GAPURA Paduraksa yang mirip dengan gapura yang ada di Menara Kudus, terletak persis depan Masjid At-Taqwa atau yang biasa disebut sebagai Masjid Wali Loram Kulon, sebagasi tempat ibadah yang di bangun di Desa Loram Kulon, Kecamatan Jati, Kudus.
Masjid Wali Loram dibangun pada 1596-1597 oleh seorang Tionghoa Muslim yakni Tjie Wie Gwan.
Masjid ini memiliki gaya arsitektur Jawa-Hindu yang dikombinasikan dengan gaya Timur Tengah.
Terlihat pada serambi masjid dengan ornamen seperti masjid-masjid yang ada di Timur Tengah.
Masjid Wali Loram Kulon dan Gapura Paduraksa termasuk bangunan benda cagar budaya (BCB) yang telah ditetapkan sejak 1992.
Masjid dan gapura tersebut memiliki cerita yang sampai sekarang ini masyarakat Desa Loram Kulon termasuk Loram Wetan, masih melaksanakannya.
Yakni, tradisi Nganten Mubeng atau Kirab Manten di Masjid Wali Loram Kulon.
Juru Perlindungan, Pengembangan dan Pemanfaatan Cagar Budaya Gapura dan Masjid Wali Loram Kulon Afroh Aminuddin, menjelaskan Masjid Wali Loram didirikan pada 1596-1597 masa peralihan Hindu-Budha ke Islam.
Masjid ini dibangun Tjie Wie Gwan, seorang pengembara muslim dari Campa, Tionghoa, yang mendarat di Jepara semasa pemerintahan Ratu Kalinyamat.
Seiring berjalannya waktu, Tjie Wie Gwan yang menjadi orang kepercayaan Sultan Hadirin (suami Ratu Kalinyamat), dipercaya menyebarkan agama Islam di Kudus.
Sultan Hadlirin dibantu oleh Tji Wie Gwan, membangun Gapura Paduraksa yang pada saat itu memang belum membangun sebuah masjid.
Tujuan pembangunan ini adalah untuk menarik perhatian masyarakat sekitar Desa Loram Kulon, yang pada waktu itu memeluk agama Hindu.
Setelah pembangunan gapura paduraksa selesai, banyak masyarakat yang berdatangan untuk menyaksikan kemegahan gapura tersebut.
Pada momentum inilah Sultan Hadlirin mulai merancang pembangunan masjid.
Bersama Sultan Hadirin yang juga menantu Sunan Kudus, Tjie Wie Gwan membuat masjid dengan gapura menyerupai pura di Bali.
Bangunan masjid yang terbuat dari kayu jati, dilengkapi menara, sumur tempat wudhu dan beduk.
Pembangunan Masjid Wali Loram Kulon Kudus sebagai sarana peribadahan dan pembelajaran Islam oleh para santri.
Adanya masjid ini, semakin banyak masyarakat Hindu yang berkunjung dan tertarik masuk Islam.
Berkat jasanya tersebut, Ratu Kalinyamat menganugerahi Tjie Wie Gwan nama baru, Sungging Badar Duwung.
Afroh mengatakan, sekarang ini telah menjadi destinasi wisata religi.
”Banyak orang dari luar Kudus datang ke Masjid Wali Loram Kulon, bahkan sengaja datang di bulan ramai orang menikah untuk menyaksikan langsung tata cara Kirab Manten,” jelasnya. (san)
Editor : Ali Mustofa