Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

‎Jejak Kiai Telingsing dan Sunan Kudus dalam Dakwah Islam Lewat Seni dan Budaya

Redaksi Radar Kudus • Rabu, 21 Januari 2026 | 14:59 WIB
Dakwah Sunan Kudus Lewat Seni dan Budaya Lokal  (Foto: Faris Fitrianto)
Dakwah Sunan Kudus Lewat Seni dan Budaya Lokal (Foto: Faris Fitrianto)

RADAR KUDUS – Pada masa lampau, hiduplah seorang pedagang Muslim asal Tiongkok bernama Te Ling Sing, yang lebih dikenal masyarakat sebagai Kiai Telingsing.

Ia bermukim di sebuah daerah bernama Tajug, wilayah yang saat itu dikenal sebagai pusat aktivitas keagamaan Hindu karena banyaknya tempat ibadah umat Hindu.

‎Masyarakat Tajug umumnya menggantungkan hidup sebagai petani, nelayan, pembuat batu bata, dan pedagang.

‎Selain berdagang dan berdakwah, Kiai Telingsing juga mengembangkan seni ukir dengan motif khas Dinasti Sung.

Ia membaur dengan masyarakat melalui aktivitas sehari-hari seperti bertani, berdagang, serta pendekatan seni dan budaya.

‎Salah satu peristiwa penting terjadi ketika Syekh Ja’far membeli seekor sapi yang didatangkan langsung dari India.

Sapi tersebut diikat di halaman rumahnya, mengundang rasa penasaran warga.

Dalam ajaran Hindu, sapi merupakan hewan suci yang tidak boleh disakiti.

Melihat perhatian warga, Syekh Ja’far Shadiq menegaskan bahwa ia melarang penyembelihan sapi karena sejak kecil pernah diselamatkan oleh seekor sapi.

‎Ia kemudian mengaitkan kisah tersebut dengan Surah Al-Baqarah dalam Al-Qur’an.

Pendekatan ini membuat masyarakat tertarik dan mulai ingin mengenal Islam lebih dalam.

‎Berkat kesabaran, keramahan, dan kewibawaannya, sebagian masyarakat Tajug akhirnya memeluk Islam.

‎Banyak tokoh dari luar daerah pun datang menemui Syekh Ja’far Shadiq. Setiap tamu yang datang selalu diberinya cendera mata sebagai kenang-kenangan.

‎Mengetahui keahlian Kiai Telingsing dalam seni ukir, Syekh Ja’far memesan karya ukiran untuk dijadikan hadiah.

‎Ketika cendera mata tersebut dibuka, awalnya tampak hanya kendi biasa. Namun saat kendi itu tak sengaja pecah, tampaklah ukiran indah bertuliskan lafaz syahadat di bagian dalamnya.

‎Syekh Ja’far Shadiq sangat terkesan dan akhirnya bertemu langsung dengan Kiai Telingsing.

Dari pertemuan itu, terjalin persahabatan dan kerja sama dakwah melalui seni dan budaya.

Syekh Ja’far Shadiq kemudian dikenal luas sebagai ulama besar dan dipercaya memimpin jamaah haji, sehingga mendapat gelar Amirul Hajj.

‎Ia juga pernah menetap di Baitul Maqdis (Palestina) untuk memperdalam ilmu agama.

Saat terjadi wabah penyakit mematikan di wilayah tersebut, jasanya membantu mengatasi wabah membuat Amir Palestina hendak memberinya wewenang wilayah.

‎Namun tawaran itu ditolak karena Syekh Ja’far Shadiq memilih mengabdikan ilmunya di tanah Jawa.

‎Sekembalinya ke Jawa, Syekh Ja’far Shadiq mendirikan masjid dengan arsitektur yang memadukan unsur Hindu dan Islam agar masyarakat tidak merasa asing.

‎Masjid tersebut awalnya bernama Al-Manar atau Masjid Al-Aqsa, terinspirasi dari Masjid Al-Aqsa di Yerusalem.

Di sekitar masjid, ia mendirikan pesantren sebagai pusat pendidikan Islam.

‎Wilayah Tajug pun berkembang pesat dan menarik pendatang dari berbagai daerah. Nama wilayah itu kemudian berubah menjadi Al-Quds, yang kelak dikenal sebagai Kota Kudus.

‎Syekh Ja’far Shadiq sendiri dikenal sebagai salah satu Wali Songo, dengan nama Sunan Kudus.

Hingga kini, Menara Masjid Kudus menjadi saksi sejarah dakwah Islam yang menyatu dengan seni dan budaya lokal. (Ghina Nailal Husna)


Editor : Ali Mustofa
#sejarah #sunan kudus #kiai telingsing #Kudus