RADAR KUDUS - Menjelang peringatan Maulid Nabi Muhammad saw 1447 Hijriah, suasana di berbagai penjuru Nusantara kembali dipenuhi nuansa religius.
Dari masjid, majelis taklim, hingga ruang keluarga, lantunan sholawat terdengar merdu menemani malam-malam umat Muslim.
Salah satu yang paling sering dikumandangkan adalah Sholawat Rohatil Athyaru Tasydu, yang lebih akrab di telinga masyarakat dengan sebutan “Kisah Sang Rasul”.
Sholawat ini bukan sekadar pujian, melainkan untaian kisah penuh makna tentang perjalanan hidup Nabi Muhammad saw.
Liriknya mengajak umat untuk menelusuri jejak sang utusan Allah, dari masa kecil hingga diangkat menjadi Rasul terakhir.
Kisah Hidup Rasul dalam Lantunan Sholawat
“Rohatil Athyaru Tasydu” mengalun dengan bait-bait yang menggambarkan perjalanan penuh suka dan duka. Sholawat ini membuka tabir sejarah: wafatnya sang ayah ketika Nabi masih dalam kandungan, diasuh oleh sang kakek, hingga masa kecil bersama Halimah as-Sa’diyah sebagai ibu susu.
Bait-bait berikutnya menuturkan perjuangan hidup Rasul, mulai dari menggembala, berdagang, hingga menikahi Khadijah, perempuan mulia yang menjadi pendamping setia.
Pada usia 40 tahun, beliau menerima risalah kenabian, menjadi cahaya penerang bagi umat manusia.
Tak heran, setiap kali dilantunkan, sholawat ini menghadirkan getaran emosional yang kuat. Ia bukan sekadar syair, melainkan doa sekaligus pengingat bahwa perjalanan hidup Rasul sarat hikmah untuk diteladani.
Dari Majelis Habib Syech ke Hati Umat
Di Indonesia, popularitas “Rohatil Athyaru Tasydu” kian meluas berkat lantunan Habib Syech Bin Abdul Qadir Assegaf.
Melalui dakwah dan majelis sholawat yang rutin digelar, syair ini menjelma menjadi lagu religius yang melekat di hati banyak orang.
Kini, sholawat tersebut menjadi bagian penting dari berbagai perayaan keagamaan, terutama Maulid Nabi.
Bahkan, di banyak tempat, anak-anak hingga orang tua hafal bait-baitnya, menjadikannya sebagai tradisi spiritual yang diwariskan lintas generasi.
Pesan Spiritual yang Tak Pernah Pudar
Sholawat ini mengajarkan bahwa jalan hidup Rasul bukanlah tanpa rintangan. Sejak kecil, beliau merasakan pahitnya kehilangan, namun tetap tumbuh dengan jiwa yang tangguh. Liriknya menyampaikan pesan sederhana namun mendalam: kesabaran, keikhlasan, dan keteguhan hati adalah kunci menghadapi ujian hidup.
Bagi umat Muslim, mendengarkan dan melantunkan sholawat ini bukan sekadar mengisi ruang ibadah. Ia adalah cara mencintai Rasulullah saw, menghidupkan kembali teladan beliau, serta mendekatkan diri pada nilai-nilai Islam yang rahmatan lil ‘alamin.
Menghidupkan Tradisi Maulid dengan Lantunan Sholawat
Setiap kali peringatan Maulid tiba, sholawat “Kisah Sang Rasul” seakan menjadi benang penghubung antara masa lalu dan masa kini.
Dari bait demi bait, kita diajak merenungi perjalanan Rasul, sekaligus memperkuat cinta kepada beliau.
Bukan hanya sebagai hiburan rohani, sholawat ini juga menjadi media edukasi. Anak-anak yang mendengarnya sejak kecil tumbuh dengan cerita tentang Rasul, sehingga mengenal sosok teladan melalui lantunan yang penuh keindahan.
