Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Beragama Tanpa Berpikir Itu Berbahaya! Menghidupkan Akal dan Iman Lewat Filsafat, Bukan Sekadar Simbol Agama

Redaksi Radar Kudus • Jumat, 20 Juni 2025 | 17:31 WIB

Beragama Tanpa Berpikir Itu Berbahaya! Menghidupkan Akal dan Iman Lewat Filsafat, Bukan Sekadar Simbol Agama

Ilustrasi Orang yang sedang Salat
Ilustrasi Orang yang sedang Salat

RADAR KUDUS - Ketika agama kerap dimaknai sebatas ritual dan simbol, Dr. Fahruddin Faiz hadir dengan pendekatan berbeda.

Melalui kombinasi antara filsafat dan ajaran Islam, ia menantang umat untuk kembali menghidupkan akal bukan sebagai musuh iman, tetapi justru sebagai pendampingnya.

Dalam banyak kesempatan, termasuk di kajian rutinnya Ngaji Filsafat di Masjid Jenderal Sudirman, Yogyakarta, Fahruddin Faiz menekankan pentingnya berpikir sebagai bentuk tertinggi dari ibadah. Ia menyebut, akal adalah sarana untuk menyerap cahaya wahyu, bukan untuk menolaknya.

“Filsafat itu perintah agama. Karena Islam sendiri adalah agama yang penuh ajakan berpikir, tafakur, dan bertanya. Kalau cahaya itu agama, maka akal adalah mata. Cahaya tanpa mata tetap gelap,” tegasnya.

Filsafat dan Agama, Bukan Dua Kutub yang Bertentangan

Bagi sebagian umat, filsafat sering dianggap sebagai aliran yang jauh dari agama, bahkan bisa menyesatkan.

Namun menurut Dr. Faiz, pandangan ini keliru. Filsafat justru memperdalam pemahaman tentang iman.

Dalam sejarah Islam, para filsuf besar seperti Al-Farabi, Al-Ghazali, Ibnu Sina, hingga Ibnu Rushd, telah menunjukkan bahwa iman dan nalar bisa berjalan berdampingan.

“Banyak yang salah paham. Mereka kira filsafat itu membingungkan, atau mengajak kita ragu terhadap agama. Padahal, filsafat itu metode berpikir jernih untuk memahami kebenaran yang dibawa agama itu sendiri,” jelas Faiz.

Ia menegaskan, banyak kekeliruan dan radikalisme terjadi justru karena umat beragama tidak dilatih untuk berpikir, melainkan hanya menerima ajaran tanpa perenungan. Hal ini membuat agama mudah disalahartikan bahkan dijadikan alat konflik.

Beragama dengan Nalar: Kritik terhadap Fanatisme Simbolik

Fahruddin Faiz juga menyoroti fenomena umat yang terlalu fanatik terhadap simbol agama, namun kehilangan makna spiritual yang sebenarnya.

Ia menyayangkan masih banyak orang yang taat secara lahiriah rajin salat, puasa, dan berhijab namun hatinya kering dari kasih sayang, toleransi, dan kebijaksanaan.

“Simbol agama itu penting, tapi jangan hanya berhenti di sana. Islam bukan hanya tentang cara berpakaian atau ucapan salam. Tapi tentang bagaimana kamu bersikap terhadap sesama, bagaimana kamu berpikir tentang Tuhan dan kehidupan,” ujar Faiz.

Menurutnya, agama yang tidak didasari perenungan bisa menjelma menjadi dogma kaku. Umat bisa kehilangan kemanusiaannya karena terlalu larut dalam semangat simbolik yang kosong makna.

Masjid Sebagai Pusat Intelektual, Bukan Sekadar Tempat Ibadah

Uniknya, pendekatan filsafat Faiz justru disampaikan di tempat yang tidak biasa: masjid. Ia memelopori kajian filsafat terbuka di Masjid Jenderal Sudirman Yogyakarta sejak 2013.

Di tengah anggapan bahwa masjid hanya untuk pengajian fiqih atau dakwah konvensional, Faiz menjadikannya ruang untuk berpikir, berdiskusi, dan menyelami pemikiran para pemikir besar.

“Dulu, masjid adalah pusat peradaban. Di zaman Nabi, masjid bukan hanya tempat shalat, tapi juga pusat belajar, berdiskusi, dan menyusun strategi kehidupan. Saya ingin menghidupkan itu kembali,” ungkapnya.

Kini, kajian Ngaji Filsafat miliknya rutin dihadiri ratusan jamaah lintas usia dan profesi. Bahkan, tayangan di kanal YouTube-nya telah ditonton jutaan kali. Ini menunjukkan bahwa kerinduan terhadap pemahaman agama yang dalam dan rasional masih sangat besar di tengah masyarakat.

Akal adalah Amanah Ilahi

Dalam banyak kesempatan, Fahruddin Faiz menekankan bahwa akal bukan hanya karunia, tapi amanah dari Allah.

Akal tidak boleh ditinggalkan dalam proses beragama, sebab Allah sendiri dalam Al-Qur’an berulang kali memerintahkan manusia untuk berpikir (ta’qilun, yatafakkarun, yandzurun).

“Beragama tanpa berpikir itu berbahaya. Mudah tersulut emosi, gampang mengkafirkan orang, dan bisa jadi alat penindasan. Justru Allah memerintahkan kita berpikir, merenung, dan mencari kebenaran dengan hati yang bersih,” kata Faiz.

Bagi Faiz, iman yang tidak disertai akal hanya akan menciptakan kepatuhan kosong, bukan cinta dan kesadaran. Sebaliknya, iman yang disinari akal akan melahirkan pemahaman yang mendalam, ikhlas, dan membebaskan.

Filsafat sebagai Jembatan antara Agama dan Kehidupan

Di tengah berbagai tantangan zaman seperti dekadensi moral, ekstremisme, polarisasi politik, dan krisis identitas pemikiran seperti yang dibawa Dr. Fahruddin Faiz menjadi oase. Ia mengajarkan bahwa agama harus menjadi jalan kebijaksanaan, bukan alat perpecahan.

“Agama itu cahaya. Tapi kalau cahayanya tidak diterima dengan mata yang sehat (akal yang jernih), maka yang ada hanyalah kegelapan yang mengaku sebagai terang,” pungkasnya.

Pemikiran Dr. Fahruddin Faiz membuktikan bahwa Islam adalah agama yang rasional, mendalam, dan penuh cinta. Ia mengajak umat untuk tidak hanya taat secara lahiriah, tetapi juga merenungi, menggali, dan memahami ajaran secara hakiki.

Di masjid, di kelas, dan di dunia maya, Faiz terus menebar pesan bahwa iman tanpa akal adalah rapuh, dan akal tanpa iman adalah hampa. Maka, di sinilah filsafat menjadi jembatan suci antara keduanya mewujudkan manusia yang berpikir, beriman, dan berperadaban. (Labib azka)

Editor : Mahendra Aditya
#kata kata bijak #agama #islam #Fahrudin Faiz #religi #Filsafat