Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Tiga Hari Tasyrik Setelah Idul Adha: Pahala Melimpah, Larangan Puasa, dan Amalan yang Jangan Dilewatkan!

Mahendra Aditya Restiawan • Sabtu, 7 Juni 2025 | 16:28 WIB

Ilustrasi: Berdoa. (Freepik)
Ilustrasi: Berdoa. (Freepik)

RADAR KUDUS – Setelah gema takbir Idul Adha menggema pada 6 Juni 2025, umat Islam kembali disambut dengan momen ibadah penuh keutamaan: Hari Tasyrik.

Tiga hari beruntun ini — 7, 8, dan 9 Juni 2025 — bukan sekadar hari biasa. Inilah waktu yang disebut Rasulullah ﷺ sebagai hari raya kedua setelah Idul Adha, yang penuh berkah dan pahala.

Hari Tasyrik berlangsung pada tanggal 11, 12, dan 13 Zulhijah, mengikuti Idul Adha di 10 Zulhijah. Dalam kalender masehi tahun ini, hari-hari tersebut jatuh pada 7 hingga 9 Juni 2025.

Meski tidak sepopuler hari raya kurban, Hari Tasyrik menyimpan makna spiritual yang mendalam. Ia menjadi kelanjutan dari semangat berkurban, menguatkan zikir, mempererat kepedulian sosial, serta menyempurnakan ibadah haji bagi yang menunaikannya.

Namun, hari ini juga menyimpan aturan penting yang tidak boleh dilanggar, seperti larangan berpuasa.

Baca Juga: Buruan! Klaim Kode Redeem FF MAX Hari Ini, Ini Item Eksklusif yang Bisa Kamu Dapatkan


Kenapa Hari Tasyrik Istimewa? Ini Keutamaannya

Menurut berbagai riwayat, amal ibadah pada Hari Tasyrik bernilai sangat tinggi. Rasulullah ﷺ menegaskan bahwa amalan yang dilakukan pada hari-hari ini lebih utama dibandingkan hari-hari lainnya.

"Tidak ada amal yang lebih dicintai Allah selain yang dilakukan pada hari-hari ini,” sabda Nabi ﷺ, sebagaimana diriwayatkan dari Ibnu Abbas (HR. Bukhari).

Ini adalah momentum emas untuk meningkatkan kualitas ibadah: bukan hanya takbir dan zikir, tetapi juga amal sosial seperti sedekah, silaturahmi, hingga membaca Al-Qur’an.


Larangan Puasa: Waktu untuk Merayakan dan Bersyukur

Satu hal penting: berpuasa pada Hari Tasyrik dilarang keras. Ini bukan sekadar soal aturan, tapi bentuk penghormatan terhadap hari raya itu sendiri.

Dalam hadis riwayat Bukhari, Rasulullah ﷺ hanya memperbolehkan puasa pada hari Tasyrik bagi orang yang tidak mampu menyembelih hewan kurban saat berhaji.

Hari Tasyrik bahkan disebut sebagai hari untuk “makan dan minum,” sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:

“Hari Arafah, Idul Adha, dan Hari Tasyrik adalah hari raya bagi umat Islam — hari-hari makan dan minum.” (HR. An-Nasa’i)

Dengan kata lain, ini bukan waktunya menahan lapar, tapi saatnya berbagi kenikmatan dari hasil kurban dan mensyukuri nikmat Allah.


Amalan Paling Dianjurkan di Hari Tasyrik

Untuk memaksimalkan pahala di Hari Tasyrik, umat Islam dianjurkan melakukan beberapa amalan utama. Inilah saat terbaik untuk mendekatkan diri kepada Allah sekaligus memperkuat hubungan sosial sesama manusia.

1. Bertakbir Setelah Salat

Salah satu amalan yang sangat dianjurkan adalah memperbanyak takbir, khususnya setiap selesai salat fardhu. Tradisi ini berasal dari para sahabat Nabi seperti Ibnu Umar dan Abu Hurairah, yang bahkan bertakbir di pasar untuk mengajak orang ikut berdzikir.

“Hari-hari tertentu dalam Surat Al-Baqarah ayat 203 dimaknai oleh Ibnu Abbas sebagai Hari Tasyrik, waktu di mana kita diperintahkan untuk mengingat Allah.” (HR. Bukhari)

2. Zikir: Tahlil, Tahmid, Takbir

Hari Tasyrik juga menjadi ladang pahala bagi siapa pun yang memperbanyak tahlil (Laa ilaaha illallah), tahmid (Alhamdulillah), dan takbir (Allahu Akbar). Ini bukan hanya rutinitas, tapi pengingat makna hidup sebagai hamba yang bersyukur.

Dalam riwayat Ibnu Umar disebutkan: “Perbanyaklah tahlil, tahmid, dan takbir pada hari-hari ini.”

3. Amal Sosial dan Ibadah Sunnah

Tidak ada ibadah yang sia-sia selama Hari Tasyrik. Membaca Al-Qur’an, membantu tetangga, menyantuni yatim, hingga mempererat silaturahmi — semuanya bernilai lebih dibanding hari biasa.

Menurut ulama Ibnu Abi Jamrah: “Setiap amal pada Hari Tasyrik lebih utama daripada amal serupa di hari lainnya.” (Al-Asqalani, Fathul Bari)

Baca Juga: Surga di Tanah Papua, Raja Ampat Terancam Tambang Nikel, Apa Tindakan Pemerintah?

4. Penyembelihan Kurban Masih Dibuka

Belum sempat berkurban di 10 Zulhijah? Tenang. Penyembelihan hewan kurban masih dibolehkan hingga akhir Hari Tasyrik (13 Zulhijah atau 9 Juni 2025). Ini sesuai dengan perintah dalam QS. Al-Kautsar ayat 2:

“Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu dan berkurbanlah.”


Hari Tasyrik: Momentum Bersyukur, Bukan Sekadar Ritual

Hari Tasyrik bukan hanya lanjutan dari Idul Adha, tetapi juga refleksi spiritual tentang makna pengorbanan, syukur, dan kepedulian. Umat Islam tidak hanya dilarang berpuasa, tetapi justru diajak untuk merayakan kehidupan — dengan makan, minum, dan berbagi.

Maka selama 7–9 Juni 2025 ini, manfaatkan Hari Tasyrik dengan:

Jadikan tiga hari istimewa ini sebagai batu loncatan untuk menjadi pribadi yang lebih bertakwa dan peduli. Karena sejatinya, setiap detik dalam Hari Tasyrik adalah peluang pahala yang tidak datang dua kali.


Jangan Lewatkan Hari Tasyrik 2025! Bukan Sekadar Tradisi, Tapi Ladang Pahala dan Spirit Perubahan Diri.

Editor : Mahendra Aditya
#Makna dan Asal Usul Penamaan Hari Tasyrik #Hari Tasyrik memiliki hubungan erat dengan perayaan Idul Adha #Amalan yang dianjurkan pada Hari Tasyrik #Umat Islam Dilarang Berpuasa Saat Hari Tasyrik #keistimewaan hari tasyrik #Hari Tasyrik Idul Adha 2025 #Hari Tasyrik Idul Adha #amalan yang dianjurkan selama hari tasyrik #Kapan Hari Tasyrik #Ibadah selama Hari Tasyrik #arti hari tasyrik #Larangan puasa saat Hari Tasyrik #Penjelasan Mengenai Hari Tasyrik #jadwal hari tasyrik #Keutamaan Hari Tasyrik #amalan hari tasyrik #Hari Tasyrik adalah #Berdoa di Hari Tasyrik