SEMARANG, Radar Semarang – Hujan yang mengguyur Kota Semarang tak menyurutkan semangat umat Hindu dalam melaksanakan upacara Tawur Agung Kesanga pada Jumat (28/3) malam.
Sekitar 200 umat Hindu dengan khidmat mengikuti ritual yang menjadi bagian dari rangkaian menyambut Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1947 ini di Pura Agung Giri Natha.
Di bawah tenda yang telah disiapkan, mereka duduk tertib sambil membawa sesaji, mengikuti setiap tahapan ritual dengan penuh penghayatan.
Tawur Agung Kesanga merupakan ritual spiritual yang bertujuan menyucikan alam semesta sebelum memasuki Catur Brata Penyepian pada Hari Raya Nyepi.
Makna Tawur Agung Kesanga
Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kota Semarang, I Nengah Wirta Darmayana, menjelaskan bahwa Tawur Agung Kesanga memiliki makna mendalam bagi umat Hindu.
Ritual ini merupakan wujud pecaruan atau penyucian alam secara spiritual sebagai bentuk keseimbangan antara manusia dan alam.
“Dalam ritual ini, kita melaksanakan pecaruan, yakni membersihkan alam semesta secara spiritual.
Kita mengungkapkan rasa syukur kepada Sang Hyang Widhi atau Tuhan Yang Maha Esa atas segala berkah yang diberikan serta berusaha menjaga harmoni dengan lingkungan,” ujar Nengah Wirta.
Ia menambahkan bahwa Tawur Kesanga juga bermakna sebagai simbol pembayaran atau ungkapan terima kasih kepada alam semesta.
“Segala sesuatu yang kita miliki, makanan yang kita konsumsi, udara yang kita hirup, semuanya berasal dari alam.
Melalui ritual ini, kita membayar dan menghormati apa yang telah diberikan oleh alam kepada kita,” imbuhnya.
Menyambut Catur Brata Penyepian
Tawur Agung Kesanga juga menjadi bagian dari persiapan umat Hindu dalam memasuki Catur Brata Penyepian. Pada Hari Raya Nyepi, umat Hindu menjalankan empat pantangan atau brata, yakni:
-
Amati Geni, tidak menyalakan api atau listrik,
-
Amati Karya, tidak bekerja atau melakukan aktivitas fisik,
-
Amati Lelungan, tidak bepergian,
-
Amati Lelanguan, tidak bersenang-senang atau menikmati hiburan.
Menurut Nengah Wirta, keempat brata ini bertujuan agar umat Hindu bisa lebih fokus pada introspeksi dan meditasi.
“Ini adalah momen kontemplasi, di mana kita merefleksikan diri, membersihkan hati, serta memperkuat hubungan dengan Sang Hyang Widhi,” tegasnya.
Tema Nyepi Tahun Ini: Mewujudkan Indonesia Emas 2045
Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1947 mengusung tema Manasewa Madawa Sewa Mewujudkan Indonesia Emas 2045.
Tema ini, menurut Nengah Wirta, mencerminkan nilai-nilai pelayanan kepada sesama manusia yang sejajar dengan pengabdian kepada Tuhan.
“Konsep ini sejalan dengan Tri Hita Karana, yaitu menjaga hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam semesta. Kita semua sejatinya adalah saudara, harus saling menghormati dan bekerja sama dalam membangun kerukunan,” ujarnya.
Persiapan Spiritual Melalui Upacara Melasti
Sebelum pelaksanaan Tawur Agung Kesanga, umat Hindu di Kota Semarang juga telah menggelar upacara Melasti di Pantai Marina.
Upacara ini bertujuan untuk menyucikan diri secara spiritual dengan mengambil tirta suci dari laut. Melasti menjadi bagian dari persiapan umat Hindu sebelum memasuki Hari Raya Nyepi.
Meskipun diguyur hujan, semangat dan kekhidmatan umat Hindu dalam menjalankan setiap ritual tetap terasa.
“Kami berharap melalui rangkaian ritual ini, umat Hindu semakin kuat dalam menjalani kehidupan dengan nilai-nilai spiritual yang lebih baik,” pungkas Nengah Wirta.
Dengan semangat kebersamaan dan ketulusan dalam beribadah, Tawur Agung Kesanga di Semarang kembali menjadi bukti bahwa hujan sekalipun tak mampu menghalangi kekhidmatan umat dalam menjaga tradisi dan keimanan mereka. (*)
Editor : Mahendra Aditya