Masjid Agung Baitunnur Blora: Perpaduan Unik Budaya Jawa dan Islam, Atap Runcing Tanpa Kubah!
Eko Santoso• Sabtu, 29 Maret 2025 | 01:24 WIB
MEGAH: Masjid Agung Baitunnur.
BLORA – Masjid Agung Baitunnur Blora bukan sekadar tempat ibadah, tetapi juga cerminan akulturasi budaya Islam dan tradisi Jawa yang masih terjaga sejak abad ke-18.
Dengan atap berundak khas arsitektur Jawa, gapura ala bangunan Hindu, serta ukiran kayu jati yang menghiasi interiornya, masjid ini menjadi bukti kuatnya perpaduan budaya di Nusantara.
Mempertahankan Identitas Jawa dalam Arsitektur Masjid
Dibangun pada tahun 1722, Masjid Agung Baitunnur tetap mempertahankan ciri khas arsitektur Hindu-Jawa.
Salah satu elemen paling mencolok adalah gapura di bagian depan.
Dalam sejarah arsitektur Nusantara, gapura seperti ini umumnya ditemukan di bangunan era Hindu, tetapi dalam perkembangannya juga digunakan dalam beberapa masjid bersejarah di Indonesia.
Ketua Takmir Masjid Agung Baitunnur, Khoirur Rozikin, menuturkan bahwa akulturasi budaya juga terlihat dari bentuk atap masjid yang tidak menggunakan kubah, berbeda dengan masjid-masjid bercorak Timur Tengah.
"Atap bangunan masjid dibuat berundak, berjumlah ganjil, dan dikemas dengan warna khas keemasan," ujarnya.
Bagian dalam masjid pun tak lepas dari sentuhan budaya Jawa. Tiang dan dinding dihiasi ukiran kayu jati yang menggambarkan nilai-nilai Islam yang menyatu dengan budaya Nusantara.
"Bangunan Masjid Baitunnur menggambarkan betapa nilai-nilai Islam dan budaya Nusantara dapat berpadu harmonis," tambahnya.
KUNO: Bangunan lama bagian tengah Masjid Agung Baitunnur yang tidak dipugar
Sejarah Panjang Pemugaran, Dari Masa Kolonial Hingga Modern
Masjid ini telah beberapa kali mengalami pemugaran untuk tetap mempertahankan keasliannya.
Tahun 1774, Bupati Blora saat itu, R.T. Djajeng Tirtonoto, memerintahkan pemugaran yang diabadikan dalam sebuah Surya Cengkala bertuliskan "Catur Pandhita Sabdaning Ratu".
Era Orde Baru (1968 dan 1975), masjid kembali dipugar oleh Bupati Supadhi Yudhodharmo, yang menambahkan sebuah menara di sisi kiri serambi masjid. Penambahan ini semakin memperkuat identitas Islam Nusantara dalam desain masjid.
Pemugaran terakhir dilakukan pada masa pemerintahan Bupati Djoko Nugroho, yang menyesuaikan dengan kebutuhan modern tanpa menghilangkan keaslian arsitekturnya.
KEREN: Bagian dalam Masjid Agung Baitunnur yang direnovasi dipenuhi ukiran dari kayu jati.
Misteri "Dara Ndekem", Masjid yang Terlihat Seperti Merpati
Dalam beberapa referensi, Masjid Agung Baitunnur diyakini dibangun oleh Pangeran Surabahu atau Sunan Pojok.
Uniknya, karena posisi tanah masjid lebih rendah dibanding alun-alun Blora, dari kejauhan bangunan ini tampak seperti burung merpati yang sedang bertengger di sarangnya.
Dalam bahasa Jawa, fenomena ini disebut “Dara Ndekem”, sehingga masyarakat Blora pun menyebutnya sebagai Masjid Dara Ndekem sebelum akhirnya dikenal dengan nama Baitunnur.
Masjid Agung Baitunnur Blora menjadi bukti bahwa Islam dan budaya lokal dapat bersanding tanpa menghilangkan jati diri masing-masing.
Bangunan ini tak hanya menjadi pusat ibadah, tetapi juga saksi bisu perjalanan sejarah panjang Blora dan akulturasi budaya yang lestari hingga kini. (tos)