Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Terlalu Sibuk atau Malas? Awas, Islam Ingatkan Bisa Jadi “Korban Waktu”!

Ali Mustofa • Senin, 1 September 2025 | 16:56 WIB

Ilustrasi manajemen waktu. )
Ilustrasi manajemen waktu. )

RADAR KUDUS – Banyak orang menganggap waktu hanyalah angka yang terus berjalan di jam dinding.

Padahal, dalam pandangan Islam, waktu adalah aset terbesar manusia. Jika tidak dikelola dengan bijak, kita bukan hanya akan tertinggal, tapi bisa jadi benar-benar “dilindas zaman”.

Al-Qur’an memberikan perhatian luar biasa pada persoalan waktu. Surah Al-‘Ashr bahkan dibuka dengan sumpah Allah atas nama waktu.

Baca Juga: Menggali Pesan Surat Al-Ashr tentang Pentingnya Perbuatan Baik

Allah SWT berfirman: “Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, beramal saleh, serta saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.” (QS. Al-Ashr: 1-3).

Pesan ini jelas: waktu sangat berharga, dan manusia akan selalu merugi jika membiarkannya terbuang sia-sia.

Kerugian itu hanya bisa dihindari dengan tiga syarat: iman dan amal saleh, saling menasihati dalam kebenaran, serta menasihati dalam kesabaran.

Waktu Tidak Pernah Sial, Manusialah yang Sering Salah

Menariknya, masyarakat Arab dahulu kerap menyalahkan waktu saat mengalami kegagalan. Mereka menyebut masa lalu sebagai “waktu sial”.

Namun Al-Qur’an membantah anggapan ini. Waktu bersifat netral, tidak pernah membawa sial atau untung.

Justru manusialah yang menentukan bagaimana setiap detik digunakan. Salah mengelola, rugi; memanfaatkannya dengan baik, beruntung.

Seorang mufasir modern, Muhammad Asad, bahkan menerjemahkan kata al-‘ashr sebagai “the flight of time” atau “berlalunya waktu”.

Baca Juga: Makna Syukur dalam Kehidupan: Kunci Kebahagiaan dan Derajat Tertinggi Iman

Artinya, waktu terus melesat tanpa bisa diulang. Sia-sia jika kita hanya meratapi masa lalu tanpa pernah bergerak.

Sayangnya, banyak orang baru sadar ketika sudah terlambat: masa muda dihabiskan untuk foya-foya, mabuk, atau malas-malasan, hingga akhirnya menyesali diri di masa tua.

Kunci Selamat dari “Gilingan Zaman”

Islam menawarkan resep agar manusia tidak jadi korban waktu. Tiga hal utama harus dijaga: iman disertai amal saleh, kesadaran akan kebenaran, dan kekuatan kesabaran.

Tanpa iman, amal tak bernilai; tanpa amal, iman kosong belaka. Kesabaran juga tidak berarti diam atau pasrah, melainkan konsisten, kuat bertahan, dan tetap berusaha meski penuh rintangan.

Kesabaran ini pernah diuji pada Perang Uhud. Sebagian pasukan Muslim tergoda harta rampasan dan meninggalkan posnya. Akibatnya, kemenangan hampir diraih berubah jadi kekalahan.

Dari sini kita belajar bahwa “sabar” berarti teguh pada aturan, bukan sekadar menunggu tanpa tindakan.

Manajemen Waktu dalam Islam: Ada Skala Prioritas

Konsep manajemen modern mengenal perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, dan evaluasi.

Menariknya, Al-Qur’an juga menekankan hal serupa. Surah Al-Hasyr ayat 18.

Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan."

Ayat ini mengingatkan agar manusia merenungi apa yang telah diperbuat untuk hari esok. Inilah bentuk evaluasi sekaligus perencanaan.

Selain itu, Islam juga mengajarkan fiqh al-awlawiyyah atau skala prioritas. Artinya, dahulukan yang wajib daripada yang sunnah, utamakan yang lebih penting daripada yang sekunder.

Prinsip ini sangat relevan di era sekarang, ketika banyak orang tenggelam dalam aktivitas tidak penting, sementara tugas utama justru terbengkalai.

Panduan Emas dari Nabi: 24 Jam Harus Seimbang

Rasulullah SAW memberikan panduan yang sangat praktis tentang pembagian waktu.

Sehari semalam, kata beliau, sebaiknya dibagi menjadi tiga bagian: sepertiga untuk bekerja, sepertiga untuk beribadah, dan sepertiga untuk istirahat.

Bayangkan, betapa seimbangnya hidup jika pola ini diterapkan.

Delapan jam untuk bekerja dengan penuh dedikasi, delapan jam untuk beribadah dan memperkuat spiritualitas, serta delapan jam untuk istirahat demi menjaga kesehatan fisik dan mental.

Sayangnya, banyak orang justru menghabiskan lebih banyak waktu untuk hiburan tanpa batas, sementara ibadah dan istirahat sering diabaikan.

Waktu Itu Pedang, Siapkah Kamu Menebasnya?

Pepatah Arab terkenal mengatakan: “Al-waqtu kassaif, fa in lam taqtha’hu qatha’aka” – waktu itu ibarat pedang, jika kamu tidak menebasnya, maka ia akan menebasmu.

Pesan ini begitu relevan. Waktu terus berjalan tanpa kompromi, dan kesempatan yang hilang tidak akan pernah kembali.

Dr. A’idh al-Qarni bahkan mengingatkan dalam bukunya La Tahzan, bahwa waktu kosong bisa jadi hukuman yang sangat menyakitkan.

Ia mengibaratkan narapidana yang terus-menerus diteteskan air di kepalanya, hingga akhirnya menjadi stres dan gila. Begitulah rasanya membiarkan waktu berlalu tanpa arah.

Pada akhirnya, Islam menegaskan bahwa waktu adalah amanah besar.

Jika kita mampu memanage dengan baik—dengan perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, evaluasi, serta kesadaran akan prioritas—maka waktu akan menjadi jalan menuju kesuksesan dunia dan akhirat.

Namun jika kita lalai, waktu akan berubah menjadi pedang yang menebas kehidupan kita tanpa ampun.

Pertanyaannya sekarang: apakah Anda masih akan terus membiarkan waktu berlalu tanpa arah?

Editor : Ali Mustofa
#sibuk #malas #islam #kebenaran #waktu #Kesabaran