Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Saat Ketidakadilan Menyakitkan, Islam Ajarkan Jalan Rahasia: Legowo!

Ali Mustofa • Selasa, 16 September 2025 | 16:39 WIB
Ilustrasi Monday blues di kantor
Ilustrasi Monday blues di kantor

RADAR KUDUS – Dalam perjalanan hidup, tidak semua hal berjalan sesuai dengan harapan. Ada kalanya seseorang harus menerima kenyataan pahit.

Hak yang seharusnya menjadi miliknya justru dirampas, hasil kerja keras diakui orang lain, atau kesempatan emas diberikan kepada pihak yang berbeda.

Ironisnya, hal itu kadang dilakukan bukan oleh orang asing, melainkan justru oleh mereka yang dianggap sahabat, rekan, bahkan keluarga sendiri.

Fenomena seperti ini kerap terjadi di dunia kerja. Persaingan yang seharusnya sehat sering kali berubah menjadi ajang saling sikut.

Tidak jarang, seseorang kehilangan hak yang semestinya ia terima, mulai dari penghargaan atas ide, peluang promosi jabatan, hingga hak finansial yang layak.

Situasi tersebut tentu menimbulkan luka batin yang dalam, terlebih jika dilakukan oleh orang dekat yang selama ini dipercaya.

Dalam kondisi seperti ini, sikap seseorang menjadi penentu. Ada yang memilih marah, melawan, bahkan menuntut keadilan dengan cara keras.

Namun, ada pula yang memilih jalan berbeda, yakni dengan bersikap legowo.

Legowo bukan berarti pasrah tanpa daya, melainkan kemampuan menjaga ketenangan hati, melepaskan dendam, dan menyadari bahwa rezeki sejati tidak akan pernah bisa direbut manusia.

Makna Legowo yang Sebenarnya

Legowo adalah seni menjaga ketenangan hati. Ia mengajarkan kita untuk tidak larut dalam amarah meski diperlakukan tidak adil.

Seseorang yang legowo tidak serta-merta pasrah tanpa usaha, tetapi ia mampu menahan diri dari keinginan membalas dengan cara buruk.

Sikap ini menjadi bukti bahwa kekuatan sejati bukan terletak pada kerasnya perlawanan, melainkan pada kemampuan menundukkan ego dan menahan amarah.

Dalam Islam, sikap legowo sangat erat kaitannya dengan sabar dan tawakal.

Dua sifat ini menjadi benteng utama bagi seorang muslim ketika menghadapi ketidakadilan.

Sabar membuat hati tetap terjaga dari bara amarah, sementara tawakal meneguhkan keyakinan bahwa apa pun yang ditetapkan Allah adalah yang terbaik.

Manusia bisa saja merampas hak secara lahiriah, tetapi tidak ada yang bisa mengambil rezeki yang sudah ditentukan Allah.

Allah SWT menegaskan dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 216.

Artinya: “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu. Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.”

Ayat ini menjadi pengingat bahwa kehilangan sesuatu di dunia bukan berarti kerugian mutlak.

Bisa jadi itu adalah cara Allah menyiapkan sesuatu yang lebih baik, atau jalan untuk membersihkan hati dari sifat iri dan sombong.

Rasulullah SAW bersabda: “Tidaklah seorang muslim tertimpa kelelahan, penyakit, kesedihan, gangguan, hingga duri yang menusuknya, melainkan Allah akan menghapuskan sebagian dosa-dosanya dengan itu.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadis ini memberi pesan bahwa penderitaan yang kita alami bukanlah sia-sia, asalkan kita menyikapinya dengan kesabaran.

Seseorang yang legowo justru mendapatkan balasan yang lebih mulia di sisi Allah. Mungkin hak duniawinya hilang, tetapi pahala dan ketenangan hati menjadi gantinya.

Hal ini sekaligus menjadi pengingat bahwa ukuran kemenangan sejati tidak terletak pada pengakuan manusia, melainkan pada ketenangan jiwa dan kedekatan dengan Sang Pencipta.

Pada akhirnya, kemenangan sejati bukanlah saat nama kita dicatat sebagai pemenang, bukan pula ketika promosi jabatan berhasil kita raih, melainkan saat hati kita tetap tenang meski dizalimi.

Dunia bisa saja merampas hak, manusia bisa saja bersikap tidak adil, namun tidak ada yang mampu mengambil ketenangan hati yang dijaga Allah.

Bersabar, bertawakal, dan bersikap legowo bukanlah tanda kelemahan, tetapi justru bukti kekuatan batin.

Dengan sikap itu, seseorang tidak hanya menjaga dirinya dari kerusakan hati, tetapi juga menyiapkan diri untuk menerima balasan yang jauh lebih indah dari Allah, baik di dunia maupun di akhirat kelak.

 

Editor : Ali Mustofa
#sombong #ketidakadilan #islam #Tawakal #rezeki #jabatan #sabar #Legowo