Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Rahasia Gerakan Wudhu: Sunnah Membersihkan Hidung, Benteng Alami dari Penyakit Pernapasan

Ali Mustofa • Rabu, 28 Januari 2026 | 09:48 WIB
Photo
Photo

RADAR KUDUS - Islam menempatkan kebersihan sebagai bagian yang tak terpisahkan dari keimanan.

Setiap ajaran ibadah yang ditetapkan tidak hanya berorientasi pada kesucian ritual, tetapi juga membawa maslahat besar bagi kesehatan dan kehidupan manusia.

Wudhu, yang selama ini dipahami sebagai syarat sah shalat, sejatinya menyimpan banyak hikmah tersembunyi yang baru disadari secara lebih luas seiring berkembangnya ilmu pengetahuan.

Gerakan-gerakan sederhana dalam wudhu bukanlah rangkaian tanpa makna, melainkan tuntunan yang sarat manfaat bagi tubuh manusia.

Salah satu bagian wudhu yang kerap dilakukan sekadarnya, bahkan sering diabaikan, adalah membersihkan hidung dengan memasukkan air lalu mengeluarkannya kembali.

Padahal, hidung merupakan organ vital yang setiap saat berhubungan langsung dengan lingkungan luar.

Melalui hidung, manusia menghirup udara, debu, serta berbagai partikel halus yang tak kasatmata, termasuk kuman dan bakteri penyebab penyakit.

Karena itu, perhatian Islam terhadap kebersihan hidung melalui sunnah Rasulullah SAW menjadi bukti bahwa ajaran agama telah mengajarkan prinsip pencegahan penyakit sejak dini.

Dari sinilah pentingnya menelaah lebih jauh hikmah di balik sunnah memasukkan air ke dalam hidung saat berwudhu.

Amalan yang tampak sederhana ini ternyata menyimpan nilai ibadah sekaligus manfaat kesehatan yang besar, menjadikannya salah satu bukti keselarasan antara ajaran Islam dan ilmu pengetahuan modern.

Membersihkan Hidung dari Kuman dan Kotoran

Dalam ajaran Islam, wudhu tidak hanya dipahami sebagai syarat sahnya shalat, tetapi juga sebagai tuntunan kebersihan dan kesehatan.

Salah satu sunnah penting dalam wudhu yang kerap dianggap sepele adalah memasukkan air ke dalam hidung lalu mengeluarkannya kembali, atau yang dikenal dengan istilah istinsyaq dan istintsar.

Amalan ini dianjurkan Rasulullah SAW untuk dilakukan sebanyak tiga kali setiap berwudhu.

Hal tersebut sebagaimana diriwayatkan dari Laqith bin Shabrah RA.

”Saya pernah bertanya kepada Rasulullah: ’Wahai Wasulullah beritahu aku tentang wudhu’. Rasul menjawab: ”Sempurnakanlah wudhu, bersihkan antara jari-jari, lakukan istibsyaq (memasukkan air ke dalam hidung), kecuali bila kamu berpuasa”.

Baca Juga: Rahasia Gerakan Wudhu: Membasuh Tangan, Tradisi Iman yang Sarat Nilai Kesehatan

Hadits ini menegaskan bahwa membersihkan hidung bukan sekadar pelengkap, melainkan bagian dari kesempurnaan wudhu.

Secara fungsi, memasukkan air ke dalam hidung lalu mengeluarkannya kembali bertujuan untuk membersihkan rongga hidung dari debu, kotoran, serta mikroorganisme berbahaya.

Hidung merupakan salah satu pintu utama masuknya udara ke dalam tubuh, sekaligus jalur pertama yang dilewati berbagai kuman dari lingkungan sekitar.

Dalam dunia medis, hidung dikenal sebagai tempat awal bersarangnya banyak kuman penyakit.

Penularan berbagai penyakit, seperti influenza, polio pada anak-anak, difteri, dan gangguan saluran pernapasan lainnya, umumnya terjadi melalui percikan air liur atau uap halus di udara.