Berikut ini lirik Sholawat Rohatil Athyaru Tasydu
رَاحَتِ الاَطيَارُ تَشدُو فِى لِيَالىِ المَولِدِ
Rohatil athyaru tasydu, fi layaa lil maulidi
وَبَرِيقُ النُّورِيَبدُو مِن مَعَانِى اَحمَدِ فِى لَيَالِى المَولِدِ
Wa bariqunnuri yabdu, min ma'aani Ahmadi
رَاحَتِ الاَطيَارُ تَشدُو فِى لِيَالىِ المَولِدِ
Rohatil athyaru tasydu, fi layaa lil maulidi
وَبَرِيقُ النُّورِيَبدُو مِن مَعَانِى اَحمَدِ فِى لَيَالِى المَولِدِ
Wa bariqunnuri yabdu, min ma'aani Ahmadi
وَبَرِيقُ النُّورِيَبدُو مِن مَعَانِى اَحمَدِ فِى لَيَالِى المَولِدِ
Wa bariqunnuri yabdu, min ma'aani Ahmadi
وَبَرِيقُ النُّورِيَبدُو مِن مَعَانِى اَحمَدِ فِى لَيَالِى المَولِدِ
Wa bariqunnuri yabdu, min ma'aani Ahmadi
فِى لِيَالىِ المَولِدِ
Fi layaa lil maulidi
فِى لِيَالىِ المَولِدِ
Fi layaa lil maulidi
Abdullah nama ayahnya Aminah ibundanya
Abdul Muthalib kakeknya Abu Thalib pamannya
Khadijah istri setia Fatimah putri tercinta
Semua bernasab mulia dari Quraisy ternama
Inilah kisah Sang Rasul yang penuh suka duka
Inilah kisah Sang Rasul yang penuh suka duka
Ooh penuh suka duka
Ooh penuh suka duka
رَاحَتِ الاَطيَارُ تَشدُو فِى لِيَالىِ المَولِدِ
Rohatil athyaru tasydu, fi layaa lil maulidi
وَبَرِيقُ النُّورِيَبدُو مِن مَعَانِى اَحمَدِ فِى لَيَالِى المَولِدِ
Wa bariqunnuri yabdu, min ma'aani Ahmadi
رَاحَتِ الاَطيَارُ تَشدُو فِى لِيَالىِ المَولِدِ
Rohatil athyaru tasydu, fi layaa lil maulidi
وَبَرِيقُ النُّورِيَبدُو مِن مَعَانِى اَحمَدِ فِى لَيَالِى المَولِدِ
Wa bariqunnuri yabdu, min ma'aani Ahmadi
وَبَرِيقُ النُّورِيَبدُو مِن مَعَانِى اَحمَدِ فِى لَيَالِى المَولِدِ
Wa bariqunnuri yabdu, min ma'aani Ahmadi
وَبَرِيقُ النُّورِيَبدُو مِن مَعَانِى اَحمَدِ فِى لَيَالِى المَولِدِ
Wa bariqunnuri yabdu, min ma'aani Ahmadi
فِى لِيَالىِ المَولِدِ
Fi layaa lil maulidi
فِى لِيَالىِ المَولِدِ
Fi layaa lil maulidi
Dua bulan di kandungan wafat ayahandanya
Tahun Gajah dilahirkan yatim dengan kakeknya
Sesuai adat yang ada disusui Halimah
Enam tahun usianya wafat ibu terpuja
Inilah kisah Sang Rasul yang penuh suka duka
Inilah kisah Sang Rasul yang penuh suka duka
Ooh penuh suka duka
Ooh penuh suka duka
رَاحَتِ الاَطيَارُ تَشدُو فِى لِيَالىِ المَولِدِ
Rohatil athyaru tasydu, fi layaa lil maulidi
وَبَرِيقُ النُّورِيَبدُو مِن مَعَانِى اَحمَدِ فِى لَيَالِى المَولِدِ
Wa bariqunnuri yabdu, min ma'aani Ahmadi
رَاحَتِ الاَطيَارُ تَشدُو فِى لِيَالىِ المَولِدِ
Rohatil athyaru tasydu, fi layaa lil maulidi
وَبَرِيقُ النُّورِيَبدُو مِن مَعَانِى اَحمَدِ فِى لَيَالِى المَولِدِ
