat makna, Luqman mengajarkan bagaimana seharusnya manusia memosisikan diri di tengah riuhnya penilaian manusia, tanpa kehilangan prinsip dan arah hidup yang diridhai Allah SWT.
Hikmah Luqmanul Hakim di Tengah Riuh Penilaian Manusia
Figur Luqman Al Hakim telah lama dikenal luas dalam tradisi keislaman.
Namanya tidak hanya tercatat dalam sejarah, tetapi diabadikan langsung oleh Allah SWT dalam Al-Qur’an melalui sebuah surah yang secara khusus menyandang namanya, yakni Surah Luqman yang berada pada urutan ke-31.
Penghormatan ilahiah ini tentu bukan tanpa alasan.
Luqman dikenang bukan karena kekuasaan atau kedudukannya, melainkan karena kebijaksanaan dan keluasan hikmah yang terpancar dari setiap nasihatnya.
Petuah-petuah Luqman Al Hakim terekam jelas dalam QS. Luqman ayat 12 hingga 19. Rangkaian ayat tersebut memuat pesan moral yang melampaui ruang dan waktu.
Nasihat itu tidak hanya relevan bagi umat pada masa turunnya Al-Qur’an, tetapi juga tetap kontekstual dengan realitas kehidupan manusia hingga hari ini.
Di dalamnya, Luqman mengajarkan keseimbangan hidup yang utuh.
Ia menanamkan nilai tauhid sebagai fondasi utama hubungan seorang hamba dengan Allah SWT, sekaligus mengingatkan pentingnya adab dan etika dalam berinteraksi dengan sesama manusia.
Nasihat-nasihat tersebut menjadi panduan bagaimana seseorang seharusnya bersikap di tengah masyarakat yang sarat dengan perbedaan pandangan, komentar, serta penilaian yang kerap datang silih berganti.
Melalui hikmah Luqman Al Hakim, manusia diajak untuk tidak larut dalam hiruk-pikuk penilaian sosial.
Sebaliknya, setiap individu diingatkan agar senantiasa berpijak pada nilai kebenaran, menjaga sikap rendah hati, serta menjadikan ridha Allah sebagai tujuan utama dalam setiap langkah kehidupan.
Petuah Seorang Ayah kepada Anaknya
Di antara sekian banyak kisah hikmah Luqman Al Hakim, cerita perjalanannya bersama sang putra menjadi salah satu yang paling masyhur dan sering dijadikan pelajaran.
Kisah sederhana ini kerap digunakan sebagai gambaran betapa sulitnya manusia hidup dengan menggantungkan diri pada penilaian orang lain.
Apa pun pilihan yang diambil, selalu ada suara yang menilai, bahkan mencela.
Dalam cerita tersebut, Luqman tampil sebagai sosok ayah yang penuh kebijaksanaan. Ia menasihati anaknya dengan tutur kata lembut dan penuh makna.
Luqman berpesan agar sang anak senantiasa bersungguh-sungguh dalam menebar kebaikan, baik yang berkaitan dengan urusan ibadah maupun kehidupan sehari-hari.
Menurutnya, kebaikan adalah bekal utama yang harus dijaga dalam setiap langkah hidup.
Namun, di saat yang sama, Luqman juga mengingatkan bahaya jika seseorang terlalu larut memikirkan omongan manusia.
Ia menegaskan bahwa mencari keridhaan semua orang adalah hal yang mustahil.
Perbedaan karakter, cara berpikir, dan sudut pandang membuat manusia memiliki ukuran penilaian yang beragam dan sering kali saling bertentangan.
Untuk menanamkan pemahaman itu secara nyata, Luqman tidak hanya berhenti pada nasihat lisan.
Ia mengajak anaknya melakukan sebuah perjalanan dengan menunggang seekor keledai.
Melalui perjalanan sederhana inilah, Luqman hendak menunjukkan secara langsung bagaimana penilaian manusia dapat berubah-ubah, sementara kebenaran sejati tetap harus dipegang dengan prinsip yang kokoh.
Duduk di Atas Keledai, Dicibir
Perjalanan itu pun dimulai. Pada tahap awal, Luqman memilih menaiki keledai, sementara sang anak berjalan kaki di sampingnya sambil menuntun hewan tersebut.
Baru beberapa langkah ditempuh, suara-suara sumbang mulai bermunculan dari orang-orang yang menyaksikan mereka melintas.
Tatapan sinis dan komentar bernada mencela pun terdengar.
