Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Rahasia Hidup Seimbang: Menjaga Raga dengan Gizi, Menguatkan Ruh dengan Dzikir

Ali Mustofa • Sabtu, 6 September 2025 | 15:59 WIB
ilustrasi makan bersama
ilustrasi makan bersama

RADAR KUDUS – Makanan pada dasarnya dianggap sebagai kebutuhan dasar manusia.

Banyak orang meyakini bahwa makanan hanya berfungsi untuk menjaga kesehatan tubuh, sehingga aspek kebersihan dan kandungan gizi menjadi prioritas utama dalam memilih bahan pangan.

Namun dalam Islam, pemahaman tersebut diperluas. Islam tidak hanya menekankan kesehatan jasmani semata, tetapi juga memandang makanan sebagai faktor penting yang memengaruhi jiwa (nafs) dan ruh manusia.

Al-Qur’an secara jelas mengingatkan umat manusia untuk memperhatikan kehalalan dan kebaikan makanan. Dalam surat Al-Baqarah ayat 168 Allah berfirman:

“Wahai manusia, makanlah sebagian (makanan) di bumi yang halal lagi baik dan janganlah mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya ia bagimu merupakan musuh yang nyata.”

Ayat ini menunjukkan bahwa makanan yang dikonsumsi harus memenuhi dua syarat utama: halal dari segi hukum dan thayyib atau baik dari segi manfaat.

Halal berarti tidak mengandung unsur yang diharamkan, baik dari zat maupun cara memperolehnya.

Sementara thayyib berarti makanan itu sehat, aman, dan memberikan manfaat bagi tubuh maupun jiwa.

Baik dan layak dikonsumsi memang bersifat subyektif karena setiap orang atau kelompok manusia punya standar yang berbeda dalam menilai hal tersebut.

Akan tetapi ada nilai universal yang dapat dijadikan indikator umum dalam menilai aspek thayyib sebuah makanan.  

Para ulama menjelaskan bahwa prinsip makanan dalam Islam memiliki tiga dasar pokok.

Pertama, hukum asal makanan adalah boleh dikonsumsi, kecuali ada dalil yang melarangnya.

Kedua, makanan yang bermanfaat hukumnya halal, sementara yang berbahaya hukumnya haram.

Ketiga, halal dan haram sudah jelas batasannya, tetapi ada wilayah syubhat (samar) yang menuntut kehati-hatian seorang muslim.

Rasulullah SAW menguatkan prinsip tersebut melalui sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari. Beliau bersabda:

"... Ketahuilah, di dalam tubuh manusia ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuh. Jika ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah hati.”

Hadits ini menegaskan hubungan erat antara makanan yang dikonsumsi dengan kondisi hati.

Makanan halal akan menyehatkan hati dan menenangkan jiwa, sementara makanan haram atau syubhat dapat merusak jiwa dan menjauhkan manusia dari Allah SWT.

Makanan Raga, Jiwa, dan Ruh

Manusia diciptakan Allah dari tiga unsur pokok: jasad (raga), nafs (jiwa atau sukma), dan ruh (nyawa). Ketiganya membutuhkan "asupan".

Raga jelas membutuhkan makanan fisik seperti nasi, daging, ikan, sayur, buah, dan air. Namun, jiwa dan ruh juga memerlukan "santapan rohani" agar tidak gersang.

Sayangnya, kekurangan gizi pada tubuh cepat terasa dengan gejala lemah, lapar, atau sakit.

Sedangkan kekurangan gizi pada ruh tidak langsung dirasakan. Ia baru “protes” kelak di alam kubur.

Itulah mengapa banyak orang tampak sehat secara jasmani, tetapi hatinya lemah, sakit, bahkan mati karena kurang siraman ilmu, zikir, dan nasihat agama.

Makanan raga dapat dibeli di warung, pasar, atau restoran. Namun makanan jiwa dan ruh hanya bisa diperoleh dari majelis ilmu, dzikir, doa, dan nasihat agama.

Tanpa asupan tersebut, hati manusia mudah terserang penyakit rohani seperti riya, ujub, sombong, dengki, dan kikir.

Penyakit-penyakit ini berbahaya karena dampaknya tidak hanya di dunia, tetapi juga di akhirat.

Para ulama mengibaratkan nasihat agama sebagai “santapan hati”. Namun tidak semua ilmu bisa diterima oleh semua orang.

Seperti halnya makanan jasmani yang cocok bagi sebagian orang tetapi berbahaya bagi yang lain, demikian pula nasihat rohani harus disampaikan sesuai dengan kondisi pendengarnya.

Adapun beberapa makanan ruh yang wajib diasup seorang muslim setiap hari adalah:

Pertama, dzikir kepada Allah SWT. Allah berfirman: “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28). Dzikir adalah penenang hati yang resah dan gelisah.

Kedua, membaca Al-Qur’an. Al-Qur’an adalah petunjuk hidup dan cahaya bagi orang beriman. Membacanya membuat ruh lebih hidup dan hati lebih kuat menghadapi ujian.

Ketiga, majelis ilmu. Duduk bersama orang-orang saleh akan menurunkan rahmat Allah, menghadirkan malaikat, serta menumbuhkan ketenangan jiwa.

Keempat, doa, yang menjadi senjata seorang mukmin sekaligus bentuk kepasrahan kepada Allah.

Rasulullah SAW sering berdoa agar hatinya diteguhkan dalam agama: “Ya Muqallibal Quluub, tsabbit qalbi ‘ala diinika” (Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu).

Menjaga Keseimbangan Jasmani dan Rohani

Islam menegaskan pentingnya keseimbangan. Tubuh yang sehat diperlukan agar bisa beribadah dengan maksimal, sementara ruh yang tenang menjadikan amal ibadah diterima Allah SWT.

Karena itu, umat Islam diajak untuk menjaga raga dengan makanan halal bergizi, serta menjaga jiwa dengan santapan ruhani yang menyehatkan hati.

Dalam Surat Al-Qashash ayat 77, Allah SWT berfirman:

“Carilah dengan apa yang telah Allah anugerahkan kepadamu kebahagiaan negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) dunia.”

Ayat ini menjadi landasan keseimbangan hidup seorang muslim. Makanan halal dan thayyib menjaga kesehatan jasmani, sementara ilmu, dzikir, dan doa memberi kekuatan bagi jiwa dan ruh.

Dengan demikian, seorang muslim yang sempurna adalah mereka yang mampu memenuhi kebutuhan raga dengan makanan bergizi yang halal, sekaligus memberi “santapan rohani” bagi jiwa dan ruhnya.

Raga yang kuat akan mendukung ibadah, sedangkan hati yang sehat akan memancarkan cahaya iman.

Puasa, dzikir, doa, membaca Al-Qur’an, serta duduk di majelis ilmu adalah bentuk makanan ruh yang harus terus dikonsumsi.

Inilah keseimbangan hidup yang diajarkan Islam: sehat jasmani, tenang jiwa, dan bersih ruhani.

 

Editor : Ali Mustofa
#ruhani #Ruh #kesehatan #islam #dzikir #jasmani #gizi #manusia #makanan