RADARKUDUS - Ketika Imam Al Ghazali menulis Ihya Ulumuddin beliau takut tulisannya akan dibakar, bukan oleh musuh, tapi oleh sahabat-sahabatnya sendiri.
Kenapa? Sebab itu membongkar bahwa neraka paling panas bukan di akhirat, tapi di dalam dada yang tak pernah puas.
"Nafsu bukan musuh, tapi anjing yang kelaparan. Kamu bisa ikut terkam, atau beri tulang lalu suruh mengawal," kata psikologi sufi.
Pilihannya hanya dua: jadi tuan atau jadi tulang. Tak ada jalan ketiga.
Imam Al Ghazali mengatakan jika orang yang paling bahagia bukan yang punya paling banyak, tapi yang paling sedikit kehausan.
Coba ini, catat satu barang yang kamu incar 24 jam terakhir, lalu hapus wishlist-nya. Rasakan napasmu melonggar, itu tanda jiwa sedang lepas dari rantai.
Rahasia kejam yang dulu hanya dibisikkan di madrasah: dzikir bukan untuk Tuhan, tapi untuk manusia yang lupa bahwa luka itu lubang, bukan taman.
Ucapkan laa ilaaha illallaah sambil tekan titik nyeri hatimu yang paling bising.
Lakukan 33x, biarkan gema itu membuyarkan ilusi bahwa masalahmu lebih besar dari Yang Maha Besar.
Kalau air mata keluar, jangan tahan itu debu yang terlama di sudut jiwa.
Tes bahaya: tahan napas selama baca ayat ini sampai titik terakhir.
Jika kamu berhasil, berarti kamu masih menganggap hidup ini milikmu; jika gagal, selamat kamu baru saja merasakan kematian mini dan menyadari bahwa setiap detik adalah pinjaman.
"Orang yang paling jauh dari Tuhan bukan yang tidak shalat, tapi yang shalat tapi tetap merasa hatinya gelap," ucap Imam Al Ghazali dengan menutup buku membuat para murid gemetar mendengar kalimat tersebut.
Editor : Ali Mustofa