RADAR KUDUS - Jepara tak hanya dikenal dengan ukiran kayu dan keindahan Pantai Kartini. Kota ini juga menyimpan sejarah panjang dalam bentuk bangunan berarsitektur unik, salah satunya adalah Masjid Astana Sultan Hadlirin di Desa Mantingan, Kecamatan Tahunan.
Masjid ini menjadi destinasi bagi para peziarah dan wisatawan yang ingin menyaksikan langsung akulturasi budaya yang kental di setiap sudutnya.
Kemarin, sejumlah peziarah tampak hilir mudik di pelataran masjid. Beberapa datang dengan keluarga, sementara lainnya tampak khusyuk berdoa di area makam yang berada di kompleks masjid tersebut.
Tak hanya sebagai tempat ibadah, masjid ini juga menjadi rumah peristirahatan terakhir bagi tokoh-tokoh penting dalam sejarah Jepara, termasuk Sultan Hadlirin dan Ratu Kalinyamat.
Akulturasi dalam Arsitektur
Daya tarik utama Masjid Astana Sultan Hadlirin terletak pada keunikan arsitekturnya. Dari jalan raya, pengunjung harus menaiki tangga batu bata yang menyerupai gerbang candi Hindu sebelum sampai ke pelataran masjid.
Begitu memasuki kompleks, bangunan masjid tampak menyerupai pendapa khas Jawa, tetapi dengan ornamen-ornamen beraksen Tiongkok yang menghiasi dinding dan interiornya.
"Masjid Mantingan ini menjadi simbol akulturasi budaya. Dalam pembangunannya, terdapat tiga unsur utama: Hindu, Islam Jawa, dan Tiongkok.
Ini karena arsiteknya, Chi Hui Gwan atau yang lebih dikenal sebagai Patih Sungging Badarduwung, berasal dari Tiongkok," ungkap Sutarya, pengurus Yayasan Masjid Astana Sultan Hadlirin.
Menurut Sutarya, perpaduan tiga unsur budaya ini bukan tanpa alasan. Pada saat masjid ini dibangun, masyarakat Jepara masih banyak yang menganut Hindu.
Dengan menampilkan elemen arsitektur Hindu, masjid ini diharapkan dapat menarik lebih banyak orang untuk datang dan mengenal Islam. Sementara unsur Tiongkok hadir sebagai ciri khas dari sang arsitek.
"Dari pintu masuk, kita sudah bisa melihat pengaruh Hindu dengan adanya gapura tanpa atap, yang sangat khas dengan gaya candi.
Ketika masuk ke area masjid, ukiran-ukiran bernuansa Tiongkok sangat jelas terlihat di dinding dan tiang masjid.
Semua ini dirancang agar bisa mengakomodasi berbagai unsur budaya yang ada pada saat itu," tambahnya.
Dibangun sebagai Bentuk Cinta Ratu Kalinyamat
Masjid Astana Sultan Hadlirin bukan sekadar bangunan bersejarah, tetapi juga simbol cinta dan penghormatan seorang istri kepada suaminya.
Masjid ini didirikan oleh Ratu Kalinyamat pada tahun 1559 sebagai bentuk penghormatan kepada Sultan Hadlirin, suaminya, yang meninggal sepuluh tahun sebelumnya.
Sutarya menjelaskan bahwa Sultan Hadlirin wafat sekitar tahun 1549, dan pada tahun yang sama, Ratu Kalinyamat mengambil alih kepemimpinan Jepara.
"Masjid ini sebenarnya adalah bentuk kenang-kenangan dan ungkapan cinta kasih Ratu Kalinyamat kepada suaminya. Ia ingin memberikan sesuatu yang monumental untuk mengenang Sultan Hadlirin," jelasnya.
Untuk membangun masjid yang megah, Ratu Kalinyamat menunjuk Chi Hui Gwan sebagai arsitek. Dengan keahliannya, ia merancang masjid dengan konsep yang unik dan penuh makna.
Menjaga Keaslian Sejarah
Seiring waktu, Masjid Astana Sultan Hadlirin tetap berdiri kokoh meski mengalami beberapa renovasi.
Namun, elemen-elemen asli sejak masa Ratu Kalinyamat masih tetap dipertahankan, salah satunya adalah ukiran-ukiran khas yang tertempel di dinding masjid.
Karena nilai sejarah dan arsitekturnya yang luar biasa, masjid ini telah ditetapkan sebagai salah satu Benda Cagar Budaya (BCB) tingkat nasional.
Hingga kini, berbagai upaya terus dilakukan untuk menjaga keaslian masjid, baik dari segi bangunan maupun nilai historisnya.
Masjid ini bukan hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga saksi bisu sejarah panjang Jepara, yang mengajarkan bahwa budaya dan agama dapat berbaur harmonis dalam satu kesatuan.
Bagi wisatawan dan peziarah yang berkunjung ke Jepara, Masjid Astana Sultan Hadlirin menjadi destinasi yang wajib dikunjungi.
Selain menyaksikan keindahan arsitektur yang unik, mereka juga dapat mengenang sejarah perjuangan dan cinta seorang ratu kepada suaminya melalui bangunan yang telah berdiri selama berabad-abad ini. (rom)
Editor : Mahendra Aditya