Arikatul Ulya• Senin, 1 September 2025 | 23:49 WIB
Ilustrasi Maulid Nabi Muhammad SAW (Freepik)
Nasab Mulia yang Terjaga
Nabi Muhammad ﷺ adalah manusia pilihan Allah yang tidak hanya dimuliakan karena akhlaknya, tetapi juga karena nasabnya yang suci dan terjaga.
Beliau adalah Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muththalib bin Hasyim bin Abdu Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka‘b bin Lu’ayy bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin an-Nadhr bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma‘add bin Adnan.
Maka, ketika Nabi Muhammad ﷺ lahir dari nasab yang jelas, terhormat, dan terjaga, itu menjadi salah satu bentuk persiapan Allah agar beliau dihormati bahkan sebelum risalah kenabian datang.
Tidak ada satu pun nenek moyang Nabi yang dikenal sebagai pezina atau pelaku dosa besar yang mencoreng kehormatan, karena Allah telah menjaganya hingga lahir seorang nabi terakhir dari garis itu.
Kehormatan dalam Pandangan Orang Arab
Keluarga Quraisy adalah suku yang paling dihormati di Makkah karena mereka penjaga Ka‘bah.
Dari kabilah Quraisy itulah Nabi Muhammad lahir.
Ayah beliau, Abdullah, adalah pemuda yang terkenal ketampanan dan kehormatannya.
Kakeknya, Abdul Muththalib, adalah pemuka Quraisy yang sangat dihormati karena keberanian, kedermawanan, serta peristiwa luar biasa ketika ia berhadapan dengan Abrahah saat hendak menyerang Ka‘bah pada Tahun Gajah.
Dengan latar belakang ini, Rasulullah ﷺ tumbuh di tengah masyarakat yang sejak awal sudah menaruh respek kepada keluarganya.
Hubungan dengan Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam
Nasab Rasulullah ﷺ bersambung hingga Nabi Ibrahim melalui jalur putranya, Nabi Ismail ‘alaihissalam.
Nabi Ibrahim adalah bapak para nabi, dan dari jalur keturunannya lahir dua bangsa besar: Bani Israil dari jalur Ishaq, dan bangsa Arab Adnani dari jalur Ismail.
Dari keturunan Ismail inilah lahir Nabi Muhammad ﷺ, sebagai penggenap doa Nabi Ibrahim yang diabadikan dalam Al-Qur’an:
“Ya Tuhan kami, utuslah kepada mereka seorang rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat-Mu, mengajarkan kepada mereka al-Kitab dan al-Hikmah, serta menyucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Baqarah: 129)
Doa ini dikabulkan berabad-abad kemudian dengan diutusnya Nabi Muhammad ﷺ sebagai penutup para nabi.
Maka, keberadaan Rasulullah bukanlah kebetulan sejarah, melainkan jawaban dari doa seorang kekasih Allah, Nabi Ibrahim.
Penutup: Nasab sebagai Tanda Persiapan Allah
Nasab mulia Nabi Muhammad ﷺ bukan sekadar kebanggaan keluarga Quraisy, melainkan tanda nyata bahwa Allah menyiapkan rasul terakhir-Nya dari garis keturunan terbaik, yang bersih, terhormat, dan penuh sejarah mulia.
Dengan begitu, Rasulullah ﷺ tidak hanya dimuliakan karena risalahnya, tetapi juga dihormati karena asal-usulnya.
Keutamaan nasab ini menjadi salah satu bukti bahwa Allah menyiapkan segala sesuatu dengan sempurna.