Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Kisah Luqman Al Hakim dan Keledai tentang Pelajaran Hidup: Apapun yang Kita Lakukan, Salah di Mata Orang!

Ali Mustofa • Jumat, 29 Agustus 2025 | 13:30 WIB

Ilustrasi pengunjung wisata menunggangi kuda
Ilustrasi pengunjung wisata menunggangi kuda

RADAR KUDUS - Nama Luqman Al Hakim sudah tidak asing lagi bagi umat Islam. Allah SWT mengabadikan namanya dalam Al-Qur’an sebagai salah satu surah, yakni Surah Luqman yang menempati urutan ke-31.

Bukan hanya namanya yang dikenang, tetapi juga nasihat-nasihat bijaknya yang diabadikan dalam QS. Luqman ayat 12–19.

Salah satu kisah yang paling populer adalah cerita Luqman bersama putranya ketika menunggangi seekor keledai.

Baca Juga: 6 Cara Sederhana Bangun Rasa Percaya Diri Setiap Hari yang Bisa Dilakukan

Kisah ini mengandung pesan moral mendalam tentang bagaimana manusia seharusnya bersikap di tengah kehidupan sosial yang penuh dengan komentar dan penilaian orang lain.

Suatu hari, Luqman berkata kepada putranya: "Wahai anakku, berusahalah melakukan kebaikan, baik untuk agama maupun duniamu. Jangan terlalu memusingkan perkataan orang lain, sebab tidak ada cara untuk membuat semua orang puas. Hati dan pikiran manusia terlalu beragam untuk bisa disatukan."

Untuk membuktikan ucapannya, Luqman kemudian mengajak putranya bepergian dengan seekor keledai.

Awalnya, Luqman duduk di atas keledai, sementara anaknya berjalan sambil menuntun. Orang-orang yang melihat langsung berkomentar sinis:

"Sungguh egois orang tua itu, anak kecil dibiarkan berjalan kaki, sementara dia duduk nyaman di atas keledai!"

Mendengar komentar itu, Luqman pun berkata pada putranya: "Anakku, dengarlah apa yang mereka katakan."

Lalu keduanya berganti posisi. Kali ini sang anak yang naik, sementara Luqman menuntun keledai. Namun, lagi-lagi orang-orang mencibir:

Baca Juga: Rahasia Menemukan Hidup Bahagia dan Bermakna dengan 10 Prinsip Kehidupan 

 

"Anak itu sungguh tidak tahu sopan santun, orang tua dibiarkannya berjalan kaki, sementara dia duduk santai di atas keledai!"

Untuk menghindari cibiran, mereka pun akhirnya naik berdua. Namun, komentar lain kembali muncul:

"Betapa kejamnya bapak dan anak itu, keledai kecil yang kurus dipaksa membawa dua orang!"

Mendengar ocehan itu, Luqman turun bersama anaknya, lalu mereka berjalan beriringan sambil menuntun keledai. Tetapi tetap saja, orang-orang kembali mencemooh:

"Bodoh sekali bapak dan anak itu, punya keledai tapi tidak dinaiki, justru memilih berjalan kaki!"

Baca Juga: Bijak Memilih Teman: Hindari Lima Tipe Orang Ini agar Hidupmu Lebih Tenang dan Bahagia

Melihat semua kejadian itu, Luqman pun berkata lembut kepada anaknya:

"Anakku, lihatlah sejak awal tidak ada satu pun perbuatan kita yang benar di mata semua orang. Selalu saja ada yang salah. Karena itu, peganglah prinsip. Jangan hidup hanya demi penilaian manusia. Lakukan apa yang benar menurut Allah, dan apa yang bermanfaat untukmu."

Kisah Luqman dan keledai ini hanyalah salah satu dari banyak nasihat berharganya. Dalam Al-Qur’an, Luqman mengajarkan agar manusia:

- Tidak boleh mempersekutukan Allah (QS 31:13)

- Berbuat baik kepada kedua orang tua suatu keniscayaan (QS 31:14)

- Selalu sadar bahwa kita selalu di dalam pengawasan Allah (QS 31:16)

- Anjuran untuk selalu mendirikan shalat (QS 31:17)

- Senantiasa berbuat kebajikan (QS 31:17)

- Menjauhi kemungkaran (QS 31:17)

- Selalu sabar menghadapi cobaan dan ujian (QS 31:17)

- Selalu menghindari kesombongan (QS 31:19).

Dari keseluruhan nasihat dan pelajaran itu, jelas bahwa hidup tidak akan pernah terlepas dari penilaian manusia.

Namun yang terpenting adalah kita mengambil pelajaran berharga dari kisah hidup Luqmanul Hakim untuk istiqamah dalam kebaikan dan tetap berpegang teguh pada prinsip yang diridhoi Allah SWT.

Editor : Ali Mustofa
#nasihat #Luqman Al Hakim #umat islam #manusia #Keledai #kehidupan sosial