"Sungguh egois orang tua itu, anak kecil dibiarkan berjalan kaki, sementara dia duduk nyaman di atas keledai!"
Ia dianggap tega menikmati kenyamanan di atas keledai, sementara anaknya yang masih belia justru dibiarkan berjalan kaki.
Penilaian itu dilontarkan tanpa mengetahui maksud dan tujuan di balik pilihan yang diambil Luqman.
Menanggapi cibiran tersebut, Luqman tidak menunjukkan kemarahan, apalagi membela diri. Ia tetap melangkah dengan tenang.
Sesekali, ia menoleh ke arah putranya, seolah mengajak sang anak untuk menyimak dan memahami setiap ucapan yang keluar dari mulut orang-orang di sekitar mereka.
Bagi Luqman, komentar itu bukan untuk dilawan, melainkan dijadikan pelajaran tentang bagaimana manusia kerap menilai hanya dari apa yang tampak di permukaan.
Berganti Posisi, Tetap Disalahkan
Mendengar berbagai komentar yang terlontar, Luqman kemudian mengajak putranya untuk bertukar posisi.
Kali ini, sang anak menaiki keledai, sementara Luqman berjalan kaki sambil menuntun di sampingnya.
Harapannya, perubahan itu dapat meredam suara-suara sumbang yang sebelumnya muncul.
Namun, kenyataan berkata lain. Belum lama mereka melanjutkan perjalanan, cibiran kembali terdengar dari orang-orang yang menyaksikan.
Kali ini, sasaran kritik beralih kepada sang anak.
"Anak itu sungguh tidak tahu sopan santun, orang tua dibiarkannya berjalan kaki, sementara dia duduk santai di atas keledai!"
Luqman kembali bersikap tenang. Ia memanfaatkan momen itu untuk menunjukkan kepada anaknya betapa cepat dan mudahnya penilaian manusia berubah.
Posisi sudah ditukar, pilihan telah diubah, namun tetap saja ada pihak yang merasa tidak puas.
Dari situ, Luqman menanamkan pemahaman bahwa menggantungkan keputusan hidup pada komentar orang lain hanya akan membawa kegelisahan tanpa ujung.
Naik Bersama, Masih Dihujat
Berharap perjalanan dapat berlangsung tanpa suara sumbang, Luqman dan putranya akhirnya memilih menaiki keledai secara bersamaan.
Keduanya duduk berdampingan di punggung hewan itu, dengan harapan keputusan tersebut tidak lagi memancing komentar miring dari orang-orang di sekitar.
Namun, harapan itu kembali pupus. Belum jauh melangkah, nada-nada kecaman kembali terdengar.
Kali ini, Luqman dan anaknya dianggap tidak memiliki belas kasih.
"Betapa kejamnya bapak dan anak itu, keledai kecil yang kurus dipaksa membawa dua orang!"
Luqman tetap menanggapi keadaan itu dengan ketenangan.
Melalui situasi tersebut, ia ingin memperlihatkan kepada anaknya bahwa bahkan ketika seseorang berusaha menyesuaikan diri demi menghindari kritik, penilaian manusia tetap tidak pernah berhenti.
Apa yang dianggap benar oleh sebagian orang, bisa saja dipandang keliru oleh yang lain.
Berjalan Kaki, Tetap Dicemooh
Pada akhirnya, Luqman dan putranya memutuskan untuk turun dari keledai. Keduanya melangkah berdampingan, berjalan kaki sambil menuntun hewan tersebut di sisi mereka.
Pilihan itu diambil agar tidak lagi menimbulkan anggapan menyakiti siapa pun, baik manusia maupun hewan.
Namun, keputusan itu pun tak mampu menghentikan komentar bernada merendahkan.
Orang-orang justru menertawakan mereka dan menilai pilihan tersebut sebagai kebodohan.
"Bodoh sekali bapak dan anak itu, punya keledai tapi tidak dinaiki, justru memilih berjalan kaki!"
Di mata sebagian orang, Luqman dan anaknya dianggap tidak pandai memanfaatkan apa yang mereka miliki, karena memilih berjalan kaki meski tersedia keledai untuk ditunggangi.
Di tengah riuhnya ejekan itulah, Luqman menghentikan langkahnya. Ia menoleh kepada putranya dan memanfaatkan momen tersebut untuk menyampaikan sebuah pelajaran berharga.
Dengan ketenangan seorang bijak, Luqman hendak menanamkan pemahaman bahwa apa pun pilihan yang diambil, selalu saja ada suara yang mencela.
