Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Rahasia Gerakan Shalat: Tasyahud Akhir, Penutup Ibadah yang Menguatkan Postur dan Menenangkan Pikiran

Ali Mustofa • Senin, 19 Januari 2026 | 10:30 WIB
Duduk tasyahud
Duduk tasyahud

RADAR KUDUS - Dalam susunan shalat, tasyahud akhir hadir sebagai penutup yang tidak sekadar bermakna ibadah, tetapi juga menyimpan hikmah kesehatan yang kerap luput dari perhatian.

Duduk pada tasyahud akhir dinilai lebih ideal dibandingkan duduk bersila biasa, karena melibatkan susunan tubuh yang lebih proporsional dan terarah.

Pada posisi ini, tulang kering bertumpu di cekungan telapak kaki kiri, sementara ibu jari kaki ditekuk dengan mantap, membentuk pondasi yang kokoh bagi tubuh.

Susunan duduk tersebut membuat beban tubuh terdistribusi secara seimbang.

Tidak ada tekanan berlebihan pada satu sisi, sehingga tubuh dapat bertahan dalam keadaan tenang dan stabil.

Inilah yang menjadikan tasyahud akhir sebagai posisi duduk yang alami, selaras dengan anatomi manusia, sekaligus mendukung terciptanya kekhusyukan dalam ibadah.

Lebih jauh, struktur duduk tasyahud akhir memberikan tekanan lembut namun terfokus pada bagian-bagian kaki yang jarang terlatih dalam aktivitas harian.

Tekanan ini berperan menjaga kelenturan jaringan otot dan jalur saraf, serta membantu tubuh beradaptasi dengan posisi rendah tanpa kehilangan keseimbangan.

Secara tidak langsung, gerakan ini melatih kestabilan tubuh dan ketenangan postur, menjadikannya sebagai salah satu bentuk latihan keseimbangan alami yang tersimpan rapi dalam setiap rakaat shalat.

Aktivasi Saraf dan Peningkatan Konsentrasi

Ketika posisi duduk tasyahud akhir dijalani dengan penuh kesadaran, manfaatnya tidak berhenti pada ketenangan batin semata, tetapi merambat hingga ke kesehatan saraf dan kejernihan pikiran.

Gerakan sederhana, seperti memegang pergelangan kaki kanan lalu menekan dan menggulir perlahan area cekungan telapak kaki kiri, dapat menjadi rangsangan alami bagi bagian tubuh yang jarang tersentuh.

Tekanan lembut ini diyakini membantu mengurai kekakuan bahkan endapan pengapuran yang kerap tersembunyi di area tersebut.

Cekungan telapak kaki kiri sendiri dikenal memiliki keterkaitan dengan jalur saraf keseimbangan yang terhubung ke saraf mata.

Ketika bagian ini terlatih dan tetap lentur, tubuh akan lebih mudah menjaga stabilitas, sementara pikiran menjadi lebih fokus.

Tak heran jika duduk tasyahud akhir yang dilakukan dengan tenang dan cukup waktu sering kali menghadirkan rasa ringan di kepala serta kejernihan dalam berpikir.

Di sisi lain, penempatan tangan kiri di atas lutut kiri juga bukan tanpa makna.

Posisi ini memungkinkan sentuhan langsung dengan area cekungan lutut, salah satu jalur penting ujung-ujung saraf.

Dari sentuhan tersebut, tubuh seolah mengirimkan isyarat tentang kondisi saraf dan kelenturan sendi.

Dengan demikian, tasyahud akhir bukan hanya penutup shalat.

Melainkan juga momen evaluasi alami bagi tubuh untuk menjaga keseimbangan, konsentrasi, dan kesadaran diri.

Duduk Tenang sebagai Penutup Ibadah

Tasyahud akhir sejatinya bukanlah jeda pasif sebelum salam diucapkan.

Ia menjadi fase pamungkas yang sarat makna, tempat tubuh dan jiwa diajak berhenti sejenak untuk meresapi seluruh rangkaian ibadah yang telah dilalui.

Pada momen inilah ketenangan diperteguh, napas diatur kembali, dan kesadaran diarahkan sepenuhnya kepada Allah SWT.

Posisi duduk yang dilakukan dengan benar memberi kesempatan bagi tubuh untuk menata ulang keseimbangannya.

Otot-otot yang sebelumnya aktif bergerak kini dilonggarkan, sementara saraf-saraf kembali berada pada ritme yang stabil.

Aliran darah dan energi pun berjalan lebih teratur, menciptakan rasa nyaman dan ringan yang menyeluruh.

Dalam ketenangan tasyahud akhir, shalat menampakkan kesempurnaannya.

Yaitu menyatukan kepatuhan raga dan kekhusyukan jiwa, sebelum ibadah ditutup dengan salam penuh kedamaian.

Ketenteraman dalam Duduk Shalat

Rasulullah SAW sejak awal telah menekankan bahwa shalat tidak cukup hanya dilakukan dengan urutan gerakan yang benar, tetapi juga harus diiringi dengan ketenangan dan kesungguhan.

Termasuk di dalamnya adalah duduk pada bagian akhir shalat.

Dalam sebuah hadis, Nabi SAW bersabda, “Kemudian duduklah hingga kamu benar-benar duduk dengan tenang.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Pesan ini menunjukkan bahwa ketenteraman dalam duduk bukanlah perkara sepele, melainkan bagian dari kesempurnaan shalat itu sendiri.

Sejalan dengan hal tersebut, Allah SWT menegaskan bahwa keberuntungan hakiki hanya diraih oleh orang-orang yang mampu menghadirkan kekhusyukan dalam shalatnya.

Allah berfirman, “Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, yaitu mereka yang khusyuk dalam shalatnya.” (QS. Al-Mu’minun: 1–2).

Kekhusyukan ini tidak hanya tercermin dalam bacaan dan niat, tetapi juga tampak dalam sikap tubuh yang tenang, tertata, dan penuh kesadaran.

Dari ayat dan hadis tersebut, semakin jelas bahwa duduk tasyahud akhir bukan sekadar formalitas menjelang salam.

Ia adalah momentum penting yang menyatukan ketenangan jiwa dan kepatuhan raga.

Dalam duduk yang tenang itulah, shalat mencapai puncak kesempurnaannya, sekaligus menghadirkan hikmah kesehatan dan ketenteraman batin yang Allah sisipkan dalam setiap gerakan ibadah. (top)

Editor : Ali Mustofa
#kesehatan #konsentrasi #duduk #Saraf #tasyahud #Allah SWT #shalat #ibadah #Gerakan