Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Rahasia Sahabat Sejati Terungkap! Syekh Ibnu Athaillah Beberkan Kriteria yang Sering Dilupakan

Ali Mustofa • Sabtu, 13 September 2025 | 15:11 WIB

Ilustrasi teman sejati
Ilustrasi teman sejati

RADAR KUDUS – Berteman memang mudah, tetapi menemukan sahabat sejati yang benar-benar membawa kebaikan bukanlah perkara sederhana.

Dalam kehidupan sehari-hari, pergaulan menjadi faktor yang sangat menentukan arah karakter, bahkan masa depan seseorang.

Tidak sedikit orang yang awalnya baik, berubah buruk karena salah memilih teman. Begitu pula sebaliknya, ada orang yang menjadi lebih baik karena bertemu dengan sahabat yang tepat.

Baca Juga: Pergaulan Sehat Jadi Kunci Mindset Positif dan Daya Saing Hidup

Rasulullah SAW jauh-jauh hari telah mengingatkan pentingnya berhati-hati dalam memilih teman.

Beliau bersabda, orang yang terbaik untuk dijadikan sahabat adalah mereka yang ketika dipandang membuat kita ingat kepada Allah, ucapannya menggerakkan hati untuk beramal saleh, dan tindakannya menumbuhkan rasa cinta pada akhirat.

Sahabat semacam ini bukan sekadar teman biasa, melainkan anugerah besar yang patut disyukuri.

Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW juga menegaskan bahwa jika Allah menghendaki kebaikan pada seorang hamba, maka Dia akan memberinya sahabat saleh.

Seorang sahabat yang baik akan selalu mengingatkan ketika kita lalai, menolong saat kita lemah, dan mendukung ketika kita berada di jalan kebenaran.

“Apabila seseorang itu dikehendaki oleh Allah menjadi baik, maka Allah memberi rizki padanya berupa seorang kekasih (sahabat) yang shalih. Jikalau ia lupa, kekasih itulah yang mengingatkannya dan jikalau ia ingat maka kekasih itu suka pula menolongnya”. (HR Abu Dawud).

Namun, bagaimana cara mengenali sahabat yang benar-benar baik? Jawaban itu salah satunya diberikan oleh ulama besar tasawuf, Syekh Ibnu Athaillah As-Sakandari.

Baca Juga: Luka Hati Karena Curiga Berlebihan? Simak Cara Ampuh Mengatasi Trust Issue

Dalam kitab Al-Hikam, beliau menegaskan bahwa pertemanan adalah urusan besar, hampir setara dengan pentingnya ilmu dan guru. Sebab, teman dekat sangat berpengaruh pada perilaku dan hati seseorang.

Menurut Ibnu Athaillah, ada kalanya seseorang merasa damai, tenteram, bahkan semakin bersemangat beribadah ketika bergaul dengan orang tertentu.

Sebaliknya, ada pula yang justru membuat hati gundah, penuh amarah, atau terdorong untuk berbuat maksiat. Hal ini menunjukkan betapa kuatnya energi batiniah dalam sebuah pertemanan.

Yang menarik, beliau mengingatkan bahwa lebih baik bersahabat dengan orang bodoh yang mampu menahan hawa nafsunya, daripada bersahabat dengan orang alim yang justru dikuasai hawa nafsu.

Sebab, ilmu tanpa akhlak bisa menjerumuskan, sementara kebodohan yang diiringi ketulusan hati dapat menyelamatkan.

Baca Juga: Senyum Manis, Niatan Jahat: Bahaya Sifat Manipulatif yang Tak Kamu Sadari

Banyak orang berilmu yang terjebak dalam kesombongan dan nafsunya sendiri. Ia menggunakan ilmunya untuk membenarkan kesalahan. Sebaliknya, orang sederhana dengan akhlak baik justru lebih aman dan bermanfaat,” tulis Ibnu Athaillah dalam Al-Hikam.

Lebih jauh, Ibnu Athaillah menekankan bahwa kualitas seorang sahabat ditentukan bukan oleh kecerdasannya, melainkan oleh akhlak dan niatnya.

Sahabat sejati adalah mereka yang tidak menjerumuskan kita pada kesesatan, tidak memanfaatkan kita untuk kepentingan pribadinya, dan tidak meninggalkan kita dalam kesulitan.

Di sisi lain, pergaulan yang buruk sering kali membawa kerugian. Betapa banyak orang yang awalnya kaya, kemudian jatuh miskin karena salah memilih teman.

Ada pula yang rajin beribadah, namun rusak imannya karena berteman dengan orang yang suka bermaksiat.

Bahkan, tidak sedikit yang akhirnya terjerat narkoba, kriminalitas, atau gaya hidup buruk hanya karena salah lingkungan.

Peribahasa Arab mengatakan, “Ash-shahibu sahib,” artinya teman itu menyeret. Jika bersahabat dengan orang baik, kita akan terbawa kepada kebaikan.

Namun jika bersahabat dengan orang buruk, bukan mustahil kita ikut terseret pada keburukan.

Baca Juga: Hati-Hati! Banyak Orang Tak Sadar Hidupnya Hancur Perlahan Gara-Gara “Teman Beracun”

Rasulullah SAW pun memberi perumpamaan yang sangat jelas. Teman yang baik diibaratkan seperti penjual minyak wangi; meski kita tidak membeli, kita tetap bisa mencium harumnya.

Sedangkan teman yang buruk bagaikan pandai besi; meski kita tidak ikut membakar, kita bisa terkena asap dan baunya.

Ibnu Athaillah juga mengingatkan bahwa sahabat sejati adalah mereka yang pandangannya selalu tertuju pada Allah SWT.

Ia tidak meminta-minta pada sesama, tidak memanfaatkan orang lain untuk kepentingannya, dan tidak pernah meninggalkan kita dalam keburukan. Justru dialah yang selalu mengajak kita kembali kepada Allah SWT.

Lebih jauh, beliau menambahkan bahwa sahabat yang ideal adalah yang tulus. Meski ibadahnya tidak banyak, orang semacam itu tetap aman dijadikan teman.

Baca Juga: Bahayanya Iri dan Dendam, Penyakit Hati yang Bisa Meretakkan Tali Persaudaraan

Sebab, ia tidak membahayakan, tidak menuntut, dan tidak menjerumuskan. Justru dialah yang mampu menularkan aura kebaikan kepada kita.

Oleh karena itu, kriteria sahabat sejati bukan ditentukan pada hartanya, bukan pada kepandaiannya, apalagi kedudukannya. Melainkan pada sejauh mana ia mampu menuntun kita mendekat kepada Allah SWT.

Maka, sebelum menaruh hati pada sebuah persahabatan, berhentilah sejenak untuk menimbang: apakah kehadirannya membuat kita semakin dekat kepada Allah, atau justru semakin jauh?

Jika jawabannya yang pertama, dialah sahabat yang layak kita jaga seumur hidup.

Editor : Ali Mustofa
#gaya hidup #berteman #karakter #kebenaran #Ibnu Athaillah #sahabat #teman