Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Mengenal Vertigo Lebih Dalam, dari Penyebab hingga Pencegahan Berkelanjutan

Ali Mustofa • Rabu, 14 Januari 2026 | 14:31 WIB
Ilustrasi sakit kepala.
Ilustrasi sakit kepala.

RADAR KUDUS – Vertigo sering kali disalahartikan sebagai pusing biasa yang dapat hilang dengan istirahat singkat.

Padahal, gangguan ini merupakan kondisi serius yang dapat datang tanpa peringatan dan langsung mengguncang keseimbangan tubuh penderitanya.

Rasa kepala berputar hebat membuat seseorang sulit berdiri tegak, pandangan terasa oleng, bahkan aktivitas sederhana pun menjadi tantangan tersendiri.

Tidak sedikit penderita vertigo yang harus berjuang menghadapi gejala lanjutan. Selain sensasi berputar pada kepala, keluhan dapat menjalar ke berbagai sistem tubuh.

Saraf keseimbangan mengalami gangguan, saluran pencernaan ikut bereaksi, dan kondisi fisik secara umum pun menurun.

Tubuh terasa lemas, mual muncul berulang, hingga konsentrasi benar-benar terganggu. Inilah yang membedakan vertigo dari sekadar sakit kepala biasa.

Kompleksitas gejala tersebut menunjukkan bahwa vertigo tidak berdiri sendiri. Ada keterkaitan antara sistem saraf, otot, hingga organ dalam yang saling memengaruhi.

Karena itu, memahami vertigo tidak cukup hanya dari sisi keluhan yang dirasakan, tetapi juga perlu melihat akar penyebabnya, cara mencegahnya agar tidak mudah kambuh, serta langkah penanganan yang tepat dan berkesinambungan.

Pemahaman menyeluruh inilah yang menjadi dasar penting dalam upaya menjaga kesehatan jangka panjang.

Vertigo tidak hanya perlu diobati saat menyerang, tetapi juga dicegah melalui pola perawatan tubuh yang teratur dan disiplin.

Mulai dari mengenali pemicu, melakukan gerakan tubuh yang tepat, hingga menjaga keseimbangan fisik dan mental.

Uraian mengenai penyebab, pencegahan, dan penanganan vertigo ini merujuk pada buku Mukjizat Gerakan Shalat untuk Pencegahan dan Pengobatan Penyakit karya Madyo Wratsongko bersama dr Sagiran.

Penyebab Vertigo

Vertigo kerap disebut sebagai salah satu gangguan yang lebih menyiksa dibandingkan migrain.

Bukan hanya rasa pusing berputar yang datang tiba-tiba, penderita vertigo sering merasakan rangkaian keluhan lain yang menyerang tubuh secara bersamaan.

Kondisi ini membuat aktivitas sehari-hari nyaris lumpuh, bahkan untuk sekadar berdiri atau membuka mata pun terasa berat.

Pada banyak kasus, vertigo disertai gangguan pada saluran pencernaan. Perut terasa mules seperti diremas dan dipelintir dari dalam, disusul mual hebat yang berujung muntah berulang.

Sebagian penderita juga mengalami diare, sehingga cairan tubuh cepat terkuras. Bila berlangsung lama tanpa penanganan tepat, kondisi ini dapat memicu dehidrasi dan memperparah keadaan fisik pasien.

Secara medis, vertigo berkaitan erat dengan gangguan pada sistem saraf keseimbangan tubuh.

Salah satu pemicunya adalah terjepitnya urat saraf akibat pengapuran.

Lokasi gangguan ini tidak hanya berada di area telinga dalam, tetapi juga dapat menjalar hingga pangkal otak bagian belakang, tepatnya di sekitar belikat.

Selain itu, saraf yang terhubung dengan organ perut seperti liver dan limpa turut berperan dalam memperparah gejala yang muncul.

Tak berhenti di situ, gangguan saraf juga bisa melibatkan bagian tubuh lain, seperti lutut bagian dalam, urat keting atau pangkal tumit, hingga area di sekitar lingkar mata kaki.

Kompleksitas inilah yang membuat vertigo sering kali sulit ditangani dan membutuhkan pemeriksaan menyeluruh.

Ironisnya, penanganan yang tidak tepat justru dapat memicu masalah baru.

Konsumsi obat-obatan kimia dalam jangka panjang berpotensi menimbulkan efek samping, mulai dari iritasi lambung hingga pembengkakan pada limpa akibat reaksi toksik dalam tubuh.

Karena itu, vertigo tidak bisa dianggap sebagai gangguan ringan, melainkan kondisi serius yang perlu ditangani dengan cermat dan berkelanjutan.

Pemahaman yang tepat mengenai penyebab vertigo menjadi kunci penting agar penanganan yang dilakukan tidak hanya meredakan gejala sesaat, tetapi juga mencegah dampak lanjutan yang lebih berbahaya bagi kesehatan.

Pencegahan Vertigo

Upaya pencegahan vertigo pada dasarnya memiliki kemiripan dengan langkah-langkah pencegahan migrain.

Namun, terdapat penekanan tambahan pada penerapan teknik gerakan tubuh yang lebih terarah dan konsisten.

Pendekatan ini memadukan unsur aktivitas fisik, pengaturan posisi tubuh, serta pengolahan pernapasan yang dilakukan secara disiplin.

