RADAR KUDUS - Di tengah padatnya aktivitas harian, tubuh manusia kerap mengalami penurunan energi dan konsentrasi, terutama setelah menjalani kesibukan sejak pagi.
Islam, sebagai agama yang mengajarkan keseimbangan hidup, tidak mengabaikan kebutuhan istirahat di sela-sela kerja.
Bahkan, dalam tuntunan syariat, terdapat anjuran untuk mengambil jeda sejenak guna memulihkan tenaga dan menjaga produktivitas.
Dari sinilah konsep tidur siang yang dianjurkan, dikenal dengan istilah qailullah, mendapatkan tempat penting dalam pola hidup Islami.
Qailullah, Tidur Siang yang Dianjurkan
Di antara berbagai bentuk tidur siang, Islam menganjurkan satu kebiasaan yang sarat manfaat, yakni tidur sejenak di tengah hari yang dikenal dengan istilah qailullah.
Tidur ini bukanlah tidur panjang yang membuat tubuh terasa berat atau malas beraktivitas, melainkan istirahat singkat yang bertujuan menyegarkan kembali fisik dan menenangkan pikiran setelah menjalani kesibukan sejak pagi.
Qailullah dilakukan pada waktu pertengahan hari, ketika tenaga mulai berkurang dan konsentrasi menurun.
Dengan beristirahat sejenak, tubuh memperoleh kesempatan untuk memulihkan stamina, sementara pikiran kembali jernih dan siap menghadapi aktivitas selanjutnya.
Karena itulah, tidur siang jenis ini justru mendorong produktivitas, bukan sebaliknya.
Al-Qur’an secara tegas mengakui keberadaan tidur siang sebagai bagian dari tanda-tanda kebesaran dan kekuasaan Allah SWT.
Hal tersebut sebagaimana ditegaskan dalam firman-Nya: “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah tidurmu di waktu malam dan siang hari serta usahamu mencari sebagian dari karunia-Nya.” (QS. Ar-Rum: 23)
Ayat ini menegaskan bahwa tidur, baik yang dilakukan pada malam maupun siang hari, merupakan bagian dari sunnatullah yang telah ditetapkan bagi manusia.
Tidur bukanlah penghalang usaha, tetapi justru menjadi penopang bagi ikhtiar manusia dalam mencari karunia Allah SWT.
Dengan istirahat yang cukup dan teratur, manusia mampu menjalani kehidupan dengan lebih seimbang, sehat, dan produktif.
Melalui qailullah, Islam mengajarkan pentingnya menjaga harmoni antara kerja dan istirahat.
Keduanya tidak dipertentangkan, melainkan saling melengkapi, agar manusia dapat menjalani tugas-tugas kehidupannya dengan tenaga yang terjaga dan semangat yang terus menyala.
Teladan Rasulullah dalam Pola Tidur
Membiasakan diri untuk beristirahat, termasuk tidur siang di waktu pertengahan hari, merupakan amalan yang memiliki nilai tersendiri dalam Islam.
Kebiasaan ini tidak lepas dari teladan Rasulullah SAW yang menjadikan tidur sebagai bagian dari pengaturan hidup yang seimbang.
Dalam pandangan Islam, tidur bukan sekadar pelepas lelah, melainkan nikmat besar dari Allah SWT agar manusia mampu menjalani kehidupan dengan tenaga yang terjaga, semangat yang terus menyala, serta keseimbangan antara jasmani dan rohani.
Rasulullah SAW menunjukkan contoh yang sangat ideal dalam mengelola waktu tidur.
Beliau biasa beristirahat pada awal malam, kemudian bangun pada pertengahan malam atau memasuki awal paruh kedua malam.
Setelah terjaga, beliau membersihkan diri dengan bersiwak, berwudhu, lalu menunaikan shalat malam dengan penuh kekhusyukan.
Pada saat itu, tubuh telah memperoleh porsi istirahat yang cukup, sehingga otot dan anggota badan kembali segar, sementara jiwa dikuatkan melalui ibadah.
Pola ini mencerminkan keseimbangan yang luar biasa.
Tidur memberikan hak kepada tubuh untuk beristirahat, sementara bangun di malam hari menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Aktivitas ibadah tersebut juga menjadi bentuk “olah raga ruhani” yang menghidupkan hati dan menenangkan batin.
Dengan cara inilah Rasulullah SAW memadukan kesehatan fisik dengan kemuliaan spiritual, serta menyatukan kepentingan dunia dan akhirat dalam satu ritme kehidupan yang harmonis.
Teladan ini mengajarkan bahwa pengaturan tidur yang baik bukan hanya berdampak pada kesehatan jasmani, tetapi juga berperan besar dalam membentuk ketenangan jiwa dan kualitas ibadah seseorang.
Etika Tidur ala Rasulullah SAW
Rasulullah SAW memberikan teladan yang sangat seimbang dalam urusan tidur.
Beliau tidak pernah berlebihan hingga terjerumus dalam kemalasan, namun juga tidak mengurangi waktu istirahatnya sampai membahayakan kesehatan tubuh.
Tidur dilakukan secukupnya, sesuai kebutuhan jasmani, dan ditempuh dengan cara yang paling baik serta penuh adab.
Ketika waktu tidur tiba, Rasulullah SAW biasa berbaring miring ke arah kanan.
Dalam posisi tersebut, beliau mengisi detik-detik sebelum terlelap dengan berdzikir dan mengingat Allah SWT, hingga akhirnya tertidur dalam keadaan hati yang tenang.
Kebiasaan ini menunjukkan bahwa bahkan saat beristirahat pun, hubungan seorang hamba dengan Tuhannya tetap terjaga.
Rasulullah SAW juga sangat menjaga kondisi tubuh sebelum tidur. Perut beliau tidak dibiarkan terlalu kenyang oleh makanan atau minuman.
Beliau tidak tidur langsung di atas tanah, namun juga tidak memilih alas tidur yang tinggi atau mewah.
Tempat tidur beliau sangat sederhana, hanya berupa tilam dari serabut dengan bantal seadanya.
Dalam beberapa riwayat disebutkan, beliau terkadang meletakkan tangan di bawah pipinya saat berbaring, sebuah sikap yang mencerminkan ketenangan, kesahajaan, dan kerendahan hati.
Dari teladan tersebut, jelas bahwa tidur dalam Islam memiliki adab dan nilai spiritual.
Tidur bukan sekadar aktivitas untuk menghilangkan rasa lelah, melainkan bagian dari ibadah apabila dilakukan dengan niat yang benar, pada waktu yang tepat, serta dengan cara yang sesuai tuntunan.
Dengan etika tidur yang dicontohkan Rasulullah SAW, istirahat menjadi sarana menjaga kesehatan sekaligus wujud syukur atas nikmat Allah SWT yang begitu besar. (top)
Editor : Ali Mustofa