24 Jam Sama untuk Semua Orang, Tapi Kenapa Sebagian Besar Manusia Justru Merugi dengan Waktu yang Mereka Miliki
Ali Mustofa• Senin, 1 September 2025 | 17:16 WIB
Ilustrasi tips manajemen waktu
RADAR KUDUS – Banyak orang merasa 24 jam dalam sehari tidak pernah cukup. Padahal Allah SWT memberikan waktu yang sama kepada setiap manusia, hanya saja cara mengelolanya yang berbeda.
Ada yang mampu memanfaatkannya untuk kebaikan, ada pula yang justru menyia-nyiakan hingga berlalu begitu saja.
Islam menaruh perhatian besar pada waktu. Bahkan dalam Surah Al-‘Ashr ayat 1-3, Allah berfirman:
Artinya: “Demi masa, sesungguhnya manusia benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, mengerjakan amal shalih, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran.”
Ayat ini menjadi pengingat bahwa waktu adalah nikmat sekaligus ujian yang tidak boleh diremehkan.
Sejarah mencatat bahwa Rasulullah SAW adalah sosok yang sangat disiplin dalam mengatur waktunya.
Kegiatan Rasulullah SAW di pagi hari selalu produktif. Setelah salat Subuh, beliau berinteraksi dengan sahabat, memberi nasihat, dan memulai aktivitas harian.
Waktu siang digunakan untuk dakwah, menyelesaikan urusan umat, hingga berperang jika diperlukan.
Sore hari beliau tetap menyempatkan waktu bersama keluarga, mendidik, dan membimbing umatnya.
Dalam hadis riwayat Anas RA, Rasulullah SAW bahkan menganjurkan tidur siang (qailulah), dengan sabdanya: “Tidurlah qailulah (tidur siang), karena setan tidak mengambil tidur siang.” (HR. Abu Nu’aim).
Hal ini menunjukkan betapa Nabi mengajarkan keseimbangan antara produktivitas dan istirahat.
Ulama menegaskan, waktu adalah modal utama kehidupan manusia. Ia berjalan cepat, tidak bisa dihentikan, apalagi dikembalikan. Setiap detik yang terlewat akan dimintai pertanggungjawaban.
Karena itu, seorang Muslim idealnya menata waktunya berdasarkan poros salat lima waktu.
Dari sinilah seluruh aktivitas duniawi dan ukhrawi bisa disusun. Dengan menjadikan salat sebagai titik utama, seorang Muslim dapat menjaga kedisiplinan dan keberkahan.
Imam Nawawi, Ibnul Jauzi, hingga Imam Suyuthi dikenal produktif menulis ribuan halaman karya besar meski usia mereka tidak panjang.
Rahasianya sederhana: disiplin waktu. Mereka tidak suka menunda pekerjaan, fokus pada prioritas, dan menjadikan ilmunya sebagai bekal amal jariyah.
Langkah Kecil yang Bisa Dilakukan
Para ulama menawarkan kiat praktis agar umat Islam mampu menata waktu sebagaimana Rasulullah SAW:
Sadari pentingnya waktu. Kesadaran ini membuat seseorang lebih menghargai detik demi detik dalam hidup.
Jadikan salat sebagai poros aktivitas. Lima waktu salat menjadi pilar utama manajemen waktu Islami.
Buat skala prioritas. Dahulukan yang wajib dan penting, sisihkan yang tidak mendesak.
Susun jadwal harian. Menuliskan target harian membantu menghindari waktu terbuang sia-sia.
Disiplin eksekusi. Segera kerjakan tanpa menunda, karena menunda berarti membuka pintu kerugian.
Evaluasi diri. Lakukan muhasabah setiap malam, apakah waktu telah terpakai dengan baik atau masih banyak yang terbuang.
Oleh karena itu, karakteristik waktu dalam Islam jelas: cepat habis, tidak bisa kembali, dan merupakan modal terbesar manusia.
Dengan demikian, siapa yang cerdas memanfaatkannya akan memperoleh keuntungan berlipat: ilmu, amal, dan keberkahan.
Sebaliknya, mereka yang menunda-nunda akan kehilangan modal terbesar tanpa bisa ditebus.
Rasulullah SAW pernah mengingatkan dalam sebuah hadis: “Ada dua nikmat yang kebanyakan manusia tertipu: kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari).
Pertanyaannya, apakah kita masih rela membiarkan waktu terbuang sia-sia hanya untuk aktivitas tanpa manfaat? Atau mulai menata setiap detik sebagai investasi akhirat?