Hal ini sejalan dengan perintah Allah SWT tentang shalat yang memiliki dimensi keteraturan dan kedisiplinan waktu, sebagaimana firman-Nya:

Artinya: “Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (QS. An-Nisa: 103)

Salah satu metode yang kerap dianjurkan adalah penguatan gerakan shalat dengan penyesuaian tertentu.

Posisi duduk di antara dua sujud, misalnya, tidak sekadar menjadi bagian dari rangkaian ibadah, tetapi juga dimanfaatkan sebagai sarana relaksasi saraf.

Begitu pula dengan posisi duduk perkasa, di mana seluruh jari kaki ditekuk ke bawah.

Postur ini diyakini membantu melenturkan urat-urat yang berperan dalam menjaga keseimbangan tubuh.

Selain itu, pencegahan vertigo juga dilakukan melalui pijatan yang relatif kuat pada titik-titik tertentu.

Area cekungan di sekitar mata kaki menjadi salah satu fokus utama, terutama jika terdapat pengapuran yang menekan saraf.

Pijatan dilakukan sambil dikerik secara perlahan hingga muncul sensasi denyutan, yang oleh sebagian orang dirasakan seperti aliran listrik halus menuju ujung-ujung jari.

Teknik ini bertujuan meredakan tekanan saraf yang kaku dan menghambat aliran energi tubuh.

Teknik lanjutan memanfaatkan siku sebagai alat bantu pijat. Gerakan dimulai dari pangkal paha, kemudian ditarik perlahan hingga mendekati pangkal lutut.

Cara ini dipercaya mampu membuka jalur saraf yang kerap menjadi sumber keluhan pusing berputar.

Pada posisi duduk saat tahiyat awal, tekanan siku juga diarahkan ke bagian betis, khususnya pada urat keting.

Tekan dan geser dilakukan berulang hingga rasa linu dan kaku berangsur hilang.

Tak kalah penting, saraf di area perut turut menjadi perhatian.

Penjepitan dan tarikan ringan pada urat saraf perut bisa dilakukan saat duduk di antara dua sujud maupun ketika tubuh dalam posisi berbaring.

Teknik ini dimaksudkan untuk melancarkan kembali kerja saraf yang berkaitan dengan sistem pencernaan, yang sering kali ikut terganggu saat vertigo menyerang.

Sebagai penutup, dilakukan gerakan sujud dengan kekuatan maksimal. Kedua tangan ditarik ke belakang sejauh mungkin, tubuh ditahan dalam posisi tersebut sambil mengatur napas dan melafalkan zikir.

Posisi ini dipertahankan hingga tubuh berkeringat, sebagai tanda terjadinya proses pelepasan ketegangan dan racun dalam tubuh.

Rangkaian gerakan ini diyakini membantu menjaga keseimbangan, sekaligus menjadi langkah preventif agar vertigo tidak mudah kambuh.

Penanganan saat Vertigo Menyerang

Saat vertigo menyerang, langkah pertama yang perlu dilakukan adalah memberikan waktu bagi tubuh untuk benar-benar beristirahat.

Pada fase ini, penderita umumnya tidak memungkinkan untuk beraktivitas normal karena rasa pusing berputar disertai mual dan nyeri yang cukup hebat.

Penanganan awal biasanya difokuskan pada pemulihan kondisi fisik, termasuk pemberian cairan tubuh melalui infus guna mencegah dehidrasi, serta konsumsi obat-obatan untuk menahan rasa sakit dan meredakan gejala akut.

Dalam kondisi serangan, tindakan pemijatan belum dianjurkan. Tubuh masih berada dalam keadaan sensitif, sehingga fokus utama adalah menstabilkan sistem saraf dan mengurangi rasa nyeri.

Setelah keluhan utama berangsur mereda dan kondisi pasien mulai membaik, barulah terapi pijat dapat dilakukan sebagai tahap lanjutan.

Teknik pijatan untuk vertigo tidak bisa dilakukan secara sembarangan.

Pijatannya harus menyeluruh dan terarah, menyasar titik-titik saraf yang berkaitan langsung dengan keseimbangan tubuh.

Tujuannya adalah membantu melonggarkan saraf yang tegang, memperbaiki aliran energi tubuh, serta mengembalikan fungsi saraf ke kondisi normal.

Proses ini membutuhkan ketelatenan dan pemahaman yang baik terhadap jalur-jalur saraf yang terlibat.

Setelah sistem saraf kembali stabil, penting untuk diingat bahwa pengobatan tidak berhenti pada hilangnya rasa sakit semata.

Upaya terbaik justru terletak pada langkah pencegahan agar vertigo tidak mudah kambuh.

Pencegahan tersebut dapat dilakukan melalui kebiasaan yang teratur, seperti menjaga kebersihan dan ketenangan tubuh lewat wudhu, menerapkan teknik gerakan shalat dengan posisi yang tepat, serta melakukan pijatan ringan pada titik-titik saraf yang saling terhubung.

Dengan pendekatan yang konsisten dan berkelanjutan, fungsi saraf diharapkan dapat terjaga secara lebih permanen.

Vertigo pun tidak hanya ditangani ketika muncul, tetapi dicegah sejak awal melalui pola perawatan tubuh yang seimbang antara istirahat, gerakan, dan kesadaran menjaga kesehatan secara menyeluruh. (top)

Editor : Ali Mustofa
#kesehatan #pencernaan #Saraf #vertigo #tubuh #istirahat