Kondisi Makkah dan Jazirah Arab Saat Nabi Muhammad ﷺ Lahir
Arikatul Ulya• Selasa, 2 September 2025 | 00:10 WIB
Ilustrasi Maulid Nabi Muhammad SAW (Freepik)
RADAR KUDUS - Untuk memahami mengapa Allah memilih Makkah sebagai tempat kelahiran Nabi Muhammad ﷺ, kita perlu menelusuri kondisi Makkah dan Jazirah Arab pada masa itu.
Makkah bukanlah kota besar seperti Roma yang dipenuhi arsitektur megah atau Persia yang memiliki kerajaan mapan dan kuat.
Namun, Makkah punya posisi yang unik: letaknya strategis di jalur perdagangan internasional dan di sana berdiri Ka‘bah, rumah ibadah yang sejak ribuan tahun lalu dibangun Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail sebagai simbol tauhid.
Mereka dipercaya untuk menjaga Ka‘bah, rumah suci yang menjadi pusat perhatian bangsa Arab, sehingga Quraisy mendapatkan kehormatan besar di mata suku-suku lainnya.
Kondisi Sosial
Masyarakat Arab kala itu hidup dalam ikatan kesukuan yang sangat kuat.
Identitas seseorang lebih banyak ditentukan oleh kabilahnya daripada aturan bersama sebagai sebuah bangsa.
Sayangnya, tradisi jahiliyyah begitu mengakar: mereka terbiasa mengubur bayi perempuan hidup-hidup karena dianggap aib, terbiasa mabuk-mabukan, berjudi, dan menyembah berhala.
Namun, di balik keburukan itu, mereka juga masih memegang nilai-nilai luhur: memuliakan tamu, menepati janji, dan menjaga kehormatan keluarga serta suku.
Para pedagang Quraisy terkenal dengan dua perjalanan dagang besar setiap tahunnya: pada musim dingin mereka pergi ke Yaman, dan pada musim panas mereka menuju Syam.
Hasil perdagangan ini membuat Quraisy sejahtera dan disegani, sekaligus menjadikan Makkah sebagai kota kecil dengan pengaruh ekonomi yang besar.
Kondisi Agama
Ka‘bah, rumah yang semestinya menjadi pusat penyembahan kepada Allah, justru dipenuhi berhala.
Tercatat ada 360 patung yang diletakkan mengelilingi Ka‘bah, dan masing-masing disembah oleh suku-suku Arab.
Meski demikian, ada segelintir orang yang tetap setia kepada ajaran Nabi Ibrahim dan disebut sebagai kaum Hanif.
Sementara itu, di luar Makkah terdapat beragam komunitas agama lain: orang Yahudi banyak bermukim di Madinah, penganut Nasrani tersebar di Syam dan Najran, sementara Majusi menjadi agama resmi Persia.
Dengan demikian, Jazirah Arab menjadi tempat pertemuan berbagai keyakinan yang berbeda.
Makkah: Kota Penuh Kontradiksi
Makkah pada masa kelahiran Nabi Muhammad ﷺ adalah kota yang penuh kontradiksi.
Ia adalah tempat suci, namun dipenuhi berhala.
Ia hanyalah kota kecil di tengah padang pasir, namun menjadi pusat perdagangan yang penting.