Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

7 Lapisan Diri Manusia yang Mengungkap Jalan Mengenal Allah SWT

Ali Mustofa • Sabtu, 13 September 2025 | 19:31 WIB
Ilustrasi orang khusyuk memanjatkan doa 
Ilustrasi orang khusyuk memanjatkan doa 

RADAR KUDUS – Banyak manusia menghabiskan hidupnya mencari kebahagiaan, mengejar dunia, bahkan menumpuk kekayaan.

Namun, sangat sedikit yang menyadari kunci kebahagiaan sejati sebenarnya terletak pada mengenal diri sendiri.

Dalam Islam, hal ini menjadi pintu utama untuk mengenal Allah SWT.

Tak heran jika ulama sering mengingatkan, “Barangsiapa mengenal dirinya, maka ia mengenal Tuhannya.” Kalimat sederhana, tetapi menyimpan rahasia luar biasa tentang tujuan hidup manusia.

Kalimat itu bukan sekadar ungkapan, melainkan sebuah rahasia besar yang sering terlupakan.

Mengenal diri berarti memahami bahwa manusia hanyalah hamba yang lemah dan semua urusannya ada dalam genggaman Allah SWT.

Lantas, bagaimana cara mengenal diri agar semakin dekat dengan Sang Pencipta?

Manusia diciptakan bukan tanpa tujuan. Dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa manusia adalah makhluk pilihan yang diberi amanah sebagai khalifah di bumi.

Namun, banyak yang lupa pada jati dirinya, hingga hidup diliputi kegelisahan, kecemasan, dan kehampaan.

Ibarat orang yang ingin makan tapi tidak tahu harus makan apa dan di mana, begitu pula manusia yang tidak mengenal dirinya—akan terus berputar-putar tanpa arah, menghabiskan energi tanpa hasil.

Al-Qur’an menyebut manusia memiliki tiga lapisan dasar: badan, jiwa, dan ruh.

Badan adalah lapisan terkasar, jiwa lebih halus, sedangkan ruh adalah yang paling suci dan langsung terkait dengan sifat-sifat ketuhanan. Inilah yang membuat manusia berbeda dari makhluk lain.

Tanpa ruh, badan dan jiwa hanyalah benda mati. Ruh-lah yang menghidupkan dan membuat manusia berbeda dengan makhluk lain.

Bahaya Nafsu: Musuh Abadi dalam Diri

Setiap manusia memiliki nafsu yang berperan sebagai energi penggerak hidup. Namun nafsu bersifat netral, bisa membawa kepada kebaikan atau keburukan.

Masalahnya, hati manusia sering dikotori oleh hawa nafsu.

Dalam diri setiap orang terdapat tujuh tingkat nafsu, mulai dari ammarah yang penuh amarah dan syahwat, hingga nafsu kamilah yang benar-benar tunduk hanya kepada Allah.

Nafsu negatif jauh lebih dominan, sehingga manusia rentan terseret pada keburukan jika tidak mampu mengendalikannya.

Rasulullah SAW bersabda, jika hati baik maka baiklah seluruh amal manusia. Sebaliknya, hati yang kotor akan menjerumuskan manusia ke jurang dosa.

Dalam Islam, ada tujuh tingkatan nafsu, mulai dari:

  1. Ammarah – nafsu penuh amarah, syahwat, dan kemaksiatan.
  2. Lawwamah – nafsu yang menyesali kesalahan, tapi mudah tergoda lagi.
  3. Mulhimah – nafsu yang mulai mengenali penyakit hati, tapi belum bisa lepas.
  4. Muthmainnah – nafsu yang tenang, penuh syukur dan tawakal.
  5. Radhiyah – nafsu yang rela dan ikhlas.
  6. Mardhiyah – nafsu yang diridhai Allah, penuh cinta dan maaf.
  7. Kamilah/Ubudiyah – nafsu yang sepenuhnya tunduk hanya kepada Allah.

Tiga tingkatan pertama harus dikalahkan, karena menjadi pintu masuk syaitan.

Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhan.” (QS. Yusuf: 53).

 

Sementara itu, banyak orang rajin berdzikir, tetapi masih tergoda oleh syaitan. Mengapa?

Ulama menjelaskan, dzikir ibarat mengusir anjing. Anjing memang lari jika dihardik, tapi jika ada sampah makanan di sekitarnya, ia akan kembali lagi.

Demikian pula dengan hati manusia. Jika masih dipenuhi penyakit hati—seperti iri, dengki, sombong, dan cinta dunia—syaitan akan tetap datang, meskipun mulut kita basah dengan dzikir.

Tak heran, Imam Al-Ghazali menegaskan pentingnya membersihkan hati dari “sampah-sampah batin” seperti iri, dengki, sombong, dan cinta dunia.

Tanpa itu, dzikir sekalipun tidak akan berpengaruh karena hati tetap kotor.

Rahasia Ilmiah: Tubuh Terdiri dari 7 Lapisan Energi

Konsep tasawuf tentang tujuh lapisan diri manusia ternyata sejalan dengan sains modern.

Sebutannya berbeda-beda, tetapi mengacu ke sesuatu yang kurang lebih sama. Ada yang menyebutnya: nafs, qalb, ruh, sirr, sirr as sirr, khafi dan akhfa.

Ada pula yang meminjam istilah-istilah dalam al Qur’an dengan menyebut urutan: Jism, Nafs, Aql, Qalb, Fuad, Lubb, dan Ruh.

Di kalangan meditasi juga dikenal istilah: cakra dasar, cakra seks, cakra solar pleksus, cakra jantung, cakra tenggorok, cakra mata ketiga, dan cakra mahkota.

Peneliti energi tubuh menemukan manusia memiliki lapisan energi mulai dari yang kasar hingga sangat halus, mirip dengan konsep cakra dalam meditasi atau istilah bioplasma dalam kedokteran jiwa.

Semakin dalam lapisannya, semakin halus energinya, hingga mencapai inti eksistensi yang disebut ruh.

Dan tentang ruh ini, Allah sudah memperingatkan: “Mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: Ruh itu termasuk urusan Tuhanku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.” (QS. Al-Isra: 85).

Oleh karena itu, rahasia besar mengenal Allah SWT ada pada diri kita sendiri.

Dengan membersihkan hati, mengendalikan nafsu, serta menyadari jati diri sebagai hamba Allah, manusia akan menemukan kebahagiaan sejati—bukan hanya di dunia, tapi juga di akhirat.

Maka, sebelum mencari ke luar, coba tanyakan pada diri: Sudahkah aku benar-benar mengenal siapa diriku? Karena di situlah jawaban terbesar untuk mengenal siapa Tuhan kita.

 

Editor : Ali Mustofa
#Ruh #hawa nafsu #Allah SWT #lapisan #energi #manusia