RADAR KUDUS - Banyak yang tidak tahu, tapi tradisi menahan makan sebelum Salat Idul Adha bukan sekadar formalitas. Ada makna spiritual yang dalam dan penuh pelajaran hidup di baliknya.
Di tengah gegap gempita Hari Raya Idul Adha, ada satu sunah yang kerap terabaikan: menunda makan hingga setelah salat Id.
Ini jelas berbeda dengan Idul Fitri, di mana umat Muslim dianjurkan menyantap makanan terlebih dahulu sebagai penanda berakhirnya bulan Ramadan. Tapi mengapa pada Idul Adha justru sebaliknya?
Baca Juga: Jangan Lewatkan Puasa Hari Arafah! Ini Amalan yang Bisa Hapus Dosa Dua Tahun Sekaligus
Jawabannya tidak sekadar ritual. Ia adalah simbol, pesan, dan pengingat spiritual yang sangat kuat.
Bukan Sekadar Lapar, Tapi Tanda Ketundukan
Pada Hari Raya Idul Adha, Rasulullah SAW secara tegas mencontohkan untuk tidak makan pagi terlebih dahulu sebelum salat Id dan penyembelihan kurban. Hadis dari Buraidah RA menyatakan:
"Nabi tidak keluar pada hari Idul Fitri hingga beliau makan, dan beliau tidak makan pada hari Idul Adha sampai kembali (dari salat)." (HR. Tirmidzi no. 542, Hasan)
Dalam riwayat lain, disebutkan bahwa Rasulullah SAW memulai makan dari daging kurbannya sendiri, sebagai bentuk rasa syukur atas rezeki dan nikmat Allah SWT (HR. Ahmad & Ibnu Majah).
Filosofi Perut Kosong: Menanti Rezeki dari Allah
Menunda makan bukan berarti menyiksa diri. Justru, ini adalah simbol kesiapan untuk berkurban.
Umat Islam datang ke lapangan salat dengan perut kosong, sebagai tanda penyerahan total kepada Allah.
Dalam keadaan itu, hati menjadi lebih peka, lebih tunduk, dan lebih siap menyambut makna sejati dari kurban: pengorbanan, keikhlasan, dan ketaatan.
Setelah salat, menyantap daging kurban bukan hanya soal makan. Itu adalah momen syukur yang dalam, bahwa rezeki yang datang bukan karena usaha semata, tapi karena karunia dari Allah SWT.
Perbedaan yang Bermakna: Idul Fitri vs Idul Adha
Seringkali masyarakat menyamakan dua hari besar ini. Padahal, keduanya memiliki makna spiritual yang sangat berbeda.
-
Idul Fitri menandai kemenangan setelah satu bulan berpuasa. Maka makan sebelum salat adalah bentuk selebrasi bahwa larangan makan-minum di siang hari telah berakhir. Dalam hadis riwayat Bukhari no. 953, disebutkan Rasulullah memakan beberapa butir kurma (jumlah ganjil) sebelum berangkat salat Idul Fitri.
-
Idul Adha, sebaliknya, adalah puncak dari ibadah haji, momentum totalitas pengorbanan. Oleh sebab itu, sunahnya adalah menahan diri dulu, hadir salat dengan kerendahan hati, lalu menyambut daging kurban sebagai simbol rezeki dari Allah.
Hikmah Besar di Balik Sunah yang Terlihat Sederhana
Makan atau tidak makan sebelum salat mungkin terdengar sepele. Tapi Islam selalu menanamkan makna pada setiap perbuatan. Lewat perut yang kosong di pagi Idul Adha, umat Islam dilatih untuk:
-
Mengendalikan hawa nafsu
-
Menanti rezeki dengan tawakal
-
Meresapi makna pengorbanan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail
-
Menyambut kurban dengan rasa syukur dan ikhlas
Dengan memahami ini, kita tidak hanya menjalankan ibadah sebagai formalitas, tapi juga memperdalam keimanan dan spiritualitas.
Baca Juga: Cuma Masukkan NIK! Begini Cara Mudah Cek Penerima BSU Rp600 Ribu Lewat Situs Kemnaker
Jangan Asal Ikut Tradisi, Resapi Maknanya
Idul Adha bukan sekadar hari libur atau perayaan penyembelihan hewan. Ini adalah momentum refleksi.
Saat kita menahan diri dari makan pagi, itu adalah latihan menundukkan ego. Saat kita menyantap daging kurban, itu adalah bentuk syukur yang hakiki.
Maka, tahun ini, jangan sekadar ikut-ikutan. Jalankan sunah dengan penghayatan. Biarkan perut kosong di pagi Idul Adha mengajarkan kita makna sejati dari sabar, syukur, dan ketulusan.
Editor : Mahendra Aditya