Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Rebo Wekasan: Shalat, Doa, dan Makna Spiritual Menurut Para Ulama

Mahendra Aditya Restiawan • Rabu, 20 Agustus 2025 | 01:11 WIB
Doa Tolak Bala/ Doa Rebo Wekasan
Doa Tolak Bala/ Doa Rebo Wekasan

RADAR KUDUS - Bulan Safar dalam kalender Hijriah kerap menjadi bahan perbincangan di tengah masyarakat Muslim, khususnya di Jawa.

Sebagian kalangan mengaitkan bulan ini dengan datangnya musibah atau kesialan. Salah satu tradisi yang lahir dari pandangan tersebut adalah Rebo Wekasan, yaitu peringatan yang jatuh pada Rabu terakhir bulan Safar.

Hingga kini, Rebo Wekasan masih dipraktikkan oleh sebagian umat Islam Indonesia.

Meski kerap dipandang sebagai warisan budaya bercampur keyakinan, para ulama memberikan penjelasan mendalam mengenai makna dan amalan yang dapat dilakukan pada hari tersebut.

Baca Juga: Benarkah Rebo Wekasan Hari Turunnya Bala? Begini Penjelasan Mbah Maimoen


Asal Usul dan Pandangan tentang Rebo Wekasan

Istilah Rebo Wekasan berasal dari bahasa Jawa, yang berarti “Rabu terakhir”. Masyarakat tradisional menganggap bahwa pada hari ini sering kali turun bala atau ujian.

Karena itu, umat Islam terdorong untuk memperbanyak doa, istighfar, dan ibadah lainnya sebagai bentuk ikhtiar spiritual.

KH Maimoen Zubair (Mbah Maimoen), ulama karismatik asal Sarang, Rembang, menjelaskan bahwa hari Rabu terakhir Safar sering dihubungkan dengan peristiwa penciptaan bumi.

Dalam sebuah pengajian, beliau menerangkan bahwa bumi diciptakan selama empat hari, dari Ahad hingga Rabu. Rabu terakhir itu kemudian disebut Rebo Wekasan, hari penutup dari proses tersebut.

Lebih lanjut, sejumlah ulama ahli tasawuf menilai bahwa momentum ini kerap menjadi waktu turunnya ujian dan cobaan.

Karena itu, mereka menganjurkan memperbanyak doa sebagai bentuk permohonan perlindungan kepada Allah SWT.


Hubungan dengan Bulan Safar

Dalam bahasa Arab, kata Safar berarti “kuning”. Warna kuning pada masa lalu diidentikkan dengan kepucatan, kosong, atau tanda melemah.

Oleh sebagian masyarakat, makna ini kemudian dikaitkan dengan bulan Safar sebagai bulan yang dianggap membawa kesialan.

Namun, para ulama menekankan bahwa keyakinan tersebut tidak boleh diartikan secara mutlak. Imam Abdurrauf al-Munawiy dalam kitab Faidh al-Qadir menjelaskan bahwa tidak ada larangan mengerjakan amalan pada Rebo Wekasan.

Yang penting, niatnya bukan karena menganggap Safar atau Rabu terakhir sebagai waktu sial, melainkan sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Dengan kata lain, jika seseorang ingin bertaubat atau memperbanyak ibadah di bulan ini, hal itu dilakukan sebagai wujud ketaatan, bukan sekadar karena takut bala.


Amalan yang Dianjurkan

Amalan yang lazim dilakukan pada Rebo Wekasan beragam, mulai dari shalat sunnah, membaca doa, memperbanyak istighfar, hingga tilawah Al-Qur’an.

  1. Shalat Sunnah

    • Dilaksanakan empat rakaat, dengan niat shalat sunnah mutlak.

    • Setelah membaca Al-Fatihah, dianjurkan membaca surat Al-Kautsar 17 kali, Al-Ikhlas 5 kali, serta Al-Falaq dan An-Nas masing-masing sekali.

    • Setelah salam, kembali melaksanakan dua rakaat dengan susunan bacaan yang sama sehingga genap empat rakaat.

    Ulama menegaskan, shalat ini tidak boleh diniatkan sebagai “shalat khusus Rebo Wekasan”, melainkan shalat sunnah mutlak yang dilakukan bertepatan dengan hari tersebut.

  2. Membaca Doa Tolak Bala
    Beberapa doa yang diajarkan antara lain permohonan keselamatan, sebagaimana termaktub dalam kitab-kitab doa. Salah satu redaksinya berbunyi:

    “Ya Allah, wahai Yang Maha Kuat dan Maha Perkasa, cukupkanlah aku dari segala keburukan makhluk-Mu. Wahai Yang Maha Penyayang, lindungilah aku dari bencana hari ini dan apa yang turun padanya.”

