Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Merespons Kematian dan Kemiskinan dalam Ajaran Rasul

M. Khoirul Anwar • Kamis, 21 Agustus 2025 | 16:39 WIB
Photo
Photo

RADAR KUDUS - ADA dua hal yang hampir selalu ditakuti manusia, yakni kematian dan kemiskinan. Keduanya kerap dianggap sebagai musibah besar yang merampas kebahagiaan hidup. Padahal, jika dilihat dari sudut pandang iman, keduanya justru menyimpan hikmah mendalam.

Hal ini disampaikan oleh Dr. Abdul Wahab, M.Si., Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Alumni, Kewirausahaan, dan Penerapan Islam Aswaja An-Nahdliyyah Unisnu Jepara, dalam forum Ngaji Ngopi yang digelar Fakultas Komunikasi dan Desain Unisnu Jepara.

Dalam kesempatan tersebut, ia membacakan kitab Mukhtarul Ahadits an-Nabawiyyah yang memuat hadis Nabi dari Mahmud bin Lubaid, riwayat Ahmad: “Dua perkara yang dibenci anak Adam, yaitu membenci mati padahal mati lebih baik daripada fitnah, dan membenci sedikit harta benda padahal sedikit harta benda meringankan hisab.”

Pertama, persoalan kematian. Hampir semua orang takut mati karena kematian sering dipersepsikan sebagai akhir dari segalanya.

Padahal, bagi seorang mukmin, kematian bukanlah akhir, melainkan pintu menuju kehidupan yang lebih luas yaitu akhirat. Bahkan wafat dalam keadaan iman bisa lebih baik daripada hidup panjang tetapi dipenuhi fitnah yang merusak keyakinan dan amal saleh.

Abdul Wahab menjelaskan bahwa kehidupan manusia adalah rangkaian perpindahan dari rahim ibu menuju dunia, lalu kelak berpindah ke alam kubur yang justru lebih luas daripada dunia.

Artinya, kematian sejatinya bukan akhir, melainkan pintu gerbang menuju fase berikutnya. Karena itu, bagi seorang mukmin, kematian tidak patut ditakuti, melainkan dipersiapkan dengan bekal amal terbaik.

Takut mati yang berlebihan justru dapat menjerumuskan manusia pada kelalaian. Sebaliknya, rasa takut mati yang dilandasi kesadaran iman akan mendorong seseorang lebih serius mempersiapkan bekal akhirat.

Ia akan berusaha menjaga diri dari fitnah, memperbanyak amal kebaikan, dan menata kehidupan agar berakhir dalam keadaan husnul khatimah.

Dengan demikian, kematian bukan lagi sesuatu yang menakutkan, melainkan bagian dari perjalanan menuju Allah swt.

Kedua, persoalan harta. Hampir semua orang juga takut miskin karena kemiskinan sering dianggap hina.

Namun hadis ini mengingatkan bahwa sedikit harta justru bisa menjadi keringanan pada hari hisab.

Semakin banyak harta yang dimiliki, semakin besar pula tanggung jawab yang dipikul, dari mana harta itu diperoleh dan ke mana dibelanjakan. Yang halal tetap dihisab, apalagi yang haram tentu berujung azab.

Karena itu, sikap qana’ah atau merasa cukup menjadi kunci penting dalam menghadapi kehidupan dunia.

Hidup sederhana bukan berarti pasrah tanpa usaha, melainkan menempatkan harta sesuai fungsinya yaitu sekadar sarana, bukan tujuan utama.

Dengan harta yang sedikit namun halal dan bermanfaat, seorang hamba dapat menjalani hidup dengan lebih ringan dan terhindar dari hisab yang berat di akhirat.

Lalu, bagaimana menyikapi rasa takut miskin? Islam memberikan jalan tengah yang indah yakni bekerja dengan cara halal, bertawakal kepada Allah swt, dan memperbanyak sedekah.

Justru ketika merasa khawatir soal rezeki, sedekah bisa menjadi obat hati yang ampuh. Sebab rezeki, baik dalam keadaan kaya maupun miskin, adalah ujian.

Yang membedakan hanyalah bagaimana manusia mampu mensyukuri dan mengelola nikmat itu dengan benar.

Dr. Abdul Wahab menegaskan bahwa manusia sering kali terjebak dalam ilusi dunia. Takut mati membuatnya berusaha mempertahankan kehidupan duniawi meski dengan mengabaikan nilai akhirat.

Sementara takut miskin mendorongnya mencari harta sebanyak-banyaknya tanpa memperhatikan kehalalan.

Padahal, ujian sesungguhnya justru terletak pada bagaimana ia mampu memanfaatkan hidup dan harta sesuai tuntunan agama.

Selain itu, hadis ini juga memberi pelajaran moral tentang makna keseimbangan hidup. Kematian mengingatkan manusia agar tidak berlama-lama dalam kelalaian, sedangkan sedikitnya harta melatih diri untuk hidup sederhana.

Dua hal yang ditakuti manusia itu sebenarnya bisa menjadi wasilah untuk mendekatkan diri kepada Allah swt, jika dihadapi dengan iman dan kesabaran.

Pesan yang dapat dipetik dari hadis ini adalah keseimbangan. Jangan terlalu takut pada kematian, tetapi jadikan rasa takut itu sebagai dorongan untuk beramal.

Jangan pula terlalu cemas pada sedikitnya harta, karena yang sedikit bisa meringankan hisab.

Pada akhirnya, yang paling penting adalah bagaimana kita menjaga iman dan memanfaatkan harta sebagai amanah, sehingga kehidupan dunia menjadi bekal menuju kebahagiaan abadi di akhirat.

(Oleh: Dr. Abdul Wahab, M.S.I. Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Alumni, Kewirausahaan, dan Penerapan Islam Aswaja An-Nahdliyyah) 

Editor : Mahendra Aditya
#ajaran #kajian #islam #Rasul #unisnu #kemiskinan #Kematian #religi