RADAR KUDUS – Keadilan bukan hanya slogan indah, melainkan fondasi tegaknya sebuah masyarakat, bangsa, dan negara.
Tanpa keadilan, tatanan hidup manusia akan rapuh dan membawa pada kekacauan serta penderitaan.
Islam dengan tegas melarang segala bentuk kezaliman, baik kepada diri sendiri maupun kepada orang lain.
Baca Juga: Rahasia Menemukan Hidup Bahagia dan Bermakna dengan 10 Prinsip Kehidupan
Terlebih lagi ketika yang berkuasa menindas yang lemah, orang kaya merampas hak si miskin, atau penguasa berlaku semena-mena terhadap rakyatnya.
Allah SWT memperingatkan dalam firman-Nya (QS. Al-Maidah: 8):
"Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kalian penegak kebenaran karena Allah, serta saksi yang adil. Janganlah kebencianmu kepada suatu kaum mendorongmu untuk tidak berlaku adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan."
Pesan Al-Qur’an begitu jelas: berlaku adil adalah kewajiban, bahkan terhadap musuh sekalipun.
Ulama tafsir, Prof. M. Quraish Shihab, menegaskan dalam bukunya Wawasan Al-Qur’an (Mizan, 2007), bahwa keadilan merupakan salah satu sendi utama kehidupan bermasyarakat.
Menurutnya, berbuat baik melebihi batas keadilan —seperti memaafkan pencuri atau memberi sesuatu kepada orang yang malas— justru berpotensi merusak tatanan sosial.
Baca Juga: Ternyata Derajat Syukur Lebih Tinggi dari Takwa, Benarkah?
Ia menukil sabda Nabi SAW ketika seorang pencuri pakaian bernama Shafwan bin Umayyah dihadapkan ke pengadilan.
Walaupun pemilik barang memaafkan, Rasulullah tetap menjatuhkan hukuman potong tangan, seraya bersabda: “Seharusnya engkau memaafkan sebelum membawanya kepadaku.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, dan Nasa’i).
Lebih jauh, Quraish Shihab menjelaskan, keadilan dalam Al-Qur’an tidak hanya terbatas pada hukum atau perselisihan, tetapi juga mencakup sikap terhadap diri sendiri, cara berbicara, menulis, bahkan dalam batin.
Allah SWT berfirman: “Dan apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil, walaupun terhadap kerabatmu.” (QS. Al-An’am: 152).
Al-Qur’an juga menegaskan bahwa misi kerasulan adalah menegakkan sistem kemanusiaan yang berlandaskan keadilan.
Baca Juga: Mau Hidup Bahagia dan Bermakna? Ternyata Rahasianya Ada pada Tiga Hal Ini
Kepemimpinan pun dipandang sebagai “perjanjian Ilahi” yang menuntut para pemimpin untuk menolak kezaliman dan menegakkan keadilan (QS. Al-Baqarah: 124).
Allah berfirman, artinya: "Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat, lalu dia melaksanakannya dengan sempurna. Dia (Allah) berfirman, "Sesungguhnya Aku menjadikan engkau sebagai pemimpin bagi seluruh manusia." Dia (Ibrahim) berkata, "Dan (juga) dari anak cucuku?" Allah berfirman, "(Benar, tetapi) janji-Ku tidak berlaku bagi orang-orang zhalim."
Quraish Shihab menyebut, Al-Qur’an membicarakan keadilan mulai dari tauhid hingga urusan kepemimpinan, dari persoalan pribadi hingga ranah sosial.
Keadilan menjadi syarat kesempurnaan individu, standar kesejahteraan masyarakat, dan jalan menuju kebahagiaan ukhrawi.
Di era modern saat konflik, perbedaan pendapat, hingga pertarungan politik kian panas, ayat ini terasa semakin relevan.
Islam menegaskan: jangan biarkan kebencian, prasangka, atau kepentingan pribadi merusak prinsip keadilan.
Editor : Ali Mustofa