RADAR KUDUS – Manusia diciptakan sebagai makhluk yang unik dan istimewa. Tidak seperti makhluk lainnya, manusia dibekali dengan unsur-unsur immaterial berupa ruh, akal, hati, dan nafs yang berpadu dalam satu kesatuan jiwa.
Keempat komponen ini menjadikan manusia sebagai makhluk spiritual dengan potensi besar, baik menuju kebaikan maupun kebinasaan.
Ruh pada dasarnya suci dan condong kepada kebenaran, akal berfungsi sebagai alat berpikir dan menimbang, sementara hati menjadi pusat keyakinan, rasa cinta, empati, serta pengikat moralitas.
Baca Juga: Terlalu Sibuk atau Malas? Awas, Islam Ingatkan Bisa Jadi “Korban Waktu”!
Nafsu, di sisi lain, merupakan energi yang bisa mengarah pada kenikmatan atau kemarahan.
Jika mampu mengendalikan nafsu rendah (al-nafs al-ammarah), manusia akan menjadi pribadi paripurna. Namun, ketika jiwa dikuasai oleh nafsu tirani, hidupnya justru terperosok dalam kesenangan semu dan kerusakan moral.
Dalam sejarah pemikiran Islam, Imam Al-Ghazali telah mengingatkan bahaya penyakit hati melalui kitab Bidayat al-Hidayah.
Menurutnya, ada tiga sifat hati yang sangat berbahaya dan terus muncul dari zaman ke zaman, yakni iri hati (hasad), riya, dan ujub.
Dari ketiganya, hasad dianggap paling berbahaya karena dampaknya yang luas, tidak hanya menghancurkan individu, tetapi juga merusak lingkungan sosial bahkan peradaban.
Nabi Muhammad SAW pun dengan tegas memperingatkan umat agar menjauhi sifat hasad.
Dalam hadis riwayat Abu Dawud disebutkan, “Jauhilah hasad, karena sesungguhnya hasad itu memakan kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar.”
Baca Juga: Makna Syukur dalam Kehidupan: Kunci Kebahagiaan dan Derajat Tertinggi Iman
Peringatan serupa juga termaktub dalam Al-Qur’an surah Al-Falaq ayat 5, yang menegaskan agar manusia selalu berlindung kepada Allah dari kejahatan orang yang dengki.
Artinya: "dan dari kejahatan orang yang dengki apabila dia dengki.”
Sifat hasad ibarat racun tak terlihat. Walaupun kasat mata tidak tampak, dampaknya sangat nyata.
Rasa iri dan dengki mampu melahirkan kegelisahan batin, membuat seseorang tidak pernah tenang, bahkan menjerumuskan pada perbuatan buruk seperti ghibah, fitnah, dan adu domba.
Tidak jarang, konflik keluarga, pertengkaran, hingga peperangan besar berawal dari bibit dengki yang dibiarkan tumbuh.
Baca Juga: Rahasia Tersembunyi Sukses dan Bahagia, Perkuat Niat!
Secara psikologis, hasad memberi dampak yang serius. Orang yang terjangkit penyakit ini akan sulit bersyukur atas nikmat Allah, hatinya penuh kegelisahan, serta mudah membenci keberhasilan orang lain.
Alih-alih memperbaiki diri, ia sibuk mengharapkan orang lain jatuh.
Inilah yang menjadikan hasad sebagai penyakit hati paling berbahaya, karena menghancurkan kebahagiaan diri sekaligus menggerogoti tatanan sosial.
Fenomena ini kerap dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, seorang pedagang yang merasa usahanya kalah laris dibandingkan tetangganya.
Alih-alih mencari strategi untuk memperbaiki layanan, harga, atau kualitas barang, ia justru berharap tetangganya gagal.
Padahal, kunci kesuksesan sejati ada pada introspeksi, kerja keras, dan memperbaiki kekurangan diri. Hasad justru menutup peluang perbaikan itu.
Para ulama menasihati agar orang yang dikelilingi sifat hasad tetap menjaga sikap wajar. Tidak perlu bermusuhan, tetapi cukup menjaga jarak secara sehat.
Baca Juga: Memaknai Konsep Keadilan dalam Kehidupan Sehari-hari
Bertegur sapa secukupnya, mengucapkan salam, dan sekadar menanyakan kabar sudah cukup.
Sebab, menjadikan orang yang hatinya dipenuhi hasad sebagai sahabat dekat hanya akan membawa pengaruh negatif dalam kehidupan.
Islam mengajarkan fastabiqul khoirot atau berlomba-lomba dalam kebaikan.
Artinya, dalam menghadapi persaingan, baik di bidang usaha, pendidikan, maupun sosial, manusia diajak untuk bersaing dengan cara-cara positif, bukan dengan menebar iri hati atau kebencian.
Amal kebaikan, pelayanan tulus, serta kepedulian sosial justru menjadi modal utama yang mengantarkan pada keberhasilan.
Hidup dengan hati yang bersih akan menumbuhkan ketenangan dan kebahagiaan.
Sebaliknya, mereka yang terus memelihara iri, dengki, dan dendam hanya akan merasakan hidup yang penuh kegelisahan.
Sifat hasad pada akhirnya lebih banyak merugikan pemiliknya dibandingkan orang yang menjadi objek kedengkiannya.
Karena itu, introspeksi diri dan pengendalian hati menjadi langkah penting untuk meraih kedamaian hidup.
Dengan menjauhi hasad serta penyakit hati lainnya, manusia dapat menjalani kehidupan sosial yang harmonis, membangun peradaban yang sehat, sekaligus meraih ridha Allah SWT.
Editor : Ali Mustofa