Dari sanalah makna sejati tentang prinsip hidup mulai ia ajarkan kepada sang anak.
Prinsip Hidup yang Tak Boleh Goyah
Dengan nada lembut dan penuh kebijaksanaan, Luqman kemudian menyampaikan inti dari seluruh perjalanan yang mereka lalui.
Ia menjelaskan kepada anaknya bahwa sejak langkah pertama hingga keputusan terakhir, tidak ada satu pun pilihan yang benar-benar mampu memuaskan semua orang.
Setiap tindakan, sebaik apa pun niatnya, hampir selalu mengundang komentar dan penilaian yang berbeda-beda.
Dari pengalaman itu, Luqman menegaskan bahwa manusia tidak seharusnya menjadikan pendapat orang lain sebagai penentu arah hidup.
Jika setiap langkah diukur berdasarkan suara sekitar, maka seseorang akan terus berada dalam kegelisahan dan kebimbangan tanpa akhir.
Menurut Luqman, yang jauh lebih penting adalah memiliki prinsip yang kokoh dan berpijak pada kebenaran.
Hidup seharusnya dijalani dengan tujuan meraih ridha Allah SWT serta menghadirkan manfaat bagi diri sendiri dan lingkungan.
Pengakuan dan pujian manusia, bagi Luqman, hanyalah sesuatu yang sementara dan tidak layak dijadikan tujuan utama dalam menjalani kehidupan.
Nasihat Luqman dalam Al-Qur’an
Di luar kisah perjalanannya bersama sang anak, Al-Qur’an juga mengabadikan rangkaian nasihat Luqman Al Hakim yang menjadi pijakan penting dalam membangun kehidupan yang beriman dan berakhlak.
Petuah-petuah tersebut tidak sekadar bersifat teoritis, melainkan menyentuh langsung sendi-sendi kehidupan manusia sehari-hari.
Luqman menanamkan tauhid sebagai landasan utama, dengan peringatan tegas agar manusia tidak menyekutukan Allah SWT dalam bentuk apa pun.
Artinya: "...Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.". (QS. Luqman: 13)
Ia juga menegaskan bahwa berbakti kepada kedua orang tua adalah kewajiban yang tidak bisa ditawar, sebagai wujud syukur atas jasa dan pengorbanan yang telah mereka berikan.
Selain itu, Luqman mengingatkan bahwa setiap perbuatan, sekecil apa pun, tidak pernah luput dari pengetahuan dan pengawasan Allah SWT.
Lebih jauh, Luqman mendorong manusia untuk senantiasa menegakkan shalat sebagai tiang kehidupan beragama.
Ia juga mengajarkan pentingnya mengajak kepada kebaikan dan berani mencegah perbuatan mungkar, meski hal itu kerap menghadirkan tantangan.
Dalam menghadapi berbagai ujian hidup, Luqman menekankan sikap sabar sebagai kunci keteguhan iman.
Tak kalah penting, ia mengingatkan agar manusia menjauhkan diri dari sifat sombong dan tidak berjalan di muka bumi dengan rasa angkuh, karena kerendahan hati adalah ciri kebijaksanaan sejati.
Artinya: ”Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai”. (QS. Luqman: 19)
Pelajaran Abadi untuk Kehidupan
Dari rangkaian kisah dan nasihat Luqmanul Hakim, tersimpan sebuah pesan mendalam tentang hakikat menjalani kehidupan.
Bahwa sepanjang hidup, manusia tidak akan pernah terbebas dari komentar, penilaian, bahkan cibiran orang lain.
Apa pun langkah yang diambil, selalu ada pihak yang memuji, dan tak jarang pula yang mencela.
Namun, Luqman mengajarkan bahwa ukuran nilai seseorang tidak ditentukan oleh banyaknya dukungan atau kerasnya kritik yang datang dari luar.
Yang jauh lebih penting adalah kemampuan untuk tetap teguh berada di jalan kebenaran, meski harus berjalan berlawanan dengan arus penilaian manusia.
Kisah Luqman bersama putranya menjadi pengingat bahwa hidup membutuhkan prinsip yang kokoh, keikhlasan dalam menebar kebaikan, serta tujuan yang jelas, yakni mengharap ridha Allah SWT.
Dengan bekal itulah, manusia mampu menghadapi berbagai ujian dan dinamika kehidupan.
Sebuah hikmah lintas zaman yang terus hidup dan relevan, dari generasi ke generasi hingga hari ini. (top)
Editor : Ali Mustofa