Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Sering Disalahpahami, Inilah Bedanya Maulid dan Maulud dalam Tradisi Islam Nusantara

Mahendra Aditya Restiawan • Kamis, 4 September 2025 | 17:57 WIB

 

Ilustrasi Maulid Nabi Muhammad SAW (Freepik)
Ilustrasi Maulid Nabi Muhammad SAW (Freepik)

RADAR KUDUS - Setiap tanggal 12 Rabiul Awal, umat Islam di seluruh dunia memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Di Indonesia, momen ini dikenal luas dengan istilah Maulid Nabi. Namun, masih banyak masyarakat yang menggunakan kata Maulud.

Perbedaan penyebutan ini kerap menimbulkan pertanyaan: apakah keduanya memiliki arti berbeda atau sama?

Di tengah masyarakat, baik istilah maulid maupun maulud tetap hidup berdampingan. Ada yang menyebutnya Maulid Nabi Muhammad, ada pula yang lebih akrab dengan istilah Maulud Nabi.

Pertanyaan yang muncul kemudian adalah: adakah perbedaan mendasar dari dua istilah ini?

Baca Juga: Kondisi Makkah dan Jazirah Arab Saat Nabi Muhammad ﷺ Lahir

Penjelasan Ulama Tentang Maulid dan Maulud

Menurut penjelasan KH Said Aqil Siroj dalam sebuah acara peringatan Maulid Nabi di Pondok Tremas, Pacitan, kedua istilah ini sama-sama benar digunakan. Namun, keduanya memiliki penekanan makna yang sedikit berbeda.

Dengan pemahaman tersebut, dapat disimpulkan bahwa maulid merujuk pada peringatan atau perayaan kelahiran, sementara maulud menunjuk langsung pada pribadi Rasulullah yang dilahirkan.

Kebiasaan Masyarakat Indonesia

Dalam praktiknya, masyarakat Indonesia lebih sering menggunakan istilah maulid. Peringatan Maulid Nabi biasanya diisi dengan berbagai tradisi, seperti pembacaan shalawat, ceramah agama, santunan anak yatim, hingga pawai budaya di beberapa daerah.

Namun, di sejumlah wilayah, terutama di Jawa, istilah maulud masih populer. Misalnya, masyarakat keraton di Yogyakarta dan Surakarta kerap menyebut acara peringatan ini dengan istilah Muludan.

Tradisi ini bahkan sudah melekat menjadi bagian dari kebudayaan lokal yang diwariskan turun-temurun.

Perspektif Bahasa dan Budaya

Jika ditarik dari sisi bahasa, penggunaan maulid memang lebih sesuai karena maknanya merujuk pada peringatan kelahiran.

Akan tetapi, istilah maulud tidak bisa serta-merta dianggap salah. Sebab, istilah tersebut tetap memiliki landasan gramatikal bahasa Arab yang sahih.

Dengan demikian, perbedaan istilah ini lebih condong pada aspek budaya dan kebiasaan masyarakat daripada perbedaan teologis atau hukum agama.

Baik maulid maupun maulud, keduanya tetap bermuara pada maksud yang sama: mengenang dan memuliakan kelahiran Rasulullah SAW sebagai rahmatan lil alamin.

Baca Juga: Ini Nasab Nabi Muhammad ﷺ hingga Nabi Ibrahim

Makna Spiritualitas Peringatan

Lebih dari sekadar perdebatan istilah, peringatan Maulid atau Maulud memiliki makna mendalam.

Bagi umat Muslim, momen ini adalah pengingat akan keteladanan Nabi Muhammad SAW dalam akhlak, perjuangan, dan pengabdian kepada umat.

Peringatan ini juga menjadi ajang memperkuat persaudaraan umat Islam, sekaligus sarana syiar agama melalui berbagai kegiatan sosial dan budaya.

Dari pembagian makanan khas, sedekah, hingga pengajian, semuanya menjadi simbol rasa cinta kepada Rasulullah.

Perbedaan istilah maulid dan maulud tidak perlu diperdebatkan secara berlebihan. Keduanya memiliki akar makna yang sahih dalam bahasa Arab dan sama-sama digunakan dalam tradisi Islam di Indonesia.

Yang terpenting adalah esensi peringatan itu sendiri: menumbuhkan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW, meneladani ajarannya, serta mempererat persatuan umat.

Editor : Mahendra Aditya
#Perbedaan Maulid dan Maulud #makna maulid nabi #Maulid Nabi 2025 #Sejarah peringatan maulid nabi Muhammad Saw #maulid nabi 2025 berapa hijriah