    Doa ini dipanjatkan sebagai bentuk tawakkal dan harapan agar Allah menjaga umat dari marabahaya.

  3. Memperbanyak Istighfar
    Nabi Muhammad SAW bersabda:

    “Barang siapa memperbanyak istighfar, Allah akan memberikan jalan keluar bagi setiap kesedihannya, kelapangan bagi setiap kesempitannya, dan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (HR. Ahmad).

    Istighfar menjadi amalan utama di hari ini sebagai pengingat bahwa perlindungan sejati hanya berasal dari Allah SWT.

  4. Membaca Al-Qur’an
    Membaca Al-Qur’an di hari-hari Safar, termasuk Rebo Wekasan, dianjurkan sebagai bentuk ibadah. Rasulullah SAW bersabda:

    “Siapa yang membaca satu huruf dari Kitabullah (Al-Qur’an), maka baginya satu kebaikan, dan setiap kebaikan dibalas sepuluh kali lipat.” (HR. Tirmidzi).

    Membaca Al-Qur’an juga menjadi sarana memperkuat iman dan menenangkan jiwa.


Makna Spiritual Rebo Wekasan

Mbah Maimoen menekankan bahwa Rebo Wekasan jangan dipahami sebagai ritual wajib, melainkan sebagai momentum spiritual.

Tradisi ini mengingatkan umat bahwa segala musibah maupun keselamatan datangnya dari Allah SWT.

Dengan melaksanakan shalat sunnah, memperbanyak doa, membaca Al-Qur’an, dan beristighfar, seorang Muslim diharapkan semakin dekat dengan Tuhannya.

Tradisi ini juga menjadi pengingat bahwa hari-hari dalam hidup selalu layak diisi dengan ibadah, bukan dengan kecemasan atau keyakinan akan kesialan semata.

Baca Juga: Rebo Wekasan Menurut Mbah Maimoen: Sejarah, Makna, dan Tata Cara Shalatnya


Rebo Wekasan dalam Kehidupan Masyarakat

Di berbagai daerah di Indonesia, khususnya Jawa, peringatan Rebo Wekasan masih dilestarikan. Masjid dan pesantren sering mengadakan doa bersama, pengajian, hingga pembacaan doa tolak bala.

Bagi masyarakat, Rebo Wekasan tidak hanya bernilai ibadah, tetapi juga memperkuat ikatan sosial.

Tradisi ini menjadi ruang berkumpul, saling mendoakan, dan mengingatkan satu sama lain untuk selalu kembali kepada Allah SWT.

Rebo Wekasan adalah tradisi Islam Jawa yang memiliki akar dalam pemahaman spiritual masyarakat tentang bulan Safar.

Ulama seperti KH Maimoen Zubair dan Imam Abdurrauf al-Munawiy memberikan penjelasan bahwa amalan pada hari tersebut diperbolehkan, selama niatnya untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Shalat sunnah, doa, istighfar, dan tilawah Al-Qur’an menjadi amalan utama yang dianjurkan.

Rebo Wekasan sebaiknya dimaknai sebagai momentum memperkuat keimanan, bukan sekadar keyakinan akan datangnya bala.

Dengan demikian, tradisi ini tetap relevan dan hidup dalam keseharian umat Islam sebagai bagian dari ikhtiar spiritual dan kearifan lokal.

Editor : Mahendra Aditya
#ritual keagamaan rebo wekasan #Tata Cara Mandi Rebo Wekasan #Mandi Rebo Wekasan adalah #menjaga Rebo Wekasan di era sekarang #ritual Rebo Wekasan #rebo wekasan tegese podo karo #rebo wekasan adalah #Rebo Wekasan #mandi Rebo Wekasan #Pelaksanaan sholat sunnah Rebo Wekasan #ritual Ngapem pada Rebo Wekasan #niat mandi Rebo Wekasan #rebo wekasan itu apa #rebo wekasan 2025 #Lafal niat sholat Rebo Wekasan #Cara Membuat Air Salamun Rebo Wekasan #sejarah Rebo Wekasan #dimulai malam Rebo Wekasan #kunci agar Rebo Wekasan tetap bertahan #larangan Rebo Wekasan #makanan khas Rebo Wekasan #Asal dari Amalan Rebo Wekasan #kapan Rebo Wekasan #Waktu pelaksanaan Sholat Rebo Wekasan #Sholat Rebo Wekasan #fenomena rebo wekasan