Wa bariqunnuri yabdu, min ma'aani Ahmadi
وَبَرِيقُ النُّورِيَبدُو مِن مَعَانِى اَحمَدِ فِى لَيَالِى المَولِدِ
Wa bariqunnuri yabdu, min ma'aani Ahmadi
وَبَرِيقُ النُّورِيَبدُو مِن مَعَانِى اَحمَدِ فِى لَيَالِى المَولِدِ
Wa bariqunnuri yabdu, min ma'aani Ahmadi
فِى لِيَالىِ المَولِدِ
Fi layaa lil maulidi
فِى لِيَالىِ المَولِدِ
Fi layaa lil maulidi
Delapan tahun usia kakek meninggalkannya
Abu Thalib pun menjaga paman paling membela
Saat kecil penggembala dagang saat remaja
Umur dua puluh lima memperistri Khadijah
Inilah kisah Sang Rasul yang penuh suka duka
Inilah kisah Sang Rasul yang penuh suka duka
Ooh penuh suka duka
Ooh penuh suka duka
رَاحَتِ الاَطيَارُ تَشدُو فِى لِيَالىِ المَولِدِ
Rohatil athyaru tasydu, fi layaa lil maulidi
وَبَرِيقُ النُّورِيَبدُو مِن مَعَانِى اَحمَدِ فِى لَيَالِى المَولِدِ
Wa bariqunnuri yabdu, min ma'aani Ahmadi
رَاحَتِ الاَطيَارُ تَشدُو فِى لِيَالىِ المَولِدِ
Rohatil athyaru tasydu, fi layaa lil maulidi
وَبَرِيقُ النُّورِيَبدُو مِن مَعَانِى اَحمَدِ فِى لَيَالِى المَولِدِ
Wa bariqunnuri yabdu, min ma'aani Ahmadi
وَبَرِيقُ النُّورِيَبدُو مِن مَعَانِى اَحمَدِ فِى لَيَالِى المَولِدِ
Wa bariqunnuri yabdu, min ma'aani Ahmadi
وَبَرِيقُ النُّورِيَبدُو مِن مَعَانِى اَحمَدِ فِى لَيَالِى المَولِدِ
Wa bariqunnuri yabdu, min ma'aani Ahmadi
فِى لِيَالىِ المَولِدِ
Fi layaa lil maulidi
فِى لِيَالىِ المَولِدِ
Fi layaa lil maulidi
Di umur ketiga puluh mempersatukan bangsa
Saat peletakan Batu Hajar Aswad mulia
Genap empat puluh tahun mendapatkan risalah
Ia pun menjadi Rasul akhir para Annbiya
Inilah kisah Sang Rasul yang penuh suka duka
Inilah kisah Sang Rasul yang penuh suka duka
Ooh penuh suka duka
Ooh penuh suka duka
رَاحَتِ الاَطيَارُ تَشدُو فِى لِيَالىِ المَولِدِ
Rohatil athyaru tasydu, fi layaa lil maulidi
وَبَرِيقُ النُّورِيَبدُو مِن مَعَانِى اَحمَدِ فِى لَيَالِى المَولِدِ
Wa bariqunnuri yabdu, min ma'aani Ahmadi
رَاحَتِ الاَطيَارُ تَشدُو فِى لِيَالىِ المَولِدِ
Rohatil athyaru tasydu, fi layaa lil maulidi
وَبَرِيقُ النُّورِيَبدُو مِن مَعَانِى اَحمَدِ فِى لَيَالِى المَولِدِ
Wa bariqunnuri yabdu, min ma'aani Ahmadi
وَبَرِيقُ النُّورِيَبدُو مِن مَعَانِى اَحمَدِ فِى لَيَالِى المَولِدِ
Wa bariqunnuri yabdu, min ma'aani Ahmadi
وَبَرِيقُ النُّورِيَبدُو مِن مَعَانِى اَحمَدِ فِى لَيَالِى المَولِدِ
Wa bariqunnuri yabdu, min ma'aani Ahmadi
فِى لِيَالىِ المَولِدِ
Fi layaa lil maulidi
فِى لِيَالىِ المَولِدِ
Fi layaa lil maulidi