Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Mengenal Allah SWT, Jalan Menuju Pemahaman Hakikat Kehidupan

Ali Mustofa • Kamis, 2 Oktober 2025 | 16:02 WIB
Ilustrasi seorang pria tengah sujud saat salat.
Ilustrasi seorang pria tengah sujud saat salat.

RADAR KUDUS – Setiap pemeluk agama diwajibkan untuk mengenal Allah SWT sebagai Tuhan Yang Maha Pencipta, pengatur seluruh alam semesta beserta isinya dari tiada menjadi ada.

Keyakinan terhadap Tuhan Yang Maha Esa (Al-Ahad) menegaskan bahwa hanya ada satu Tuhan, tanpa sekutu bagi-Nya.

Dengan mengenal Allah SWT, seorang hamba akan memahami hakikat keberadaan-Nya.

Hal ini menjadi tanda nyata keimanan kepada Allah SWT sekaligus kepada agamanya.

Dalam rukun iman yang pertama, beriman kepada Allah SWT menjadi syarat utama, selain iman kepada malaikat, kitab, rasul, hari kiamat, serta qada dan qadar.

Iman berarti keyakinan yang kokoh terhadap kebenaran.

Sedangkan iman kepada Allah SWT bermakna percaya bahwa hanya Allah SWT yang berhak disembah, tiada tuhan selain Dia.

Perintah mengenal Allah SWT ini disebutkan dalam Al-Qur’an surat Ali Imran ayat 190.

Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan pergantian siang dan malam terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang-orang yang berakal.”

Pengenalan terhadap Allah SWT memiliki urgensi besar bagi manusia, yaitu sebagai jalan untuk memahami dirinya sendiri, serta meraih keberkahan hidup di dunia maupun di akhirat.

Orang yang mengenali dirinya dengan baik, akan lebih mudah mengenal siapa Tuhannya.

Dengan demikian, ia menyadari bahwa dirinya hanyalah hamba yang lemah, terbatas, dan segala urusannya berada di bawah kekuasaan Allah SWT.

Mengenal Tuhan Yang Maha Esa

Fitrah manusia sejatinya adalah bertuhan, meski arah ketuhanan mereka berbeda-beda.

Ada yang mengagungkan materi, berhala, pohon, bahkan menjadikan nafsu atau ilmu pengetahuan sebagai “tuhan”-nya. Sebagian bahkan menyembah setan.

Karena itu, Al-Qur’an menegaskan bahwa ada orang yang berpaling dari Allah SWT, meski tetap “menyembah sesuatu”.

Allah SWT berfirman dalam QS Fathir ayat 6: “Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu). Sesungguhnya ia hanya mengajak golongannya untuk menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.”

Untuk memahami keberadaan Allah, manusia perlu menggunakan akal sehat dan pola pikir yang benar. Cara berpikir akan menentukan sikap dan arah hidup seseorang.

Misalnya, rumah terbakar tentu ada penyebabnya, tidak mungkin terjadi begitu saja. Begitu pula dengan alam semesta, pasti ada Sang Pencipta.

Seperti seseorang yang bekerja di sebuah perusahaan multinasional, meski tidak pernah bertemu langsung dengan pemiliknya, ia tetap percaya pada keberadaan pemilik itu, mengikuti aturan, dan menerima gaji setiap bulan.

Demikian pula dengan Allah SWT, meski tak terlihat oleh mata, kehadiran-Nya dapat dirasakan melalui ciptaan-Nya.

Contoh sederhana: manusia menghirup udara setiap hari, namun tidak pernah melihatnya.

Begitu pula dengan waktu, Allah menetapkan jumlah bulan sebanyak 12, termasuk empat bulan haram, sebagaimana disebutkan dalam Surat At-Taubah ayat 36.

Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram”.

Semua ini menjadi bukti keteraturan ciptaan-Nya.

Orang Badui pernah berkata: “Jejak kaki menunjukkan adanya orang yang berjalan, dan kotoran unta menandakan adanya unta. Bukankah alam semesta ini jelas menunjukkan adanya Sang Pencipta yang Maha Kuasa?”

Prinsip sebab-akibat (hukum kausalitas) juga menegaskan adanya Tuhan sebagai penyebab dari segala sebab (musabbibul asbab).

Maka, dalam Islam, Tuhan memperkenalkan diri-Nya dengan nama Allah, Tuhan yang Esa.

Baca Juga: Pikiranmu Adalah Benih Nasibmu: Bagaimana Menanam ‘Keberuntungan’ dalam Hidup

Pertanyaan Tentang Allah SWT

Dalam sejarah, manusia sering bertanya tentang keberadaan Allah SWT. Ulama pun berhati-hati dalam menjawab pertanyaan akidah.

Syekh Nawawi al-Bantani menjelaskan dalam Kasyifatus Saja:

Hal ini ditegaskan pula dalam firman-Nya: “Katakanlah, Dialah Allah Yang Maha Esa. Allah tempat bergantung segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan-Nya.” (QS. Al-Ikhlas: 1-4).

Nabi Ibrahim AS pada masa mudanya juga pernah mencari Tuhan dengan memperhatikan bintang, bulan, hingga matahari.

Nabi Musa AS bahkan meminta melihat Allah secara langsung, namun Allah SWT menegaskan bahwa manusia tidak akan mampu melihat-Nya di dunia.

Allah menjawab dalam Surat Al-A’raf ayat 143. Artinya: “Kamu tidak akan sanggup melihat-Ku.”

Hal serupa juga dialami Rasulullah SAW saat menerima wahyu pertama, hingga beliau bersama Siti Khadijah bertanya kepada Waraqah bin Naufal, seorang ahli kitab.

Allah SWT pun menegaskan dalam QS Yunus ayat 94 agar tidak ragu terhadap wahyu.

Allah SWT berfirman, artinya: “Maka jika kamu (Muhammad) berada dalam keragu-raguan tentang apa yang Kami turunkan kepadamu, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang membaca kitab sebelum kamu (ahli kitab). Sesungguhnya telah datang kebenaran kepadamu dari Tuhanmu, sebab itu janganlah sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu-ragu.”

Mengenal Allah SWT Lewat Wahyu

Islam mengajarkan agar manusia tidak selalu menuntut penjelasan logis tentang segala sesuatu. Akal manusia terbatas, sedangkan Allah Maha Kuasa.

Karena itu, lebih baik bersyukur atas nikmat-Nya ketimbang sibuk mempertanyakan zat-Nya. Berpikir tentang Allah cukup dengan merenungi sifat-sifat-Nya, bukan zat-Nya.

Sebab Allah berfirman dalam QS Asy-Syura ayat 11: “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia. Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”

Baca Juga: Dari Teman Jadi Musuh: Tahapan Hubungan Manusia yang Jarang Disadari!

Banyak ayat Al-Qur’an yang memperkenalkan Allah SWT, di antaranya:

“Sungguh, Aku ini Allah, tiada Tuhan selain Aku. Maka sembahlah Aku dan dirikanlah salat untuk mengingat-Ku.” (QS Thaha: 14).

 

Editor : Ali Mustofa
#agama #Kehidupan #Wahyu #Iman #Allah SWT #manusia