Kuman-kuman tersebut mula-mula menempel di hidung dan tenggorokan, sebelum akhirnya masuk lebih jauh ke dalam tubuh dan menimbulkan penyakit.

Dengan membasuh hidung secara rutin melalui wudhu, kuman yang menempel dapat dikeluarkan sehingga tubuh memiliki perlindungan alami dari serangan penyakit.

Manfaat Istinsyaq Saat Sakit

Membersihkan hidung dengan air sangat bermanfaat, terutama ketika seseorang sedang mengalami gangguan seperti pilek, flu, atau peradangan saluran hidung.

Istinsyaq dan istintsar membantu mengeluarkan lendir, debu, dan sisa kotoran yang menghambat pernapasan.

Secara alami, sistem pernapasan yang sehat berlangsung melalui hidung. Rongga hidung dilengkapi tulang rawan dan selaput lendir yang berfungsi mengatur udara sebelum masuk ke paru-paru.

Selaput lendir ini berperan sebagai penghangat udara saat dingin dan pendingin saat udara panas.

Karena itu, menjaga kebersihan hidung menjadi sangat penting agar fungsi pernapasan tetap optimal.

Pengamatan menunjukkan adanya perbedaan kondisi rongga hidung antara orang yang terbiasa berwudhu dan mereka yang jarang membersihkan hidung.

Pada orang yang tidak rutin berwudhu, warna rongga hidung cenderung kusam, berminyak, dan banyak kotoran debu yang menempel hingga ke bagian dalam.

Permukaan rongga hidung terlihat lebih lengket dan gelap.

Sebaliknya, pada orang-orang yang teratur berwudhu, permukaan rongga hidung tampak lebih cerah, bersih, dan hampir tidak ditemukan debu.

Hal ini menunjukkan bahwa kebiasaan membasuh hidung memberikan dampak nyata terhadap kebersihan organ pernapasan.

Fakta Ilmiah di Balik Sunnah Rasulullah

Hasil pengamatan melalui mikroskop memperlihatkan bahwa pada hidung orang yang tidak terbiasa berwudhu terdapat jumlah kuman yang jauh lebih banyak, termasuk kuman yang mudah menular dan berbahaya.

Sementara itu, pada orang yang rutin berwudhu, rongga hidung relatif bersih dari tempat berkembangnya kuman.

Penelitian juga menunjukkan bahwa memasukkan air ke dalam hidung satu kali saja saat wudhu mampu membersihkan sekitar setengah jumlah kuman yang ada.

Jika dilakukan dua kali, tingkat kebersihan meningkat hingga dua pertiga. Dan apabila dilakukan tiga kali, maka rongga hidung dapat dibersihkan secara optimal dari kuman berbahaya.

Temuan ini semakin menguatkan sabda Rasulullah SAW yang menganjurkan agar istinsyaq dilakukan secara sempurna.

Secara ilmiah, kebersihan hidung dapat terjaga selama tiga hingga lima jam, sebelum kembali terpapar kotoran dan kuman, yang kemudian dapat dibersihkan kembali melalui wudhu berikutnya.

Penelitian lain juga mengungkap bahwa tingkat risiko terkena penyakit pada orang yang jarang shalat dan tidak rutin berwudhu cenderung lebih tinggi dibandingkan mereka yang menjaga wudhu.

Istinsyaq dan istintsar terbukti mampu menghilangkan berbagai jenis bakteri berbahaya dalam hidung.

Termasuk bakteri penyebab infeksi saluran pernapasan, radang paru-paru, gangguan rongga hidung, hingga penyakit rematik yang berkaitan dengan infeksi.

Dengan demikian, sunnah Rasulullah SAW dalam wudhu tidak hanya bernilai ibadah, tetapi juga mengandung hikmah besar bagi kesehatan.

Sebuah bukti bahwa ajaran Islam telah jauh lebih dahulu menanamkan prinsip kebersihan dan pencegahan penyakit, jauh sebelum ilmu kedokteran modern berkembang seperti sekarang. (top)

 

Editor : Ali Mustofa
#Pernafasan #bakteri #istinsyaq #wudhu #hidung #rasulullah #kuman #penyakit #tubuh #kebersihan