KUDUS – Setiap orang tentu mendambakan keberhasilan dalam hidupnya. Namun, makna kesuksesan kerap dipahami dengan cara yang berbeda-beda.
Ada yang menilai keberhasilan diukur dari banyaknya harta, jabatan tinggi, pendidikan, maupun popularitas.
Sementara sebagian lainnya beranggapan sukses berarti tercapainya cita-cita pribadi.
Baca Juga: Cara Mengenal Diri Sendiri untuk Mengenal Sang Pencipta, Ini Ulasannya!
Meski sah-sah saja memiliki pandangan berbeda, keberhasilan sejati justru akan sia-sia apabila tidak mengantarkan manusia pada ketaatan kepada Allah SWT.
Lantas, bagaimana hakikat kesuksesan menurut Al-Qur’an, khususnya dalam Surat Al-Ashr?
Allah SWT berfirman: “Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, beramal saleh, serta saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.” (QS. Al-Ashr: 1-3).
Ayat ini mengajarkan bahwa waktu adalah anugerah paling berharga.
Dalam berbagai perumpamaan, waktu digambarkan bagaikan emas atau sebilah pedang, sehingga harus dimanfaatkan sebaik-baiknya dengan amal positif yang bermanfaat bagi diri sendiri maupun orang lain.
Kesuksesan yang bernilai di sisi Allah SWT ialah kesuksesan yang disertai iman dan amal saleh.
Baca Juga: Makna Kehidupan dan Tujuan Penciptaan Manusia, Kembali kepada Allah SWT
Keduanya tidak bisa dipisahkan—iman tanpa amal hampa, sedangkan amal tanpa iman tak berarti.
Amal saleh sendiri mencakup dua aspek: amal ibadah sebagai bentuk hubungan vertikal dengan Allah (hablumminallah), serta amal jariyah yang berhubungan horizontal dengan sesama manusia (habluminannas).
Contohnya adalah salat, puasa, zakat, sedekah, membangun fasilitas umum, hingga memberikan ilmu yang bermanfaat.
Dengan berbuat baik, sejatinya seseorang tidak hanya memberi manfaat kepada orang lain, tetapi juga kepada dirinya sendiri.
Hal ini ditegaskan dalam Surat Al-Isra ayat 7, bahwa kebaikan kembali kepada pelakunya, begitu juga dengan keburukan.
Artinya: "Jika kamu berbuat baik, (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri, dan jika kamu berbuat jahat, (berarti) kamu berbuat jahat bagi dirimu sendiri."
Baca Juga: Empat Cara Mengenal Diri untuk Lebih Dekat kepada Allah SWT
Karena itu, berbuat baik harus dilandasi niat ikhlas semata-mata karena Allah SWT, bukan untuk pujian.
Rasulullah SAW mengingatkan: “Sesungguhnya segala amal bergantung pada niatnya, dan setiap orang akan memperoleh sesuai dengan apa yang diniatkannya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Niat yang lurus menjadi dasar diterima atau tidaknya suatu amal.
Dengan demikian, hakikat kesuksesan sejati adalah hidup yang dipenuhi iman, amal saleh, serta niat yang ikhlas.
Hidup, ibadah, bahkan kematian pun semestinya diabdikan hanya kepada Allah SWT, sebagaimana pesan Surat Al-An’am ayat 162.
Artinya: "Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidup, dan matiku hanya untuk Tuhan Semesta Alam."
Editor : Ali Mustofa